Presiden Brasil Desak Akhiri Social Distancing, Sebut Corona Flu

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana proyek pengerjaan rumah sakit darurat di Stadion Pacaembu, Sao Paulo, Brasil, Senin, 23 Maret 2020. Stadion ini akan diubah menjadi rumah sakit darurat yang akan menangani pasien terinfeksi virus Corona. REUTERS

    Suasana proyek pengerjaan rumah sakit darurat di Stadion Pacaembu, Sao Paulo, Brasil, Senin, 23 Maret 2020. Stadion ini akan diubah menjadi rumah sakit darurat yang akan menangani pasien terinfeksi virus Corona. REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta -Presiden Brasil Jari Bolsonaro mendesak untuk mengakhiri kebijakan jaga jarak atau social distancing mencegah penularan virus Corona untuk kembali bekerja.

    Bolsonaro mengatakan, dia ingin roda perekonomian terus berjalan seraya menyebut histeria virus Corona sebagai flu kecil. Kebijakan jaga jarak hanya menghambat laju perekonomian Brasil.

    Bolsonaro juga marah terhadap gubernur dan wali kota yang berusaha membuat kota Sao Paulo dan Rio De Janeiro hampir mati untuk menghambat penularan virus Corona.

    Dia kemudian meluncurkan tagar #BrazilCannotStop di iklan televisi. Iklan slogan ini serupa dengan yang terjadi di Milan sebelum orang-orang berjatuhan tewas diserang virus Corona di Italia.

    "Bagi para penjual, bagi para pemilik toko di pusat-pusat kota, bagi pekerja rumah tangga, jutaan orang Brasil, Brasil tidak dapat berhenti," kata iklan itu dengan memperlihatkan ruangan kelas yang ramai dan pasar di jalan-jalan, mengutip laporan Reuters, 27 Maret 2020.

    Iklan itu dibagikan ke media sosial oleh sekutu Bolsonaro termasuk putranya senator Flavio Bolsonaro. Menurut informasi sumber yang mengetahui masalah iklan itu, biaya iklan sebesar US$ 1 juta digelontorkan tanpa berkonsultasi dengan kementerian kesehatan.

    Pejabat di kementerian kesehatan tidak bersedia menanggapi hal itu.

    Gubernur Sao Paulo, Joao Doria, mantan sekutu Bolsonaro yang kini bermusuhan karena penanganan krisis Corona menyebut iklan itu keliru.

    "Lebih dari 50 negara dikarantina. Jadi seluruh dunia ini salah dan satu-satunya orang yang benar adalah Presiden Jair Bolsonaro?" ujarnya.

    Adapun Menteri Keuangan Paulo Guedes mengatakan, pemerintah menawarkan 45 miliar reais, mata uang Brasil, untuk pekerja informal dan UKM. Dan untuk semua pemerintahan yang bertarung melawan virus Corona akan menerima 700 miliar reais selama 3 bulan.

    Pandemi virus Corona di Brasil telah mengalami lonjakan dari 1.891 kasus pada hari Senin lalu menjadi 3.417 kasus kemarin. Sebanyak 92 orang tewas terinfeksi virus itu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kemendikbud, yang Diperhatikan Saat Murid Belajar dari Rumah

    Solusi menghambat wabah Covid-19 diantaranya adalah belajar dari rumah dengan cara menghentikan sekolah biasa dan menggantinya dengan sekolah online.