Trump Langgar Hukum Internasional Jika Serang Situs Budaya Iran

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden AS Donald Trump menyampaikan komentar setelah serangan udara Militer AS terhadap Jenderal Iran Qassem Soleimani di Baghdad, Irak, di Pantai Palm Barat, Florida, AS, 3 Januari 2020.

    Presiden AS Donald Trump menyampaikan komentar setelah serangan udara Militer AS terhadap Jenderal Iran Qassem Soleimani di Baghdad, Irak, di Pantai Palm Barat, Florida, AS, 3 Januari 2020. "Soleimani merencanakan serangan yang akan segera terjadi dan mengerikan terhadap para diplomat Amerika dan personel militer tetapi kami menangkapnya dalam suatu aksi dan menghentikannya," kata Trump kepada wartawan di resor Mar-a-Lago. [REUTERS / Tom Brenner]

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Pertahanan Amerika Serikat Mark Esper kontra dengan Presiden Donald Trump, dengan mengatakan bahwa AS tidak akan mengincar situs budaya Iran di tengah tensi pasca-kematian Jenderal Qassem Soleimani.

    "Kami akan mengikuti hukum konflik bersenjata," kata Esper pada Senin, seperti dikutip dari CNN, 7 Januari 2020.

    Ketika ditanya apakah itu berarti Amerika tidak akan menargetkan situs budaya Iran, Esper menjawab, "Itulah hukum konflik bersenjata."

    Komentar itu muncul satu hari setelah Trump mengulangi ancamannya untuk menargetkan situs budaya Iran dalam percakapan dengan wartawan di Air Force One.

    "Mereka diizinkan untuk membunuh orang-orang kami, mereka diizinkan untuk menyiksa dan melukai orang-orang kami, mereka diizinkan untuk menggunakan bom pinggir jalan dan meledakkan orang-orang kami, dan kami tidak diizinkan menyentuh situs budaya mereka? Ini tidak bekerja seperti itu," kata Trump, menurut rilis persnya.

    Ancaman Trump telah mendapat kritik karena melanggar hukum internasional untuk menargetkan situs budaya daripada situs militer, dan kebijakan militer AS telah lama menghindari daerah-daerah yang memiliki kepentingan budaya.

    Dua pejabat senior AS mengatakan pada Minggu, ada pertentangan yang meluas dalam pemerintahan untuk menargetkan situs budaya di Iran jika Amerika Serikat melancarkan serangan balasan terhadap Teheran.

    "Tidak ada yang menggerakkan orang-orang seperti kehancuran yang disengaja terhadap situs-situs budaya tercinta. Baik penghancuran monumen keagamaan ISIS atau pembakaran Perpustakaan Leuven di WWI, sejarah menunjukkan lokasi-lokasi penargetan yang memberi makna peradaban tidak hanya tidak bermoral tetapi juga merugikan diri sendiri," salah seorang pejabat.

    "Rakyat Persia memiliki sejarah puisi, logika, seni, dan sains yang sangat berpengaruh dan indah. Para pemimpin Iran tidak memenuhi sejarah itu. Tetapi Amerika akan lebih baik bekerja sama dengan para pemimpin yang menganut budaya Persia, tidak mengancam untuk menghancurkannya," tambah mereka.

    "Konsisten dengan hukum dan norma konflik bersenjata, kami akan menghormati budaya Iran," kata pejabat senior AS kedua.

    Persepolis adalah sebuah kota kuno yang terletak di Iran dan menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO sejak tahun 1979. Reruntuhan Persepolis berada sekitar 60 km utara kota Shiraz dan merupakan salah satu tempat wisata paling populer di Iran. Foto: A. Davey/Creative Commons

    Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo, bagaimanapun, membela Trump pada Ahad bahwa tindakan seperti itu tidak akan melanggar hukum internasional dan sebaliknya menyarankan itu akan menjadi kelanjutan dari upaya pemerintah untuk pencegahan dan pertahanan.

    "Jika kita perlu membela kepentingan Amerika, kita akan melakukannya," katanya.

    Dalam sebuah wawancara terpisah di Fox News pada hari Minggu, Pompeo mengklaim Trump tidak pernah mengatakan dia akan memerintahkan serangan terhadap situs budaya jika mereka menyerang aset Amerika Serikat, pernyataan disampaikan tweet Trump pada hari Sabtu.

    "Mengenai kritik-kritik ini, Presiden Trump tidak mengatakan dia akan menargetkan situs budaya. Bacalah apa yang dia katakan dengan sangat cermat. Kami telah menjelaskan bahwa biayanya, jika mereka menggunakan kekuatan proksi di kawasan itu, tidak akan hanya ditanggung hanya oleh para proksi itu. Mereka akan ditanggung oleh Iran dan kepemimpinannya sendiri," kata Pompeo.

    Dikutip dari New York Times, Trump menulis di Twitter pada 5 Januari bahwa Amerika Serikat akan menargetkan 52 situs Iran (yang melambangkan 52 warga AS yang ditahan saat Revolusi Iran), beberapa di antaranya adalah situs budaya penting Iran.

    Komentar itu menuai protes dari Iran dan musuh Amerika lainnya yang mengatakan mereka menunjukkan bahwa Trump adalah agresor, dan tidak hanya terhadap pemerintah Iran tetapi juga terhadap rakyatnya, sejarahnya dan kebangsaannya. Bahkan beberapa mitra internasional Amerika mengecamnya, dengan Perdana Menteri Boris Johnson dari Inggris memperingatkan AS jika mengincar situs budaya Iran.

    Amerika Serikat adalah penandatangan perjanjian internasional tahun 1954 untuk melindungi kekayaan budaya dalam konflik bersenjata dan telah menjadi pemimpin dalam mengutuk negara-negara dan kelompok-kelompok jahat yang menghancurkan barang-barang antik, termasuk perusakan situs ISIS di Mosul, Irak, dan Palmyra, Suriah, dan pembongkaran Taliban terhadap Buddha Bamiyan yang terkenal di Afganistan pada tahun 2001.

    Iran, rumah bagi salah satu peradaban kuno paling penting di dunia, memiliki 22 situs budaya yang ditetapkan dalam Daftar Warisan Dunia oleh UNESCO, organisasi budaya PBB, termasuk reruntuhan Persepolis, ibu kota Kekaisaran Achaemenid yang kemudian ditaklukkan oleh Alexander the Great . Situs budaya Iran lainnya termasuk Tchogha Zanbil, sisa-sisa kota suci Kerajaan Elam, dan serangkaian taman Persia yang berakar pada zaman Cyrus yang Agung.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dituding Sebarkan Hoaks, Wartawan FNN Hersubeno Dipolisikan PDIP

    DPD PDI Perjuangan DKI Jakarta resmi melaporkan Hersubeno Arief ke Kepolisian. Hersubeno dilaporkan atas dugaan pencemaran nama baik.