Prancis Debat Soal Gender Kata Covid, Maskulin atau Feminin?

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Foto udara menunjukkan lapangan Champs de Mars yang sepi di dekat menara Eiffel di Paris saat lockdown yang diberlakukan untuk memperlambat penyebaran penyakit virus corona (COVID-19) di Prancis, Kamis, 2 April 2020. Kawasan terkenal yang biasanya ramai oleh warga dan wisatawan ini tampak sunyi. REUTERS/Pascal Rossignol

    Foto udara menunjukkan lapangan Champs de Mars yang sepi di dekat menara Eiffel di Paris saat lockdown yang diberlakukan untuk memperlambat penyebaran penyakit virus corona (COVID-19) di Prancis, Kamis, 2 April 2020. Kawasan terkenal yang biasanya ramai oleh warga dan wisatawan ini tampak sunyi. REUTERS/Pascal Rossignol

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketika negara lain memperdebatkan tentang solusi keluar dari krisis virus corona (Covid-19), warga Prancis memperdebatkan soal linguistik apakah gender kata "Covid" digolongkan ke dalam kata maskulin atau feminin.

    Sejak nama pernyakit virus corona dinamakan Covid-19, masyarakat Prancis mulai bingung apakah Covid-19 maskulin atau feminin?
    Apakah orang Prancis menggunakan "le" atau "la" di depan nama penyakit untuk menegaskan gender kata?

    Untuk menuntaskan pertanyaan warga, lembaga bahasa Prancis Académie Française, memutuskan Covid adalah kata feminin meskipun penggunaannya semakin umum dengan artikel maskulin, seperti dilansir dari CNN, 17 Mei 2020.

    Académie Française adalah lembaga Prancis, menjunjung tinggi bahasa Prancis dengan melindunginya terhadap anglisisme atau menyerap kata dari bahasa Inggris. Dalam hal ini, pekerjaan mereka sebagian bergantung pada memilah nomina berdasarkan gender, konstruksi gramatikal yang umum dalam banyak bahasa Romawi.

    Contoh kerja yang dilakukan Académie Française adalah penetapan kata "akhir pekan". Meskipun banyak orang Prancis menggunakan frasa "the weekend" untuk merujuk pada akhir pekan, akademi mendorong masyarakat untuk menggunakan "la fin de semaine," secara harfiah berarti "the end of the week". Ini adalah upaya untuk menghindari penggunaan bahasa Inggris dalam kamus Prancis dan melestarikan bahasa nasional.

    Pembeli mengantre pada hari pembukaan kembali di depan sebuah butik fashion mewah Louis Vuitton setelah Swiss melonggarkan aturan lockdown di Zurich, Swiss, 11 Mei 2020. Antrean di depan butik brand asal Prancis tersebut tampak mengular di hari pertama dibuka kembali. REUTERS/Arnd Wiegmann

    Académie Française terdiri dari 40 anggota terpilih sebetulnya tidak mendikte kata apa yang mesti dipakai di masyarakat, tetapi perdebatan tentang kata Covid membuat mereka turun tangan.

    "Itu bukan 'le Covid-19' tetapi 'la Covid-19', menggunakan artikel feminin," kata Académie Française.

    Lalu bagaimana Académie Française bisa menentukan Covid itu kata feminin?

    Untuk kata singkatan atau akronim, jenis kelamin kata ditentukan oleh kata apa pun yang merupakan inti dari singkatan.

    Contoh yang mereka gunakan adalah CIA, yang memutuskan memakai gender feminin, la CIA.

    Alasannya di Perancis CIA adalah singkatan dari "Agence centrale de renseignement." Karena "agence" (agensi, dalam bahasa Inggris) memiliki jenis kelamin feminin, akronim CIA juga feminin, karenanya "la CIA."

    Contoh lain adalah FBI. Di Prancis, itu "Bureau fédéral d'enquête", dan "biro" adalah maskulin. Jadi, orang Prancis seharusnya mengatakan "le FBI" karena "le" adalah maskulin.

    Lalu munculkah kata Covid-19.

    Covid adalah singkatan dari penyakit coronavirus. Di Perancis, menurut Académie Française, Covid diterjemahkan menjadi "virus maladie provoquée par le corona" yang dalam bahasa Inggris berarti "penyakit yang disebabkan oleh virus corona."

    "Maladie" adalah kata feminin sehingga menggunakan artikel feminin 'la', karenanya "la maladie." Karena itu, Covid harus "la Covid-19," menurut Académie Française.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspada, Penyakit Yang Terabaikan Saat Pandemi Covid-19

    Wabah Covid-19 membuat perhatian kita teralihkan dari berbagai penyakit berbahaya lain. Sejumlah penyakit endemi di Indonesia tetap perlu diwaspadai.