Menlu Iran Zarif Kritik Presiden Macron Soal Kebebasan Berpendapat

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mohammad Javad Zarif melepaskan jabatan sebagai Menteri Luar Negeri Iran, Senin, 25 Februari 2019. Sumber: Pakistan Point

    Mohammad Javad Zarif melepaskan jabatan sebagai Menteri Luar Negeri Iran, Senin, 25 Februari 2019. Sumber: Pakistan Point

    TEMPO.CO, Jakarta -  Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif, mengkritik pernyataan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, sebagai pelanggaran terhadap kebebasan berpendapat terkait pernyataannya dinilai kritis terhadap ajaran Islam.  

    Pernyataan Macron itu terkait kasus tewasnya Samuel Paty, guru sejarah di Paris. Paty dibunuh pemuda asal Chechnya, yang kemudian memenggalnya, karena menunjukkan konten karikatur Nabi Muhammad dalam pengajaran kebebasan berekspresi beberapa waktu lalu.

    "Menghina Muslim adalah penyalahgunaan kebebasan berbicara yang oportunis,", kata Zarif dikutip Reuters, Selasa, 27 Oktober 2020.

    Menurut Zarif, pemeluk Islam kini menjadi korban utama dari ujaran kebencian. Menghina 1,9 miliar warga Muslim dan hal-hal yang mereka anggap suci karena aksi kriminal menjijikkan sekelompok ekstremis merupakan tindakan salah kaprah dalam kebebasan berbicara. "Itu hanya memicu ekstremisme," kata dia. 

    Macron sebelumnya memimpin penghormatan terhadap Paty. Dia juga menyatakan perang terhadap "separatisme Islam",, yang menurutnya mengambil alih beberapa komunitas Muslim di Prancis.

    Imbas pernyataan ini, beberapa negara Muslim menyerukan boikot terhadap produk-produk asal Prancis. Namun hal serupa tidak disuarakan oleh para pemimpin ulama Iran. Beberapa pejabat dan politikus Iran, termasuk kepala parlemen dan pengadilan, mengutuk Macron karena dinilai bersikap "Islamophobia".

    Secara terpisah, Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, juga mengritik Macron sebagia tersesat dalam kritiknya terhadap komunitas Muslim. Dia menyebut Macron mengalami gangguan kesehatan mental sehingga perlu diperiksa. Erdoga juga menyerukan warga Turki memboikot produk asal Prancis. 

    Presiden Palestina Mahmoud Abbas (kanan) menyambut Presiden Prancis Emmanuel Macron di kantornya di Ramallah, Tepi Barat, 22 Januari 2020. [Abbas Momani / Pool via REUTERS]

    Macron telah menarik duta besar Prancis di Ankara karena pernyataan Erdogan. Dia mengatakan Prancis menghormati semua perbedaan dengan semangat damai tapi tdak menerima ujaran kebencian dan membela debat yang masuk akal. “Kami tidak akan menyerah, selamanya,” kata Macron.

    AHMAD FAIZ | REUTERS

    Sumber

    https://www.reuters.com/article/us-france-security-boycott-iran/insulting-muslims-is-an-abuse-of-free-speech-irans-zarif-says-idUSKBN27B1UM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ciri-ciri Berbohong, Perhatikan Bahasa Tubuh Bukan Kata-katanya

    Bahasa tubuh bisa mencerminkan apakah orang tersebut sedang berbohong atau tidak. Berikut ciri-cirinya