UEA Bergabung Koalisi Patroli Maritim Amankan Kawasan Teluk

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Amerika Serikat Donald Trump memegang grafik penjualan perangkat keras militer saat berbincang dengan Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman di Gedung Putih, Washington, Amerika Serikat, 20 Maret 2018. REUTERS/Jonathan Ernst

    Presiden Amerika Serikat Donald Trump memegang grafik penjualan perangkat keras militer saat berbincang dengan Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman di Gedung Putih, Washington, Amerika Serikat, 20 Maret 2018. REUTERS/Jonathan Ernst

    TEMPO.CO, Dubai - Pemerintah Uni Emirat Arab mengumumkan rencana bergabung dengan koalisi keamanan maritim global untuk menjaga keamanan di kawasan Teluk.

    UEA bergabung dengan koalisi ini setelah sebelumnya Arab Saudi menyatakan ikut dalam koalisi patroli maritim yang digagas Amerika Serikat.

    “Peristiwa yang terjadi baru-baru ini menggaris-bawahi pentingnya melindungi jalur navigasi perdagangan global dan kebebasan navigasi,” begitu dilansir Mike Pompeo, menteri Luar Negeri Amerika Serikat, saat tiba di UEA setelah berkunjung ke Arab Saudi pada Kamis, 19 September 2019.

    Pompeo juga mengatakan serangan terhadap kilang minyak Saudi bisa menjadi bahan pembicaraan dalam Sidang Umum PBB pada pekan depan di New York. Dia menyarankan Riyadh menggunakan panggung ini untuk menyampaikan masalahnya.

    Sebelum ini, Inggris dan Bahrain telah menyatakan akan berpartisipasi dalam koalisi maritim ini. Namun, mayoritas negara Eropa masih enggan karena tidak ingin meningkatkan ketegangan di kawasan ini. Pemerintah Irak mengatakan tidak ikut dalam koalisi ini dan menolak keterlibatan Israel.

    Ketegangan di Timur Tengah meningkat setelah terjadi serangan drone terhadap kilang minyak Arab Saudi pada Sabtu pekan lalu. Kelompok Houthi, yang berperang melawan pemerintah Yaman, mengaku bertanggung jawab.

    Namun, pemerintah Saudi mengatakan temuan serpihan drone di lapangan menunjukkan serangan dilakukan oleh militer Iran.

    Pemerintah Iran membantah terlibat dalam serangan kilang minyak Saudi. Menlu Iran, Javad Zarif, mengatakan negaranya siap berperang jika diserang koalisi Saudi dan AS.

    “AS sekarang menggunakan minyak sebagai senjata. Minyak bukan senjata,” kata Bijan Zangeneh, menteri Minyak Iran.

    Pemerintah Kuwait, yang bertetangga dengan Saudi, meningkatkan kesiagaan mengantisipasi serangan drone. Sebelumnya, Kuwait mengatakan menginvestigasi adanya deteksi drone melewati wilayahnya.

    Harga minyak kembali melandai setelah sebelumnya sempat naik akibat berkurangnya pasokan minyak dari Arab Saudi ke pasar dunia. Ini karena pemerintah Saudi mengatakan aktivitas kilang yang terkena serangan bisa segera dipulihkan.

    Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Yves Le Drian, mengatakan serangan rudal lintas negara merupakan tindakan perang. Dia meminta investigasi internasional serangan kilang minyak Arab Saudi diselesaikan sehingga diketahui hasilnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.