Pencemaran Nama Baik, Wartawan di Thailand Divonis 2 Tahun Bui

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suchanee Cloitre, 30 tahun, divonis 2 tahun penjara atas tuduhan finah. Sumber: The Star Online

    Suchanee Cloitre, 30 tahun, divonis 2 tahun penjara atas tuduhan finah. Sumber: The Star Online

    TEMPO.CO, Jakarta - Seorang wartawan televisi, Suchanee Cloitre, pada Selasa, 24 Desember 2019, divonis hukuman dua tahun penjara atas dakwaan melakukan fitnah atau pencemaran nama baik pada sebuah peternakan ayam. 

    Dikutip dari reuters.com, Suchanee, 30 tahun, bekerja di stasiun televisi Voice TV ketika kasus hukum itu dilayangkan padanya. Suchanee mengunggah di Twitter tentang sebuah sengketa hukum atas kondisi kerja di peternakan Thammakaset.      

    “Saya sungguh terkejut dan tidak terfikir hukumannya akan begitu berat,” kata Suchanee, setelah mendengar vonisnya.

    Ilustrasi peternakan ayam. Sumber: The Straits Times

    Atas vonis ini, Suchanee mengkhawatirkan nasib putranya yang baru berumur delapan bulan. Suchanee saat ini bebas dengan uang jaminan, namun dia tetap akan mengajukan banding. 

    Unggahan Suchanee di Twitter berfokus pada keluhan sekelompok pekerja migran asal Myanmar yang mengadukan ke Komisi Nasional HAM Thailand mengenai kondisi kerja di peternakan ayam Thammakaset pada 2016. 

    Pengadilan Thailand dalam putusannya telah memerintahkan agar diberikan uang kompensasi pada para pekerja migran setelah sebelumnya setelah sebelum menolak gugatan pencemaran nama baik untuk melawan para pekerja. Peternakan ayam Thammakaset menyangkal tuduhan yang diarahkan. Peternakan ayam Thammakaset lalu mengajukan gugatan melawan 20 wartawan dan aktivis terhadap kasus ini. 

    Perwakilan Thammakaset belum mau berkomentar atas putusan penjara dua tahun pada wartawan Suchanee.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona COVID-19 Hantam Ekonomi Indonesia pada Maret 2020

    Dampak Virus Korona terhadap perekonomian Indonesia dipengaruhi kondisi global yang makin lesu. Dunia dihantam coronavirus sejak Desember 2019.