Oxfam Sebut 2 Ribu Orang Terkaya Setara 4.6 Miliar Orang Miskin

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga tertidur dibawah kolong rumahnya yang dipenuhi dengan sampah di perkampungan pinggiran pelabuhan Paotere Sabutung, Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu 13 April 2016. Perkampungan pesisir kumuh ini dihuni sekitar 200 kepala keluarga yang sebagian besar mata pencariannya adalh nelayan tangkap. TEMPO/Iqbal Lubis

    Warga tertidur dibawah kolong rumahnya yang dipenuhi dengan sampah di perkampungan pinggiran pelabuhan Paotere Sabutung, Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu 13 April 2016. Perkampungan pesisir kumuh ini dihuni sekitar 200 kepala keluarga yang sebagian besar mata pencariannya adalh nelayan tangkap. TEMPO/Iqbal Lubis

    TEMPO.CO, Jakarta - Lembaga donor global Oxfam International melansir ada 2.153 orang kaya di dunia yang mengontrol jumlah uang melebihi uang yang dimiliki 4.6 miliar orang paling miskin pada 2019.

    Dalam laporan yang dirilis menjelang digelarnya pertemuan ekonomi dunia World Economic Forum di Davos, Swiss, pada pekan ini, Oxfam juga menyoroti perempuan bekerja 12.45 miliar jam setiap hari tanpa bayaran atau pengakuan yang layak.

    Dalam laporan berjudul “Time to Care” itu, pengurus Oxfam memperkirakan perempuan berkontribusi sekitar US$10.8 triliun per tahun ke ekonomi dunia dari pekerjaan yang tidak dibayar atau dibayar murah tadi.

    Jumlah ini sekitar tiga kali dari kontribusi sektor industri.

    “Penting bagi kita untuk menggaris-bawahi mesin ekonomi tersembunyi yang sebenarnya yaitu para perempuan yang bekerja tanpa dibayar. Ini harus berubah,” kata Amitabh Behar, CEO Oxfam India, kepada Reuters dan dikutip Channel News Asia pada Senin, 20 Januari 2020.

    Dia menyebut kondisi ini sebagai bentuk ketidaksetaraan ekonomi global.

    CNN melansir 22 pria terkaya dunia memiliki kekayaan melebihi semua perempuan di Afrika, yang jumlahnya sekitar 326 juta menurut data dari PBB.

    Dia mencontohkan seorang perempuan di India bernama Buchu Devi, yang bekerja 16 – 17 jam sehari tanpa dibayar.

    Dia menjemput air dari sumber mata air dengan berjalan sejauh 3 kilometer, memasak, dan menyiapkan anaknya untuk sekolah. Devi juga bekerja dengan bayaran murah.

    “Di sisi sana, Anda melihat para konglomerat berkumpul di Davos dengan menumpang pesawat pribadi, pesawat jet pribadi, dan gaya hidup super kaya,” kata dia.

    Menurut Behar, Devi hanyalah satu individu yang mewakili banyak individu lainnya. “Saya bertemu dengan perempuan seperti ini setiap hari. Ini kisah di seluruh dunia. Kita harus mengubah ini, dan mengakhiri booming konglomerat,” kata dia.

    Solusinya, Behar mengusulkan pemerintah memastikan orang kaya membayar pajaknya. Dana pajak ini lalu digunakan untuk membangun fasilitas air bersih, layanan kesehatan, dan kualitas sekolah lebih baik.

    “Anda lihat di seluruh dunia, ada lebih 30 negara mengalami demonstrasi soal ini. Orang-orang turun ke jalan dan apa yang mereka katakan? Mereka tidak menerima kesenjangan ini. Mereka tidak mau hidup dengan kondisi seperti ini,” kata dia.

    CNN melansir laporan Oxfam ini menunjukkan para pemimpin dunia tidak melakukan tindakan cukup untuk mengatasi kesenjangan antara si kaya dan si miskin. Menurut laporan ini, kesenjangan ekonomi dibangun di atas kesenjangan gender. Ini karena pria diizinkan untuk mendominasi level atas dunia bisnis dan pemerintahan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jokowi Memilih Status PSBB, Sejumlah Negara Memutuskan Lockdown

    Presiden Joko Widodo atau Jokowi memutuskan PSBB. Hal itu berbeda dengan sejumlah negara yang telah menetapkan status lockdown atau karantina wilayah.