Mantan Putra Mahkota Iran Sebut Rezim Mullah Bakal Runtuh

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mantan Putra Mahkota Iran dalam pengasingan, Reza Pahlevi, memprediksi rezim mullah bakal segera runtuh. Reuters

    Mantan Putra Mahkota Iran dalam pengasingan, Reza Pahlevi, memprediksi rezim mullah bakal segera runtuh. Reuters

    TEMPO.COWashingtonMantan Putra Mahkota Iran dalam pengasingan, Reza Pahlevi, memprediksi rezim mullah di Iran bakal runtuh dalam beberapa bulan mendatang.

    Pahlevi, yang merupakan putra dari Shah Iran Mohammad Reza Pahlevi, mendesak negara Barat seperti Amerika Serikat untuk tidak berdialog dengan pemerintah Iran. Shah Iran jatuh akibat Revolusi Islam Iran, yang dimotor Khomenei pada 11 Februari 1979.

    Dia menilai demonstrasi besar yang terjadi pada November 2019 soal penolakan kenaikan harga BBM dan demonstrasi pada Januari 2020 pasca jatuhnya pesawat penumpang Ukraina, mengingatkanya pada demonstrasi rakyat Iran yang menjatuhkan ayahnya pada awal 1979.

    “Hanya soal masalah waktu saja sebelum mencapai klimaks. Saya kira kita sedang dalam tahapan ini,” kata Pahlevi dalam jumpa pers di Washington tempatnya mengasingkan diri seperti dilansir Times of Israel pada Kamis, 16 Januari 2020.

    Pahlevi, 59 tahun, yang belum pernah menginjakkan kaki di Iran sejak ayahnya jatuh dari kekuasaan dalam Revolusi Islam Iran, mengatakan sudah saatnya masyarakat tidak lagi mendengarkan rezim Iran.

    “Dengan menawarkan negosiasi kepada rezim tanpa prasyarat, Anda mengabaikan tuntutan rakyat untuk dukungan tanpa syarat. Faktanya, Anda mengkhianati mereka dengan mengamokomasi penindas mereka. Perhatian internasional dan solidaritas merupakan hal vital untuk gerakan menggulingkan rezim totalitarianisme,” kata Pahlevi.

    Dia meminta negara-negara Barat tidak melunak terhadap Iran.

    “Seperti rezim ini yang menunjukkan pola perilaku tidak berubah secara konsisten maka demokrasi Barat dalam perilakunya juga harus begitu,” kata Pahlevi.

    Dia mengatakan selama 40 tahun terakhir, para pemimpin negara Barat mencoba menjalin hubungan dengan rezim Iran dalam perdagangan dan diplomasi. Ada beberapa tekanan politik terbatas yang biasanya dilakukan AS. Tapi juga ada upaya pendekatan yang juga dipimpin AS.

    “Semua upaya itu untuk mengubah perilaku rezim. Semua sudah gagal. Saatnya mengakui ini bukan rezim yang normal dan tidak akan mengubah perilakunya,” kata dia.

    Pahlevi menuding selama 40 tahun terakhir ini, rezim Iran mengorbankan rakyat demi kelangsungan kekuasaan termasuk dengan cara membunuh.

    Reza Pahlevi merupakan pewaris dari Tahta Merak atau Peacock Throne dan tinggal di Maryland, AS seperti dilansir Epoch Times.

    “Ini adalah pekan-pekan dan bulan-bulan yang mengawali keruntuhan total, tidak berbeda dnegan tiga bulan pada 1978 sebelum terjadinya revolusi,” kata Pahlevi soal demonstrasi di Iran.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jokowi Memilih Status PSBB, Sejumlah Negara Memutuskan Lockdown

    Presiden Joko Widodo atau Jokowi memutuskan PSBB. Hal itu berbeda dengan sejumlah negara yang telah menetapkan status lockdown atau karantina wilayah.