Carrie Lam Bela UU Darurat, Warga Hong Kong Menolak

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja kantor anti-pemerintah mengenakan topeng menghadiri protes waktu makan siang, setelah media lokal melaporkan larangan yang diharapkan atas masker wajah di bawah hukum darurat, di Central, di Hong Kong, Cina, 4 Oktober 2019. REUTERS/Tyrone Siu

    Pekerja kantor anti-pemerintah mengenakan topeng menghadiri protes waktu makan siang, setelah media lokal melaporkan larangan yang diharapkan atas masker wajah di bawah hukum darurat, di Central, di Hong Kong, Cina, 4 Oktober 2019. REUTERS/Tyrone Siu

    TEMPO.COHong Kong – Kepala Eksekutif Hong Kong, Carrie Lam, mengatakan Undang – Undang Darurat diterapkan karena sering terjadi kerusuhan besar saat demonstrasi selama beberapa bulan terakhir.

    Layanan transportasi kereta api dan bus terlihat nyaris berhenti total di Hong Kong pasca kerusuhan pada Jumat malam antara demonstran dan petugas polisi.

    Banyak toko dan pusat perbelanjaan yang tutup setelah seorang demonstran remaja berusia 14 tahun tertembak saat berunjuk rasa pasca pengumuman penerapan UU Darurat.

    “Perilaku radikal para perusuh membuat Hong Kong mengalami malam yang sangat gelap dan membuat masyarakat nyaris lumpuh hari ini,” kata Carrie Lam, kepala eksekutif Hong Kong, dalam pernyataan pertamanya pasca penerapan UU Darurat, seperti dilansir Channel News Asia pada Sabtu, 5 Oktober 2019.

    Demonstran menyerang polisi dan membakar beberapa titik di stasiun kereta api, yang menimbulkan kerusakan.

    “Tindak kekerasan ekstrim ini jelas membuat keselamatan publik Hong Kong terancam,” kata Carrie Lam dalam rekaman video yang ditayangkan stasiun televisi setempat.

    Dia melanjutkan,”Ini merupakan alasan kongkrit mengapa kami menerapkan UU Darurat kemarin untuk melarang penggunaan masker.”

    UU Darurat ini, yang pertama kali diterapkan pada 1922 memungkinkan otoritas untuk membuat sejumlah aturan dengan alasan keamanan publik.

    UU Darurat ini dibuat oleh pemerintah Inggris, yang mengontrol Hong Kong saat itu, untuk mencegah nelayan dan pelaut melakukan mogok kerja karena memprotes bayaran yang dianggap terlalu kecil.

    Demonstrasi yang terjadi di Hong Kong saat ini telah berlangsung selama empat bulan untuk menolak legislasi ekstradisi, yang memungkinkan otoritas mengekstradisi tersangka ke Cina jika dianggap melanggar aturan di sana.

    Meski legislasi ini telah ditarik dari parlemen Hong Kong, warga terus berunjuk rasa mendesak diterapkannya sistem demokrasi secara penuh. Mereka menuntut hak untuk memilih sendiri pemimpinnya. Saat ini, kepala eksekutif Hong Kong merupakan pejabat yang ditunjuk oleh Beijing.

    Demonstran kerap berunjuk rasa sambil mengenakan masker untuk menutupi identitas mereka dari petugas polisi. Terlebih, demonstrasi kerap berakhir dengan kerusuhan antara peserta dan polisi.

    Pasca rusuh pada Jumat malam kemarin, otoritas Hong Kong menghentikan nyaris semua layanan kereta api dan bus. Pusat perbelanjaan dan supermarket juga tutup sehingga kota terasa lengang dan sepi pada Sabtu.

    Namun, ribuan warga Hong Kong kembali turun ke jalan memprotes aturan pelarangan penggunaan masker, yang mereka sebut sebagai hak dasar.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Industri Permainan Digital E-Sport Makin Menggiurkan

    E-Sport mulai beberapa tahun kemarin sudah masuk dalam kategori olahraga yang dipertandingkan secara luas.