Kematian Robert Mugabe, Ucapan Duka Cita Rusia Jadi Kontroversi

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Zimbabwe Robert Mugabe dan istrinya berada dalam tahanan tentara militer setelah malam terjadinya kerusuhan yang mencakup pengambilalihan televisi milik negara. AP

    Presiden Zimbabwe Robert Mugabe dan istrinya berada dalam tahanan tentara militer setelah malam terjadinya kerusuhan yang mencakup pengambilalihan televisi milik negara. AP

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Rusa Vladimir Putin berduka atas meninggalnya mantan Presiden Zimbabwe Robert Mugabe, 95 tahun, pada Jumat, 6 September 2019 pagi.

    “Banyak peristiwa penting dalam sejarah kontemporer Zimbabwe terkait dengan nama Robert Mugabe. Dia telah memberikan kontribusi pribadi yang besar bagi perjuangan kemerdekaan Zimbabwe dan membangun sejumlah institusi di negara itu,” kata Putin.

    Menurut Putin, masyarakat Rusia akan mengingat Mugabe sebagai pendukung yang konsisten dalam mengembangkan hubungan persahabatan antara kedua negara dan sosok yang telah mencapai banyak hal untuk memperkuat kerja sama bilateral yang saling menguntungkan.

    Mantan presiden Zimbabwe Robert Mugabe.[REUTERS]

    Sebelumnya Cina juga menyampaikan pernyataan duka cita serupa atas kepergian Mugabe ke alam baka. Namun komentar belasungkawa Cina dan Rusia itu membuat marah orang-orang yang pernah menderita di bawah kekuasaan Mugabe.

    Zimbabwe adalah negara bekas jajahan Inggris dan Mugabe memimpin negara itu selama hampir empat dekade atau persisnya setelah merdeka dari Inggris pada 1980. Mugabe dianggap sebagai pahlawan pembebasan Zimbabwe dari penjajahan, namun dia telah menjadi penjahat yang pernah dilarang memasuki Inggris setelah pemilu pada 2002 dan menanggalkan gelar kehormatannya pada 2008. 

    “Akan ada emosi campur aduk di Zimbabwe atas berita ini (kematian Mugabe). Kami tentu saja menyatakan belasungkawa kami kepada mereka yang berduka, tetapi kami pun tahu bagi banyak orang dia adalah penghalang untuk masa depan yang lebih baik,” kata juru bicara Perdana Menteri Inggris Boris Johnson.

    Juru bicara Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengatakan di bawah pemerintahan Mugabe, masyarakat Zimbabwe sangat menderita saat dia malah membuat miskin negara itu. 

    "Pengunduran Mugabe pada 2017 menandai titik balik dan kami berharap hari ini menandai yang lain yang memungkinkan Zimbabwe untuk beralih dari warisan masa lalu dan menjadi negara yang demokratis dan makmur yang menghormati hak asasi manusia warganya,” kata Juru bicara Perdana Menteri Johnson.

    Sumber di Kementerian Luar Negeri Inggris mengakui ada emosi campur aduk di Zimbabwe terhadap kematian Mugabe.

    MIRROR MEIDYANA ADITAMA WINATA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.