Strategi Distribusi Makanan di Cina Selama Lockdown Virus Corona

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pedagang memberikan barang kepada pembeli melewati barikade di sebuah pasar di Wuhan, Provinsi Hubei, Cina, Rabu, 1 April 2020. Provinsi Hubei khususnya Kota Wuhan ditutup total selama dua bulan saat berjuang melawan virus Corona yang sampai merenggut nyawa 3.193 jiwa warga Hubei. REUTERS/Aly Song

    Pedagang memberikan barang kepada pembeli melewati barikade di sebuah pasar di Wuhan, Provinsi Hubei, Cina, Rabu, 1 April 2020. Provinsi Hubei khususnya Kota Wuhan ditutup total selama dua bulan saat berjuang melawan virus Corona yang sampai merenggut nyawa 3.193 jiwa warga Hubei. REUTERS/Aly Song

    TEMPO.CO, Jakarta - Salah satu kebutuhan paling mendasar selama lockdown virus Corona di Cina adalah makanan.

    Banyak warga di berbagai negara mulai panic buying dan menimbun makanan ketika wabah virus Corona menyebar atau ketika rumor lockdown beredar, termasuk Liu Yilin, seorang pensiunan guru sekolah menengah di Wuhan. Ketika pertama kali mendengar desas-desus tentang penyakit yang sangat menular yang menyebar di kota Cina tengah, ia mulai menimbun persediaan seperti beras, minyak, mie, dan babi serta ikan kering.

    Persiapan ini menyelamatkan pria berusia 66 tahun dari beberapa kepanikan awal ketika kota lockdown pada akhir Januari dan pembeli membanjiri pasar dan mal untuk mengambil persediaan.

    Tetapi seiring berjalannya waktu dan penduduk dilarang meninggalkan rumah, ia menjadi semakin khawatir tentang mendapatkan pasokan sayuran, buah dan daging segar sampai jaringan pengantar pengiriman yang luas Cina menyelamatkannya.

    "Sungguh melegakan bahwa beberapa kelompok pembelian kebutuhan yang diorganisir oleh pekerja komunitas dan sukarelawan tiba-tiba muncul di WeChat (aplikasi media sosial terkemuka) beberapa hari setelah penutupan,” kata Liu. "Layanan pengiriman rumah Cina yang kuat membuat hidup jauh lebih mudah pada saat krisis."

    "Pengiriman ke rumah memainkan peran yang sangat penting di tengah wabah virus Corona. Hingga taraf tertentu, itu mencegah orang kelaparan terutama dalam kasus-kasus ketika pemerintah daerah mengambil tindakan ekstrem untuk mengisolasi orang," kata Hu Xingdou, seorang ekonom politik independen yang berbasis di Beijing, dikutip dari South China Morning Post.

    Menurut Liu, orang-orang di Wuhan selama lcokdown harus tetap berada dalam komunitas tempat tinggal mereka.

    Kontak manusia terbatas pada internet. Penduduk memesan secara online dengan petani, pedagang kecil atau supermarket untuk membeli kebutuhan sehari-hari, dan pekerja komunitas membantu mendistribusikan barang dari kurir.

    Warga menaiki kursi untuk berbelanja di pasar yang masih tertutup barikade di Wuhan, Provinsi Hubei, Cina, Rabu, 1 April 2020. Pemerintah setempat akan membuka Kota Wuhan secara total pada 8 April setelah dinyatakan bebas dari virus Corona. REUTERS/Aly Song

    Setiap pagi, Liu memberikan selembar kertas dengan nama, nomor telepon, dan nomor pesanannya kepada seorang pekerja komunitas yang akan mengambil barang-barang dari seorang kurir di gerbang area perumahan.

    Angkatan kerja yang kaya dan keterbukaan masyarakat terhadap kehidupan digital, Cina telah membangun jaringan pengiriman rumah yang berkembang dengan baik.

    Pendanaan yang luas dari perusahaan teknologi telah diinvestasikan dalam infrastruktur perangkat keras, perangkat lunak untuk meningkatkan logistik dan data besar dan komputasi awan untuk membantu memprediksi perilaku konsumen.

    Menurut raksasa e-commerce JD.com, permintaan untuk e-commerce dan layanan pengiriman melonjak selama wabah COVID-19.

    Perusahaan itu menjual sekitar 220 juta jenis barang antara 20 Januari dan 28 Februari, terutama biji-bijian dan produk susu dengan angka pesanan daging sapi dan pengiriman ayam empat kali lipat dibandingkan dengan tahun lalu.

    Tang Yishen, kepala JD Fresh, anak perusahaan JD.com untuk makanan segar, mengatakan lonjakan permintaan online untuk barang dagangan segar menunjukkan pandemi membantu penyedia e-commerce semakin menembus ke dalam kehidupan pelanggan. "Ini juga membantu produsen pertanian di hulu untuk mengenal dan mempercayai kami," katanya.

    Meituan Dianping, platform e-commerce terkemuka, mengatakan layanan ritel kelontongnya Meituan Instashopping melaporkan pertumbuhan penjualan 400 persen dari tahun lalu di Februari dari supermarket lokal.

    Pada akhir Februari lalu, Meituan, yang menjadi salah satu perusahaan pengiriman makanan terbesar di Cina, mengatakan kepada Business Insider bahwa mereka menerima empat kali lipat jumlah pesanan yang didapat selama periode yang sama tahun lalu.

    Barang-barang paling populer yang dipesan antara 26 Januari dan 8 Februari adalah masker wajah, desinfektan, jeruk keprok, buah-buahan segar dan kentang.

    Untuk menghindari risiko berinteraksi dengan seseorang secara langsung, Meituan untuk pertama kalinya memuat kendaraan tanpa pengemudi dengan parsel untuk dikirim ke stasiun untuk dijemput, menurut laporan Quartz.
    Kekhawatiran pelanggan tentang kontak juga mendorong pengembangan kebijakan keselamatan, termasuk mengenakan sarung tangan dan masker, mendisinfeksi sepeda pengiriman, dan menjaga jarak dari pengirim lain saat berada di jalan.

    Layanan pengiriman makanan Ele.me yang dimiliki Alibaba mengatakan bahwa, antara 21 Januari dan 8 Februari, pengiriman makanan beku naik lebih dari 600 persen tahun ke tahun, diikuti oleh hampir 500 persen pertumbuhan dalam pengiriman produk perawatan hewan peliharaan. Pengiriman makanan segar naik 181 persen sementara pengiriman minuman dan makanan ringan masing-masing naik 101 persen dan 82 persen.

    Warga menaiki kursi untuk berbelanja di pasar yang masih tertutup barikade di Wuhan, Provinsi Hubei, Cina, Rabu, 1 April 2020. Wuhan merupakan tempat virus Corona ditemukan pada akhir 2019 lalu. REUTERS/Aly Song

    Staf pengiriman meninggalkan pesanan di depan gedung, di lift atau tempat penampungan sementara seperti yang diperintahkan oleh klien karena sebagian besar properti tidak lagi mengizinkan mereka masuk.

    Di Shanghai, Ele.me mempekerjakan drone pengiriman untuk melayani orang-orang di bawah karantina di wilayah yang paling terkena dampak.

    Beberapa perusahaan bahkan "berbagi" karyawan untuk memenuhi permintaan tenaga kerja yang meningkat di industri pengiriman makanan.

    Lebih banyak karyawan dari restoran, ritel umum dan bisnis jasa lainnya "dipinjamkan" ke perusahaan pengiriman makanan, yang menghadapi kekurangan tenaga kerja selama wabah, menurut Sandy Shen, direktur penelitian senior di konsultan global Gartner.

    Mo Xinsheng adalah salah satu pekerja "pinjaman" setelah pelanggan berhenti datang ke restoran di Beijing, di mana ia bekerja sebagai asisten dapur.

    "Saya ingin mendapatkan uang dan sementara itu membantu orang-orang yang terjebak di rumah," kata Mo, yang disewa sebagai tukang pos.

    Tetapi sebelum dia bisa mulai bekerja, dia harus menjalani pemeriksaan kesehatan yang panjang sebelum dia diizinkan masuk ke kompleks perumahan.

    Dia juga harus bekerja berjam-jam melawan angin dan dingin musim dingin Beijing dan membawa banyak barang.

    "Saya bekerja sekitar 10 jam setiap hari hanya untuk mendapatkan beberapa ribu yuan sebulan," katanya.

    "Kadang-kadang saya hampir tidak bisa bernapas ketika tangan saya penuh dengan paket beras, minyak dan lainnya. Tapi saya tahu saya melakukan pekerjaan penting, terutama pada saat krisis," kata Mo.

    Namun, Liu, warga Wuhan, mengatakan harga bahan makanan sudah naik dan sayur-sayuran tiga kali lebih mahal ketika virus Corona dimulai, dibanding tahun baru Imlek 2019.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Permohonan Pengembalian Biaya Perjalanan Ibadah Haji 2020

    Pemerintah membatalkan perjalanan jamaah haji 2020. Ada mekanisme untuk mengajukan pengembalian setoran pelunasan Biaya Perjalanan Ibadah Haji.