Kisah Anak di Meksiko Mengalami Kekerasan dari Orang Tua

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Rumah sakit de Las Margaritas di Meksiko tempat Yaz di rawat. Sumber: google/mirror.co.uk

    Rumah sakit de Las Margaritas di Meksiko tempat Yaz di rawat. Sumber: google/mirror.co.uk

    TEMPO.CO, JakartaAnak perempuan, 7 tahun, dengan nama panggilan Yaz di Meksiko, memohon pada tim dokter yang merawatnya agar dia dibiarkan meninggal. Yaz dirawat di rumah sakit karena mengalami kekerasan seksual dan penyiksaan.     

    Yaz dilarikan ke rumah sakit de Las Margaritas di Pueblo, Meksiko, dalam kondisi yang sudah sangat memprihatinkan. Tim dokter mengatakan Yaz mengalami pendarahan di bagian dalam tubuhnya, satu paru-parunya lumpuh, ada tanda bekas luka bakar dibagian lehernya, sundutan rokok di tangan dan kakinya serta tanda-tanda mengalami kekerasan seksual.

    Ilustrasi perkosaan. (disiniberita)

    Dalam sebuah pernyataan kepada tim penyidik, dokter mengklaim Yaz mengatakan pada para dokter yang merawatnya bahwa dia ingin mati saja. Yaz di bawa ke rumah sakit oleh tetangganya oleh seorang tetangganya yang menyaksikan kebrutalan yang dialami Yaz.

    “Saya ingin mati. Saya tidak mau pulang ke rumah orang tua saya yang terus memukuli saya,” kata Yaz.

    Orang tua Yaz, Rafael N. dan Alejandra N sudah didakwa melakukan kekerasan pada keluarga dan penelantaran anak. Paman Yaz dilaporkan kabur setelah dituduh melakukan kekerasan seksual pada Yaz.

    Sebelumnya pada April 2020 lalu, Yaz sudah menjalani operasi karena mengalami kerusakan usus. Sedangkan pada Februari 2020, dia di bawa ke rumah sakit dengan luka pada kakinya. Ayah Yaz mengatakan istrinya yang telah menyebabkan luka itu.  

    Sejumlah detektif sedang menyelidiki kematian adik Yaz pada Juni 2020 lalu, yang baru berumur tiga tahun. Dalam dokumen disebutkan kematian adik Yaz itu karena sesak nafas yang tidak disengaja. Akan tetapi, kasus ini sudah didesak agar dibuka kembali.

    Aktivis HAM perempuan, Frida Guerrera, sangat yakin ibu Yaz juga seorang korban KDRT dan hidup dalam ketakutan.        

    “Jika saja otoritas di Puebla melakukan tugasnya sejak Januari lalu, di mana momen pertama ada indikasi Yaz mengalami kekerasan seksual, anak ini tidak akan di rawat di rumah sakit sekarang dan Mitzi (adik Yaz) tidak akan meninggal. Tentu saja, ada tanggung jawab institusi di sini,” kata Guerrera.

         

    Sumber: https://www.mirror.co.uk/news/world-news/little-girl-asks-doctors-let-22714996


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Baru Nonton di Bioskop Pasca Covid-19

    Masyarakat dapat menikmati film di layar lebar dalam masa pandemi Covid-19 dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.