Amerika Serikat Mendesak Korea Utara untuk Dialog

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan pemimpin tertinggi Korea Utara, Kim Jong Un, bertemu untuk kedua kalinya di Metropole Hotel pada Rabu malam, 27 Februari 2019. Reuters

    Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan pemimpin tertinggi Korea Utara, Kim Jong Un, bertemu untuk kedua kalinya di Metropole Hotel pada Rabu malam, 27 Februari 2019. Reuters

    TEMPO.CO, Jakarta - Utusan khusus Amerika Serikat untuk Korea Utara, Stephen Biegun, pada Senin, 16 Desember 2019, mendesak Pyongyang agar kembali dialog. Permintaan itu muncul setelah Pyongyang dalam beberapa pekan terakhir melakukan serangkaian uji coba senjata dan perang kata-kata dengan Trump.

    Sebelumnya Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menyebut batas waktu atau deadline bagi Wahington untuk mengubah pendirian adalah akhir tahun. 

    “Amerika Serikat tak punya deadline. Kami punya satu tujuan. Izinkan saya bicara dengan delegasi Anda, ini waktunya bagi kami melakukan tugas kami. Mari kita selesaikan ini. Kami sudah ada disini dan Anda (Pyongyang) bagaimana menghubungi kami,” kata Biegun, seperti dikutip dari reuters.com.  

    Biegun tiba di Ibu Kota Seoul pada Minggu, 15 Desember 2019 di tengah-tengah spekulasi kalau dia akan

    menyelamatkan negosiasi Washington – Pyongyang dengan datang ke Korea Utara, dimana negara itu sudah berjanji akan mengambil langkah sendiri jika Washington gagal melunakkan sikapnya sebelum akhir tahun. 

    Sebelumnya pada Minggu kemarin kantor berita Korea Utara mewartakan Pyongyang sukses melakukan uji coba peluncuran senjata yang ditujukan untuk menahan ancaman nuklir Amerika Serikat. Uji coba senjata hari Minggu itu adalah yang kedua dalam sepekan.

    Seorang petugas kepolisian berjaga di dekat warga yang mengibarkan bendera Korea Utara dan Amerika Serikat saat melihat iring-iringan Kim Jong Un di Hanoi, Vietnam, 26 Februari 2019. Pejabat Vietnam mengatakan bahwa 3.000 jurnalis dari 40 negara bakal meliput KTT kedua antara Trump dan Kim Jong Un. REUTERS/Jorge Silva

          

    Sejumlah pejabat di Seoul waswas ketegangan ini merupakan sinyalemen akan kembali terjadinya ketegangan. Biegun menyayangkan pernyataan Korea Utara dalam beberapa pekan terakhir dan menggambarkan Korea Utara memperlihatkan sikap bermusuhan, negatif dan tidak penting.   

    “Harusnya tidak seperti ini, tetapi ini belum terlalu terlambat,” kata Biegun.

    Sejumlah analis menilai peluang Korea Utara menerima seruan Biegun untuk dialog kemungkinan tipis berkaca pada ucapan Pyongyang yang baru-baru ini disampaikan bahwa Washington tidak punya apa-apa untuk ditawarkan sekalipun dilakukan dialog. Shin Beom-chul, peneliti dari Asan Institute for Policy Studies di Seoul, mengatakan masyarakat Korea Utara melihat Biegun telah menantang Pemimpin Tertinggi mereka dengan mengesampingkan batas waktu. 

    Kim Jong Un dan Trump sudah tiga kali melakukan pertemuan terhitung sejak 2018 untuk mendiskusikan ditutupnya program nuklir dan rudal Korea Utara. Namun rangkaian pertemuan itu belum menunjukkan kemajuan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Komentar Yasonna Laoly Soal Harun Masiku: Swear to God, Itu Error

    Yasonna Laoly membantah disebut sengaja menginformasikan bahwa Harun berada di luar negeri saat Wahyu Setiawan ditangkap. Bagaimana kata pejabat lain?