Setahun Gempa Palu, Warga Cerita Detik-detik Likuifaksi

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Puing yang tersisa di Desa Jono Oge, Kabupaten Sigi, salah satu daerah yang terkena likuifaksi saat gempa Palu 28 September 2018. Foto diambil pada 17 September 2018 saat kunjungan Tempo bersama tim kemanusiaan PBB memperingati setahun gempa Palu.[Eka Yudha Saputra/Tempo]

    Puing yang tersisa di Desa Jono Oge, Kabupaten Sigi, salah satu daerah yang terkena likuifaksi saat gempa Palu 28 September 2018. Foto diambil pada 17 September 2018 saat kunjungan Tempo bersama tim kemanusiaan PBB memperingati setahun gempa Palu.[Eka Yudha Saputra/Tempo]

    TEMPO.CO, JakartaLikuifaksi yang terjadi saat gempa Palu setahun lalu, tepatnya 28 September 2018, membuat tanah bergeser dan berpindah hingga menyebabkan seluruh permukiman hancur.

    Setahun gempa Palu, Tempo bersama rombongan PBB melihat bagaimana situasi terkini wilayah yang terkena likuifaksi pada 17 September 2019.

    Salah seorang warga Desa Jono Oge di Kabupaten Sigi, menceritakan bagaimana kengerian detik-detik likuifaksi di desanya.

    "Saya sekitar jam 3 sore balik ada goyang di pondok saya. Saya waktu itu tinggal di kebun," kata Ibu Aisyah, salah seorang warga desa Jono Oge, menceritakan detik-detik gempa yang mengguncang Palu kepada Tempo.

    "Jam 5 ada kemenakan minta antar ke pabrik tahu, saya antar ke perbatasan Sidera dan Jono Oge. Pas sampai rumah sekitar setengah menit saya merasakan gempa, kita langsung ke luar. Saya melihat tanah keluar lumpur," lanjut Aisyah.

    Suaminya menyuruh Aisyah untuk lari menjauhi tanah. Tapi Aisyah menyempatkan diri kembali ke pondok untuk mengambil telepon genggam.

    "Saya melihat tanah sudah bergelombang," beber Aisyah. Tiba di kantor desa Aisyah dan suaminya bingung melarikan diri kemana.

    Papan peringatan dilarang bermukim yang dipasang pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah di daerah zona terlarang bekas likuifaksi gempa Palu di Desa Jono Oge, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, 17 September 2019.[Eka Yudha Saputra/Tempo]

    Aisyah dan suaminya menyelamatkan diri ke Pembewe, area yang lebih tinggi. Dua minggu kemudian Aisyah kembali ke Jono Oge mendapati rumah papannya hancur dengan lantai semen sudah retak.

    Tempo melihat bagaimana Desa Jono Oge telah rata akibat likuifaksi. Tidak ada yang tinggal di desa bekas likuifaksi sebab pemerintah telah melarang bermukim karena risiko likuifaksi.

    Salah satu rekan jurnalis setempat dan warga Palu, Ikram, mengatakan Dusun 2 Jono Oge yang terkena likuifaksi ditinggali sekitar ratusan rumah.

    "Dulu wilayah ini adalah ratusan rumah sebelum likuifaksi. Pohon-pohon kelapa tadinya berada di bukit sana dan karena likuifaksi bergeser beberapa kilometer sampai ke tanah permukiman," kata Ikram, sambil menunjuk ke arah bukit dan pohon-pohon kelapa yang tampaknya sudah terkubur setengah batang karena tanah likuifaksi.

    Sesuai imbauan Pemprov Sulawesi Tengah, penduduk desa yang selamat kini tak bisa lagi menempati tanah mereka lagi. Papan imbauan dari pemerintah daerah terpasang agar penduduk desa tidak lagi bermukim di kawasan zona terlarang (ZRB 4 Likuifaksi).

    Ada empat desa di Provinsi Sulawesi Tengah yang terkena likuifaksi saat gempa Palu, yakni kelurahan Petobo, Kelurahan Balaroa, Desa Sibalaya, dan Desa Jono Oge.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.