100 Vaksin COVID-19 Dikembangkan, Ahli Sulit Temukan yang Efektif

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi vaksin COVID-19 atau virus corona. REUTERS/Dado Ruvic

    Ilustrasi vaksin COVID-19 atau virus corona. REUTERS/Dado Ruvic

    TEMPO.CO, Jakarta - Organisasi Kesehatan Dunia, WHO mengatakan lebih dari 100 vaksin COVID-19 potensial sedang dikembangkan, termasuk beberapa di antaranya dalam uji klinis, namun para ahli kesulitan menemukan satu yang efektif mengatasi virus ini.

    Ahli darurat WHO, Mike Ryan memberikan gambaran mengenai vaksin untuk penyakit lainnya seperti campak, namun virus itu tak kunjung dapat dihilangkan.

    Saat ini, menurut Ryan adalah melakukan kendali yang sangat signifikan terhadap virus dengan memilih resiko paling rendah dalam membuat langkah pencegahan pandemi virus corona.

    Ryan menjelaskan, membuka perbatasan lebih rendah resikonya daripada membuka penerbangan, tentu dengan tantangan berbeda.

    Rabu kemarin di London, kepala penasehat ilmiah pemerintah Inggris, Sir Patrick Vallance dalam pengarahannya kepada pemerintah Inggris mengenai virus corona mengatakan, dunia tidak akan pernah mengembangkan vaksin virus corona.

    Mengembangkan vaksin COVID-19 merupakan sesuatu yang sangat berat untuk dilakukan.

    "Saya akan mengatakan bahwa ada kemajuan besar yang dibuat, dan sejumlah program vaksin di seluruh dunia sedang berlangsung. Sejauh ini bagus. Saya pikir peluangnya sedikit lebih tinggi daripada anda mendapatkan vaksin, namun anda tidak pernah tahu sampai anda mendapatkannya," kata Vallance sebagaimana dilaporkan Arab News.

    Vallance menambahkan, saat ini ada skema pengembangan obat yang menjanjikan, selain vaksin COVID-19.

    "Saya akan kaget jika kita tidak mengakhirinya dengan sesuatu. Anda bisa berakhir dengan terapi atau vaksin atau keduanya berpotensi," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.