Donald Trump Makin Serius Tarik Militer AS dari Afganistan

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Atap istana Darul Aman yang hancur akibat pertempuran di Kabul, Afganistan, 2 Juni 2016. Istana Darul Aman rusak parah akibat pertempuran perang sipil pada 1990-an. REUTERS/Omar Sobhani

    Atap istana Darul Aman yang hancur akibat pertempuran di Kabul, Afganistan, 2 Juni 2016. Istana Darul Aman rusak parah akibat pertempuran perang sipil pada 1990-an. REUTERS/Omar Sobhani

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Selasa, 20 Agustus 2019, menyebut peran militer Amerika Serikat (AS) di Afganistan pada dasarnya telah berubah menjadi sebuah konyolan. Ucapan Trump ini menjadi sinyalemen kalau Presiden Amerika Serikat itu terbuka untuk penarikan pasukan AS di sana setelah 18 tahun perang.

    “Kami sedang berdiskusi dengan baik. Kami akan melihat apa yang terjadi. Sudah 18 tahun. Kami tidak benar-benar berseteru. Kami hampir merupakan pasukan polisi di sana. Kami tidak seharusnya menjadi polisi, "katanya.

    Sebelumnya pada Jumat, 16 Agustus 2019, Presiden Trump mendapat informasi dari para pembantu keamanan nasional Amerika Serikat atas rencana perdamaian yang sedang diupayakan oleh utusan Amerika Serikat untuk Afganistan, Zalmay Khalilzad dengan pucuk pimpinan pemerintah Afghanistan dan kelompok radikal Taliban.

    Utusan khusus Amerika Serikat untuk Afganistan, Zalmay Khalilzad. Sumber: REUTERS/Omar Sobhani/reuters.com

    Sekitar 14.000 tentara Amerika Serikat terlibat dalam perang terlama. Mereka memberikan pelatihan dan masukan kepada pasukan keamanan Afghanistan. Pasukan Amerika Serikat juga melakukan operasi kontra pemberontakan terhadap kelompok-kelompok militan seperti al Qaeda dan kelompok afiliasi lokal Negara Islam.

    Rencana penarikan pasukan militer Amerika Serikat telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan militer Amerika Serikat dan sejumlah anggota parlemen negara itu kalau Afghanistan bakal terperosok dalam perang saudara baru. Mereka juga melihat penarikan pasukan militer Amerika Serikat dari sana malah akan membuat pemerintahan Taliban kembali dan memberikan tempat perlindungan bagi kelompok radikal Al Qaeda dan militan lainnya memperluas dan merencanakan serangan baru terhadap Amerika Serikat.

    "Khalilzad pada Selasa, 20 Agustus lalu sedang melakukan perjalanan untuk melanjutkan pembicaraan dengan Taliban di Doha, Qatar. Ini bagian dari upaya keseluruhan untuk memfasilitasi proses perdamaian dan mengakhiri konflik di Afghanistan," tulis Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat.

    Utusan Amerika Serikat untuk Afganistan, Khalilzad, rencanannya akan berkonsultasi dengan pucuk pimpinan di Afghanistan dan mendorong dilakukan negosiasi antara kedua pihak.

    Trump, yang 'mewarisi' isu Afganistan ini dari mantan Presiden George W. Bush sebagai respon atas serangan 11 September 2001, menyatakan kesediaan untuk memindahkan sejumlah pasukan militer Amerika Serikat di sana. Hanya saja pihaknya harus memastikan Amerika Serikat memiliki intelijen di sana.

    REUTERS MEIDYANA ADITAMA WINATA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gempa Maluku Utara dan Guncangan Besar Indonesia Selama 5 Tahun

    BMKG mengeluarkan peringatan dini tsunami. Peringatan ini menyusul Gempa Maluku yang terjadi di Jailolo, Maluku Utara, Kamis, 14 November 2019.