Atasi Karhutla, BRG Gelar Operasi Pembasahan Gambut

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dalam rakornas pengendalian kahutla di istana negara, Bapak Presiden Joko
Widodo memberikan arahan kepada Kementerian/Lembaga, TNI/Polri dan Pemda. Badan Restorasi Gambut (BRG) diminta melakukan penataan pengelolaan ekosistemgambut secara berkelanjutan.

    Dalam rakornas pengendalian kahutla di istana negara, Bapak Presiden Joko Widodo memberikan arahan kepada Kementerian/Lembaga, TNI/Polri dan Pemda. Badan Restorasi Gambut (BRG) diminta melakukan penataan pengelolaan ekosistemgambut secara berkelanjutan.

    Myrna A. Safitri

    (Deputi Bidang Edukasi, Sosialisasi, Partisipasi dan Kemitraan Badan Restorasi Gambut)

    INFO DUNIA — Dalam kegiatan Rapat Kordinasi Nasional (Rakornas) tentang pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang dilaksanakan di istana negara, Senin, 8 Agustus 2019, Presiden Joko Widodo memberikan empat arahan kepada kementerian/lembaga, TNI/Polri, serta Pemerintah Daerah. Badan Restorasi Gambut (BRG) diminta melakukan penataan pengelolaan ekosistem gambut secara berkelanjutan. Hal ini untuk mengurangi karhutla dengan antara lain melakukan pengecekan rutin dan akurat serta menjaga agar lahan gambut tetap basah terutama di musim kering.

    Kemarau 2019 lebih kering dan panjang. Titik panas juga meningkat. Koran Tempo pada edisi Rabu (7/8) memuat data tentang enam provinsi darurat asap di Sumatera dan Kalimantan. Seluruh wilayah tersebut memiliki ekosistem gambut terdegradasi yang masih rawan terbakar.

    Operasi Cepat

    BRG menyiapkan dua Operasi Cepat Pembasahan Gambut guna mengantisipasi kemarau. Pertama adalah Operasi Pembasahan Cepat Lahan Gambut Terbakar (OPCLGT). Operasi ini bertujuan mengendalikan kebakaran di wilayah kerja restorasi gambut, di mana belum terbangun infrastruktur pembasahan gambut seperti sekat kanal dan sumur bor.

    Kedua adalah Operasi Pembasahan Gambut Rawan Kekeringan (OPGRK). Operasi ini dijalankan pada areal telah terbangun infrastruktur pembasahan namun masih rawan kekeringan. Kedua Operasi Cepat ini telah dijalankan sejak 2018 oleh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang mengelola dana Tugas Pembantuan (TP) Restorasi Gambut.

    Dinas pengelola TP Restorasi di tiap provinsi membentuk Tim Pelaksana OPCLGT atau Tim Pelaksana OPGRK. Pelaksanaan kegiatan dianjurkan bekerja sama dengan kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA), Manggala Agni, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI/Polri, LSM, dan warga setempat.

    Kedua Operasi Pembasahan ini dilengkapi dengan pemantauan tinggi muka air lahan gambut serta kelembaban gambut. BRG melakukan pemantauan dimaksud melalui sistem yang disebut Sipalaga (Sistem Pemantauan Air Lahan Gambut). Khalayak dapat memantau sistem ini secara online melalui situs http://sipalaga.brg.go.id. Data Sipalaga Juli menunjukkan penurunan kelembaban gambut signifikan di Papua, Sumatera, dan Kalimantan yang jadi target restorasi.

    Petani Tidak (lagi) Membakar

    Pengendalian karhutla mensyaratkan perubahan perilaku. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam berbagai kesempatan mengatakan penyebab kebakaran adalah perilaku manusia (99 persen).

    Pembakaran lahan gambut pada ekosistem yang semakin rentan ini tidak dapat ditoleransi. Kesadaran tidak lagi membakar gambut perlu tumbuh pada semua kalangan. BRG sejak akhir 2017 menyelenggarakan Sekolah Lapang Petani Gambut. Tujuannya memperkenalkan teknologi pengolahan lahan tanpa bakar disertai pembuatan dan pemanfaatan pupuk organik dan manajemen pemanfaatan lahan terintegrasi.

    Ratusan petani terlibat dalam Sekolah Lapang ini. Puluhan telah menjadi kader yang menyebarkan pengetahuan dan keterampilan kepada petani lain.

    Keniscayaan Berbagi Air

    Dari 2,67 juta hektare target restorasi gambut, 63 persen ada di areal konsesi perusahaan. Kewajiban restorasi ada pada perusahaan. Terkait dengan hal ini, Peraturan Presiden Nomor 1 Tahun 2016 memerintahkan BRG melakukan supervisi kepada pemegang konsesi dalam melakukan konstruksi, operasi, dan pemeliharaan infrastruktur pembasahannya.

    BRG beri asistensi kepada perusahaan agar dapat membangun infrastruktur pembasahan dengan baik. Para ahli dari berbagai perguruan tinggi dan lembaga riset ikut terlibat di samping perwakilan OPD.

    Berbagi air masih jadi persoalan. Banyak perusahaan masih terfokus pada upaya mengatur tata air di arealnya. Sementara, masyarakat sekitar juga merasakan kekeringan atau kebanjiran.

    Menyelamatkan gambut dari kebakaran adalah mengatur tata air. Perencanaan restorasi dan pemanfaatan lahan gambut berbasis lanskap Kesatuan Hidrologis Gambut harus jadi acuan.

    Di sini, bekerja lintas sektor dan lintas aktor adalah keniscayaan. Mari terus kita kuatkan kerja sama untuk akhiri kebakaran di lahan gambut. (*)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arab Saudi Buka Bioskop dan Perempuan Boleh Pergi Tanpa Mahram

    Berbagai perubahan besar yang terjadi di Arab Saudi mulai dari dibukanya bioskop hingga perempuan dapat bepergian ke luar kerajaan tanpa mahramnya.