Menlu Taiwan Sebut Potensi Konflik Militer dengan Cina

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Foto satelit yang dirilis Asian Maritime Transparency Initiative, pada 23 Februari 2016, memperlihatkan Tiongkok kemungkinan sedang membangun instalasi radar di pulau-pulau di kepulauan Spartly di Laut Cina Selatan. Kepulauan Spratly menjadi sengketa antara Tiongkok, Filipina, Taiwan, Vietnam, Malaysia, dan Brunai.  REUTERS/CSIS Asia Maritime Transparency Initiative/DigitalGlobe

    Foto satelit yang dirilis Asian Maritime Transparency Initiative, pada 23 Februari 2016, memperlihatkan Tiongkok kemungkinan sedang membangun instalasi radar di pulau-pulau di kepulauan Spartly di Laut Cina Selatan. Kepulauan Spratly menjadi sengketa antara Tiongkok, Filipina, Taiwan, Vietnam, Malaysia, dan Brunai. REUTERS/CSIS Asia Maritime Transparency Initiative/DigitalGlobe

    TEMPO.COTaipei – Pemerintah Cina bisa menempuh jalur konflik militer dengan Taiwan untuk mengalihkan tekanan domestik jika terjadi perlambatan pertumbuhan ekonomi terbesar kedua dunia itu.

    Menteri Luar Negeri Taiwan, Joseph Wu, mengatakan perlambatan ekonomi Cina itu bisa berdampak pada menurunnya legitimasi Partai Komunis Cina.

    “Jika stabilitas internal menjadi isu serius, atau perlambatan pertumbuhan ekonomi menjadi isu sangat serius bagi para pemimpin tertinggi untuk diatasi, itu merupakan hal yang kami perlu sangat hati-hati,” kata Wu seperti dilansir Reuters pada Kamis, 7 November 2019.

    Wu mengatakan,”Kami harus bersiap untuk situasi terburuk… misalnya konflik militer.”

    Saat ini, perekonomian Cina masih tumbuh namun akan melambat menjadi terlambat dalam 30 tahun terakhir.

    Ini menunjukkan tantangan yang dihadapi Beijing untuk meningkatkan stimulus ekonomi agar pertumbuhan terus berlanjut. Ini merupakan hal fundamental bagi legitimasi politik Partai Komunis Cina.

    Menurut Wu, kondisi ekonomi Cina saat ini terbilang Ok. Namun, dia mendesak semua negara mencermati karena ada masalah di sana seperti pengangguran dan ketidakpuasan umum.

    “Mungkin (Presiden Cina) Xi Jinping sendiri menjadi dipertanyakan legitimasinya karena tidak mampu membuat pertumbuhan ekonomi Cina terus berlanjut,” kata Wu.

    “Ini bisa menjadi faktor yang mungkin digunakan para pemimpin Cina untuk melakukan tindakan eksternal untuk mengalihkan perhatian domestik,” kata dia.

    Selama, militer Cina dianggap Barat bersikap agresif dengan membangun sejumlah pangkalan militer di Laut Cina Selatan. Cina juga memasang sejumlah rudal canggih yang bisa menyasar kapal perang negara Barat seperti Amerika Serikat.

    Menurut Wu, agresi militer Cina di wilayah ini menjadi semakin serius. Dia mengatakan Taiwan berusaha agar perdamaian terus terjadi di Selat Taiwan.

    “Kami berharap Taiwan dan Cina dapat hidup damai. Tapi kami juga melihat ada masalah yang ditimbulkan Cina. Kami berusaha menanganinya,” kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.