Balita di Cina Gores Cat Mobil di Showroom, Ayahnya Bayar Denda

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Salah satu mobil Audi yang digores oleh bocah perempuan di Cina. Guilin News

    Salah satu mobil Audi yang digores oleh bocah perempuan di Cina. Guilin News

    TEMPO.CO, Guilin - Seorang lelaki di Guilin, Cina, terpaksa membayar ganti rugi karena anaknya yang masih balita menggores cat sepuluh mobil Audi  menggunakan batu kerikil.

    Bocah perempuan berusia tiga tahun itu berlarian di dalam showroom mobil saat ayahnya sedang bercakap-cakap dengan petugas penjualan.

    “Salah satu mobil yang terkena goresan adalah Audi Q8, yang merupakan keluaran terbaru,” begitu dilansir Asia One pada Rabu, 11 Desember 2019.

    Awalnya dealer mobil meminta ganti rugi sebesar sekitar 200 ribu yuan atau sekitar Rp400 juta sebagai bentuk kompensasi atas kerusakan yang terjadi.

    Media Xiaokang dari Cina melansir orang tua dari bocah perempuan itu menolak untuk membayar sebesar itu.

    Dealer mobil beralasan mobil-mobil baru itu tidak bisa lagi dijual sebagai mobil baru karena telah mengalami pengecatan ulang.

    Ini membuat harga jual mobil terpaksa diturunkan dan calon pembeli harus diberi tahu soal ini.

    Kedua pihak lalu membawa kasus ini ke pengadilan untuk melakukan mediasi. Pada 3 Desember 2019, kedua pihak bersepakat kompensasi yang dibayarkan orang tua dari bocah perempuan tadi adalah sekitar Rp140 juta.

    Hakim memperingatkan pasangan suami istri bahwa alasan anak masih kecil dan tidak mengerti apa-apa tidak bisa digunakan.

    Hakim juga meminta pasangan ini menjaga anaknya dan mengajari untuk menghargai benda-benda di sekelilingnya.

    Sebuah insiden mirip terjadi sehari sebelum peristiwa di dealer mobil Audi ini. Seorang pemuda berusia 22 tahun di Cina mengunci mobil BWM untuk memaksa agar ayahnya mau membelikannya mobil baru. Polisi akhirnya menahan pria itu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.