Wabah Virus Corona, Warga Serbu Supermarket untuk Stok Makanan

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Orang-orang yang mengenakan masker berbelanja di sebuah supermarket pada hari kedua Tahun Baru Imlek Cina, setelah merebaknya virus Corona baru, di Wuhan, provinsi Hubei, Cina 26 Januari 2020. [cnsphoto via REUTERS / File Photo]

    Orang-orang yang mengenakan masker berbelanja di sebuah supermarket pada hari kedua Tahun Baru Imlek Cina, setelah merebaknya virus Corona baru, di Wuhan, provinsi Hubei, Cina 26 Januari 2020. [cnsphoto via REUTERS / File Photo]

    TEMPO.CO, Jakarta - Cina meminta kepada para petani untuk meningkatkan produksi sayuran dan akan menghukum mereka yang mengambil untung dari warga yang terjebak di Kota Wuhan setelah ditutup karena virus Corona.

    Pihak berwenang memotong sebagian besar jaringan transportasi ke kota Cina tengah pekan lalu untuk menghentikan penyebaran virus. Ribuan kasus terinfeksi telah dilaporkan di Cina, dan sejumlah kecil di negara-negara lain termasuk Amerika Serikat, Thailand, dan Singapura.

    11 juta penduduk Wuhan berbondong-bondong ke supermarket untuk membeli mie instan, sayuran, dan makanan apapun untuk persediaan makanan mereka.

    Penduduk mengatakan belum ada masalah kekurangan makanan yang parah, meskipun rak-rak cepat ludes ketika barang tiba.

    Shouguang, kota di Provinsi Shandong timur, merupakan tempat produksi sayuran terbesar di Cina dan telah diminta untuk mengirimkan 600 ton sayuran segar ke Wuhan setiap hari dalam 10 hingga 15 hari ke depan, kata seorang pejabat di Sunjiaji, salah satu desa Shouguang. Sunjiaji, yang tanaman utamanya adalah mentimun, ditugaskan mengirim 60 ton dalam waktu kurang dari tujuh jam.

    "Kami mendapat pesanan dari pemerintah kota kami pada Senin jam 11 malam dan kami segera menghubungi petani kami, meminta mereka untuk memetik mentimun semalaman dan membawa panen mereka kepada kami sebelum pukul 6 pagi," kata pejabat yang enggan diungkap identitasnya.

    "Kami akhirnya mengirim 70 ton," katanya. "Kami sedang menunggu pesanan berikutnya."

    Perusahaan makanan dan pertanian terbesar di Cina, COFCO Group dan China Grain Reserves Corporation (Sinograin) Group, telah meningkatkan pasokan beras, daging, dan minyak goreng ke provinsi Hubei, menurut media pemerintah pada Rabu.

    Kementerian Pertanian dan Urusan Pedesaan mengeluarkan pemberitahuan pada hari Kamis dan mendesak departemen terkait untuk berkoordinasi menjaga pasokan sayuran dan harga yang stabil. Daerah lain seperti Xinjiang juga mengirim persediaan.

    Truk pengantar yang membawa makanan dibebaskan dari pembatasan perjalanan jika mereka memiliki izin pemerintah. Pihak berwenang telah menindak kasus kenaikan harga dan mempublikasikannya untuk memperingatkan orang lain.

    Pada hari Selasa, sebuah supermarket di Zhengzhou di Provinsi Henan didenda 500.000 yuan atau sekitar 900 juta rupiah karena menjual kubis Cina seharga 63 yuan atau sekitar 120 ribu rupiah, jauh dari harga 17 yuan atau sekitar 33 ribu rupiah biasa.

    "Pengiriman sayuran hijau ke Wuhan lancar," kata Perdana Menteri Cina Li Keqiang saat berkunjung ke kota minggu ini.

    Namun, banyak penduduk Wuhan khawatir tentang berapa lama karantina kota akan berlangsung, sehingga banyak orang menimbun makanan, kata seorang warga Wuhan. Orang-orang di seluruh Cina telah diperintahkan untuk menjauh dari area publik untuk menurunkan risiko infeksi dan banyak orang tetap tinggal di dalam rumah.

    "Di pagi hari ada sayur-sayuran di supermarket tetapi rak-rak habis dengan cepat karena banyak orang membeli dalam jumlah besar," katanya, menggambarkan toko seperti zona perang. "Anda harus membeli apa pun yang tersisa di rak karena itu juga akan hilang."

    Warga berbelanja di sebuah pasar swalayan di Wuhan, Provinsi Hubei, Cina, 27 Januari 2020. Xinhua/Xiong Qi

    Wushang Group, supermarket lokal terbesar di Wuhan dengan hampir 30 toko, mengatakan tantangan terbesarnya adalah kurangnya staf dan hampir semua karyawan perusahaan telah menjadi petugas pengiriman, memilih untuk menggunakan mobil pribadi mereka untuk mengangkut barang.

    Mobil-mobil mereka kadang-kadang dihentikan oleh polisi karena pembatasan perjalanan, tetapi biasanya dilepaskan jika mereka menjelaskan bahwa mereka mengangkut persediaan, kata seorang staf perusahaan yang hanya memberi nama keluarga sebagai Gan.

    “Pada malam 25 Januari, 400 ton sayuran tiba di Wuhan dari Chongqing dan kami diberi 120 ton,” katanya. Sekitar seratus karyawan Wushang secara sukarela menurunkan dan mengangkut barang. "Rata-rata setiap orang menurunkan lebih dari satu ton sayuran malam itu."

    Kurangnya staf dan layanan pengiriman mengganggu bagian lain dari rantai pasokan makanan di provinsi Hubei, di mana Wuhan adalah ibu kota, kata pegawai yang lain. Sejumlah kota kecil di Hubei juga telah ditutup karena wabah virus Corona.

    Bukan hanya di Cina daratan, di Hong Kong para pembeli juga menyerbu rak-rak makanan dan disinfektan di beberapa supermarket Hong Kong pada hari Rabu, karena penduduk resah tentang wabah virus Corona, meskipun pedagang tetap yakin pasokan akan tetap stabil.

    Penduduk yang khawatir di supermarket ParknShop di Heng Fa Chuen diberitahu oleh staf untuk kembali lebih awal pada hari berikutnya, setelah sayuran terjual habis pada jam 2 siang, menurut South China Morning Post.

    Seorang karyawan, yang menolak disebutkan namanya, mengatakan persediaan tetap sama tetapi permintaan telah melonjak.

    Telur, mie, beras dan bahkan air kemasan telah ludes dari rak-rak di toko, bersama dengan produk desinfektan dan produk segar.

    Hong Kong telah mengkonfirmasi 10 kasus virus Corona. Laporan South China Morning Post merinci 7.894 kasus di seluruh dunia, dengan 7.771 kasus di Cina daratan. Sementara virus Corona telah membunuh 170 orang yang semuanya terjadi di Cina daratan.

    GALUH KURNIA RAMADHANI | REUTERS | SOUTH CHINA MORNING POST


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.