Efek Sidang Pemakzulan, Trump Minta Pejabat Pentagon Mundur

Presiden AS Donald Trump menyampaikan komentar setelah serangan udara Militer AS terhadap Jenderal Iran Qassem Soleimani di Baghdad, Irak, di Pantai Palm Barat, Florida, AS, 3 Januari 2020. "Soleimani merencanakan serangan yang akan segera terjadi dan mengerikan terhadap para diplomat Amerika dan personel militer tetapi kami menangkapnya dalam suatu aksi dan menghentikannya," kata Trump kepada wartawan di resor Mar-a-Lago. [REUTERS / Tom Brenner]

TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Amerika Donald Trump belum berhenti bersih-bersih jajaran administrasinya usai sidang pemakzulannya berakhir. Kal ini, ia meminta pejabat senior Pentagon, John Rood, mengundurkan diri. Rood sendiri adalah salah satu figur yang mempertanyakan keputusan Trump menahan bantuan militer ke Ukraina tahun lalu.

"Sejauh yang saya ketahui dari Menteri Pertahanan Mark Esper, anda meminta saya untuk mengundurkan diri. Pejabat administrasi senior ditunjuk serta dipilih atas kemauan Presiden. Dengan ini, saya mengajukan pengunduran diri efektif per 28 Februari 2020," tulis Rood dalam surat pengunduran dirinya sebagaimana dikutip dari CNN, Kamis, 20 Februari 2020.

Sebagaimana diketahui, Trump sempat hendak dimakzulkan karena keputusannya menahan bantuan militer ke Ukraina. Diduga, Trump melakukan hal tersebut untuk memaksa pemerintah Ukraina memata-matai dan menginvestigasi Joe Biden atas aktivitasnya di perusahaan gas Burisma. Trump disebut-sebut yakin betul Biden telah melakukan tindak pidana korupsi, walau tak diikuti bukti permulaan yang kuat.

John Rood adalah salah satu pejabat senior Pentagon yang mempermasalahkan keputusan Trump tersebut. Ia, yang berhubungan langsung dengan Ukraina untuk memutuskan apakah mereka layak menerima bantuan, merasa Trump telah melakukan kesalahan. Bagi Rood, menahan bantuan militer ke Ukraina akan memperlemah pengaruh Amerika di Eropa Timur, terutama dalam kompetisi dengan Rusia.

Trump, usai sidang pemakzulan, menegaskan bahwa dia akan menyingkirkan orang-orang yang berseberangan dengannya. Rood adalah salah satu yang beseberangan sehingga banyak yang menduga ia diminta mundur karena protes yang ia layangkan.

Juru bicara Kementerian Pertahanan, Jonathan Hoffman, menyatakan bahwa terlalu spekulatif untuk menyatakan bahwa pengunduran diri Rood berkaitan dengan protesnya. Meski begitu, ia tidak menyangkal bahwa Trump memang meminta mundur. "Saya tidak punya informasi apapun yang berujung pada keputusan tersebut," ujarnya.

Dengan mundurnya Rood, yang bertanggung jawab atas strategi pertahanan Amerika di luar negeri, maka total sudah ada sembilan pejabat mundur dari Pentagon. Hal itu belum menghitung dua pejabat yang dipecat Trump karena bersaksi di sidang pemakzulannya, Alex Vindman dan Gordon Sondland.

Salah satu penasihat Trump menyatakan bahwa aksi bersih-bersih Trump memang diperlukan. Di sisi lain, untuk mengirim pesan bahwa Trump tidak menolerir mereka yang berseberangan dengannya.

"Ini ibarat mengosongkan pipa kotor. Langkah yang diperlukan," ujarnya.

Sementara itu, Trump, via twitter, mengucapkan terima kasih atas jasa Rood ke Amerika selama ini. Namun, ia tidak lupa mengirimkan tautan artikel di mana Rood diragukan bisa membawa agenda politik Trump. "Saya mengharapkan yang terbaik untuknya di masa depan," ujar Trump.

ISTMAN MP






Dunia Melihat Indonesia sebagai Negara Super Power Mini, Apa Maksud Luhut

2 hari lalu

Dunia Melihat Indonesia sebagai Negara Super Power Mini, Apa Maksud Luhut

Luhut Binsar Panjaitan menceritakan beberapa pakar ekonomi di Amerika Serikat memuji kondisi perekonomian Indonesia.


Ancaman Resesi Global 2023, Luhut: Kita Harus Kompak Hadapi Keadaan

2 hari lalu

Ancaman Resesi Global 2023, Luhut: Kita Harus Kompak Hadapi Keadaan

Luhut Binsar Panjaitan meminta Indonesia harus kompak menghadapi ancaman resesi global 2023.


BI Perkirakan Ekonomi Global Tahun Depan Anjlok, Hanya Cina yang Cerah

8 hari lalu

BI Perkirakan Ekonomi Global Tahun Depan Anjlok, Hanya Cina yang Cerah

BI memprediksi ekonomi global tahun depan turun jadi 2,7 persen, bahkan 2,6 persen.


50 Tahun Korea Selatan-Indonesia: Solusi Sikapi Konflik AS-Cina di Indo-Pasifik

13 hari lalu

50 Tahun Korea Selatan-Indonesia: Solusi Sikapi Konflik AS-Cina di Indo-Pasifik

Hubungan Indonesia-Korea Selatan diprediksi kian erat di tengah ketegangan di kawasan Indo-Pasifik antara Amerika Serikat dan Cina.


Pejabat di Amerika Minta Pemulangan Keluarga mantan Anggota ISIS Dipercepat

17 hari lalu

Pejabat di Amerika Minta Pemulangan Keluarga mantan Anggota ISIS Dipercepat

Pemulangan keluarga ISIS ke negara asalnya memakan waktu yang panjang, hingga empat tahun. Padahal kondisi kamp sudah tidak aman


Dampak Inflasi, Pentagon Minta Tambahan Dana Rp624 Triliun

17 hari lalu

Dampak Inflasi, Pentagon Minta Tambahan Dana Rp624 Triliun

Pentagon meminta dana bantuan ke Kongres Amerika Serikat untuk mengatasi inflasi yang melonjak.


Top 3 Tekno Berita Hari Ini: Rudal AS di Jet Tempur Ukraina, Akun TNI AD Diretas

18 hari lalu

Top 3 Tekno Berita Hari Ini: Rudal AS di Jet Tempur Ukraina, Akun TNI AD Diretas

Topik tentang video menunjukkan Ukraina memasang rudal Amerika ke jet-jet tempur Mig mereka menjadi berita terpopuler Top 3 Tekno Berita Hari Ini.


Teror 11 September 21 Tahun Lalu: Detik-detik Penabrakan WTC New York dan Pentagon

19 hari lalu

Teror 11 September 21 Tahun Lalu: Detik-detik Penabrakan WTC New York dan Pentagon

Kejadian rangkaian teror 11 September 2001 atau 11/9 ke Menara WTC New York dan Pentagon itu merenggut 3.000 nyawa dan 6.000 orang lainnya luka-luka.


Ketika Elizabeth 'Ngeprank' Turis AS yang Tak Tahu Ratu Inggris

21 hari lalu

Ketika Elizabeth 'Ngeprank' Turis AS yang Tak Tahu Ratu Inggris

Ratu Elizabeth pernah bertemu seorang turis Amerika Serikat yang tidak mengenalinya dan malah bertanya apakah pernah bertemu pemimpin Inggris itu.


Rumah Detensi Imigrasi untuk Pelanggar Asing

22 hari lalu

Rumah Detensi Imigrasi untuk Pelanggar Asing

Rumah Detensi Imigrasi Amerika Serikat dinilai menjadi praktik yang tidak adil dan tidak manusiawi dalam memenjarakan imigran