Korea Utara Dikabarkan Retas Korea Selatan Untuk Curi Vaksin COVID-19

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang perawat ikut serta dalam latihan simulasi vaksinasi penyakit virus corona (COVID-19) di pusat vaksinasi COVID-19 di Seoul, Korea Selatan, 9 Februari 2021. [REUTERS / Kim Hong-Ji / Pool]

    Seorang perawat ikut serta dalam latihan simulasi vaksinasi penyakit virus corona (COVID-19) di pusat vaksinasi COVID-19 di Seoul, Korea Selatan, 9 Februari 2021. [REUTERS / Kim Hong-Ji / Pool]

    TEMPO.CO, Jakarta - Badan Intelijen Nasional Korea Selatan, NIS, melaporkan Korea Utara berupaya mencuri vaksin COVID-19 Pfizer. Tepatnya, Korea Utara mencoba mencuri data teknologi di balik vaksin COVID-19 Pfizer dengan meretas perusahaan afiliasinya di Korea Selatan. NIS tidak menjelaskan bagaimana dan kapan peretasan terjadi.

    "Kami berhasil mencegah upaya Korea Utara meretas perusahaan Korea Selatan yang ikut mengembangkan vaksin virus Corona," ujar NIS dalam keterangan persnya, dikutip dari kantor berita Reuters, Selasa, 16 Februari 2021.

    Baik Pfizer maupun Pemerintah Korea Selatan belum memberikan keterangan lebih lanjut soal peretasan yang dinyatakan NIS. Namun, perlu diketahui bahwa ini bukan kasus pertama di mana Korea Utara diyakini mencuri data vaksin COVID-19.

    Tahun lalu, Korea Utara dikabarkan mencoba membobol paling tidak sembilan perusahaan farmasi yang mengembangkan vaksin COVID-19. Beberapa di antaranya adalah Johnson & Johnson, Novavax, dan AstraZeneca. Namun, tidak diketahui apakah data tersebut untuk mengembangkan vaksin secara swadaya atau untuk diperjualbelikan.

    Peretasan sendiri bukan praktik asing bagi Korea Utara. Berbagai lembaga intelijen pernah menyatakan Korea Utara kerap menggunakan praktik tersebut untuk memenuhi kepentingannya. Hal itu tak terbatas pada data vaksin COVID-19 saja, tetapi juga hal-hal lain yang bisa menjaga keuangan Korea Utara selama diblokir dari mayoritas perdagangan internasional.

    Perihal COVID-19, Korea Utara belum pernah mengkonfirmasi ataupun mengumumkan angka kasus dan kematian akibat virus tersebut. Namun, menurut berbagai pihak, termasuk NIS, hal itu tak bisa dikesampingkan mengingat Korea Utara sempat melakukan perdagangan internasional dengan Cina sebelum menutup perbatasannya di 2020.

    Korea Utara dikabarkan akan menerima dua juta dosis vaksin AstraZeneca pada semester pertama. Mereka tidak membeli vaksin COVID-19 itu, namun mendapatnya dari lembaga bentukan PBB, COVAX, sebagai sumbangan.

    Baca juga: Korea Selatan Beli Vaksin Covid-19 Novavax dan Pfizer untuk Suntik 23 Juta Orang

    ISTMAN MP | REUTERS



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.