Kisah Mahasiswa Indonesia Hadapi Kebakaran Hutan di Canberra

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Hujan es melanda Canberra, ibukota Australia di tengah kebakaran hutan yang parah di musim kemarau awal tahun 2020. [WASISTO RAHADJO DJATI| ANU]

    Hujan es melanda Canberra, ibukota Australia di tengah kebakaran hutan yang parah di musim kemarau awal tahun 2020. [WASISTO RAHADJO DJATI| ANU]

    TEMPO.CO, Jakarta - Kebakaran hutan di Canberra pada musim kering tahun ini dirasakan dampaknya oleh mahasiswa Indonesia yang studi di sana. Ini kebakaran hutan terbesar di ibukota Australia ini dalam dua dekade terakhir. 

    Wasisto Rahardjo Djati, mahasiswa Indonesia yang mengambil program master untuk jurusan Ilmu Politik di Australian National University, ANU tinggal di asrama kampus di distrik Acton.

    Wasisto menuturkan, selama dua hari terakhir gelombang panas di Canberra mencapai suhu 41 hingga 43 derajat Celcius. Sebelumnya, suhu berkisar 35-38 derajat, suhu normal untuk musim kering saat ini.

    "Suhu agak mending hari ini menjadi 31 derajat. Tapi ini masih fluktuatif," kata Wasisto kepada Tempo melalui pesan Whatsapp, Minggu, 2 Februari 2020.

    Pemerintah ibukota Canberra, ACT, menurut Wasis, secara teratur memberikan informasi dan peringatan kepada warga misalnya mengenakan masker jika keluar rumah, tidak mengadakan barbeque di luar rumah, dan berdiam di dalam ruangan tertutup.

    Pihak kampus ANU dan KBRI di Canberra juga secara teratur memberikan informasi.

    "Diminta untuk terus ikuti informasi resmi dan terbaru soal bushfires dari pemerintah ACT, pantau website ESA (Badan Pelayanan Darurat) dan Fires Near Me (aplikasi mobile). Pemerintah ACT sangat responsif. Begitu juga kampus saya," ujar Wasis.

    Peneliti di LIPI ini menuturkan, kawasan terparah berlokasi di Tuggeranong, wilayah selatan Canberra.

    "Jarak dari distrik Acton ke Tuggeranong berkisar 10-20 menit," ujarnya.

    Wasis bahkan sempat "mengungsi" ke Sydney, ibukota negara bagian New South Wales akhir Desember lalu karena kebakaran hutan Canberra yang parah. Namun karena perkuliahan segera dimulai, dia pun kembali ke Canberra.

    Wasis menuturkan, peristiwa yang tidak disangka terjadi kemarin, ketika suhu sangat panas, mendadak turun hujan es di Canberra.

    "Ini the real climate change," ujarnya.

    Noor Wafi Satyonusantoro, mahasiswa Indonesia yang mengambil program master hukum di Universitas Canberra menjelaskan, suhu pada hari Sabtu, 1 Februari 2020 jauh lebih panas dari hari ini.

    "Tepatnya 2 hari kemarin tanggal 31 Januari dan tanggal 1 Februari suhu paling panas, saya seharian di luar rumah dari jam 11 siang sampai jam 12 malam. Suhu terpanas biasanya jam 3-6 sore," kata Wafi dalam wawancara via Whatsapp, Minggu sore, 2 Februari 2020. 

    Pada 31 Januari Wafi menyaksikan warna langit Canberra jauh lebih merah dari biasanya. Warna langit merah itu terlihat dari mana-mana. Wafi tinggal di utara Canberra, atau sekitar 21 kilometer dari titik api terdekat. 

    Meski situasinya sangat panas dan kebakaran hutan di Canberra belum reda, Wafi tetap melakukan aktivitas ke luar rumah dari jam 11 siang hingga jam 12 malam.

    "Saya bekerja," ujarnya. 

    Hari ini, menurut mahasiswa Indonesia ini, ramalan cuaca menyebutkan suhu di Canberra akan panas, namun kenyataannya tidak terlalu panas, langit berawan. Seperti disampaikan Wasis, suhu hari ini 31 derajat Celsius. 

    Kebakaran hutan di Canberra  telah menghanguskan sepertiga wilayah kota itu. Sebelumnya kebakaran melanda wilayah barat dan selatan negara itu. Menurut laporan Reuters, 2 Februari 2020, kebakaran di Canberra memicu kekhawatiran akan masalah kesehatan pernafasan dan kardiovaskular akut.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Curah Hujan Ekstrem dan Sungai Meluap, Jakarta Banjir Lagi

    Menurut BPBD DKI Jakarta, curah hujan ekstrem kembali membuat Jakarta banjir pada 23 Februari 2020.