Inggris Kucurkan Bantuan Rp 137 M ke Etnis Rohingya

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengungsi Rohingya berdoa saat menggelar peringatan 2 tahun kepindahan mereka ke Bangladesh, di kamp pengungsian Kutupalong, Cox's Bazar, Bangladesh, Ahad, 25 Agustus 2019. Meski pemerintah Myanmar ingin memulangkan mereka, namun 3.000 pengungsi Rohingya Etni menolak pemulangan karena kondisi negara bagian Rakhine yang masih bergejolak. REUTERS/Rafiqur Rahman

    Pengungsi Rohingya berdoa saat menggelar peringatan 2 tahun kepindahan mereka ke Bangladesh, di kamp pengungsian Kutupalong, Cox's Bazar, Bangladesh, Ahad, 25 Agustus 2019. Meski pemerintah Myanmar ingin memulangkan mereka, namun 3.000 pengungsi Rohingya Etni menolak pemulangan karena kondisi negara bagian Rakhine yang masih bergejolak. REUTERS/Rafiqur Rahman

    TEMPO.CO, Jakarta - Inggris mengucurkan dana bantuan baru senilai £8 juta atau Rp 137 miliar kepada Program Pangan Dunia PBB atau WFP untuk membantu etnis minoritas Rohingya yang tertindas yang melarikan diri ke Bangladesh. Bantuan Inggris itu disambut positif oleh WFP di Bangladesh yang diserahkan oleh Departemen Pengembangan Internasional Inggris. 

    Diperkirakan sekitar 270.600 pengungsi Rohingya akan mendapatkan bantuan Inggris itu yang dikucurkan selama tiga bulan dalam bentuk e-voucher. Di bawah program ini, para pengungsi Rohingya dapat membeli berbagai bahan makanan dari 25 gerai e-voucher WFP di seluruh kamp pengungsi Rohingya. Keluarga-keluarga yang mengungsi akan menerima uang bulanan US$ 9 atau Rp 124 ribu per bulan per orang yang hanya bisa dibelanjakan di gerai-gerai WFP dengan e-voucher.

    Ribuan pengungsi Rohingya di Bangladesh memperingati tahun kedua pembantaian terhadap etnis itu dengan melakukan aksi turun ke jalan. Sumber: Al Jazeera

    Etnis Rohingya, yang digambarkan oleh PBB sebagai kelompok paling teraniaya di dunia, menghadapi trauma ketakutan akibat serangan yang meningkat dan menewaskan belasan orang dalam kekerasan komunal pada 2012.

    Menurut Amnesty International, lebih dari 750 ribu pengungsi Rohingya yang sebagian besar merupakan perempuan dan anak-anak, melarikan diri dari Myanmar dan menyeberang ke Bangladesh setelah pasukan militer Myanmar diduga melakukan pembantaian terhadap etnis minoritas itu pada Agustus 2017. Hal tersebut menjadikan jumlah orang yang teraniaya di Bangladesh lebih dari 1,2 juta. 

    Menurut laporan Ontario International Development Agency (OIDA) yang berjudul "Migrasi Paksa Rohingya: Pengalaman yang Tak Terungkap", sejak 25 Agustus 2017, hampir 24 ribu etnis Rohingya diduga tewas di tangan pasukan Myanmar. Lebih dari 34 ribu rumah penduduk Rohingya dibakar, sementara lebih dari 114 ribu etnis Rohingya dipukuli. 

    “Sekitar 18 ribu perempuan etnis Rohingya diduga diperkosa oleh tentara dan polisi Myanmar, sementara lebih dari 115 ribu rumah dibakar dan 113 ribu lainnya dirusak,” tulis laporan tersebut.

    Galuh Kurnia Ramadhani | aa.com.tr


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pedoman WHO Versus Kondisi di Indonesia untuk Syarat New Normal

    Pemerintah Indonesia dianggap belum memenuhi sejumlah persyaratan yang ditetapkan WHO dalam menjalankan new normal.