Amerika dan Sekutu Salahkan Iran atas Serangan Dua Kapal Tanker

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Serangan pada dua kapal tanker minyak pada hari Kamis di Teluk Oman menyebabkan salah satu kapal terbakar dan keduanya ditinggalkan kru, mendorong harga minyak naik karena kekhawatiran tentang pasokan Timur Tengah. [ISNA / via REUTERS]

    Serangan pada dua kapal tanker minyak pada hari Kamis di Teluk Oman menyebabkan salah satu kapal terbakar dan keduanya ditinggalkan kru, mendorong harga minyak naik karena kekhawatiran tentang pasokan Timur Tengah. [ISNA / via REUTERS]

    TEMPO.CO, Jakarta - Amerika Serikat, Inggris dan Arab Saudi menyalahkan Iran atas serangan dua kapal tanker di Teluk Oman, di sekitar Selat Hormuz, pada Kamis kemarin.

    Masih belum jelas apa yang menimpa kapal tanker Front Altair milik Norwegia atau Kokuka Courageous milik Jepang, yang keduanya mengalami ledakan, memaksa kru untuk meninggalkan kapal dan membuat kapal terapung di perairan antara negara-negara Teluk Arab dan Iran.

    Menurut laporan Reuters, 14 Juni 2019, satu sumber mengatakan ledakan di Front Altair, yang terbakar dan mengirim asap besar ke udara, mungkin disebabkan oleh sebuah ranjau magnetik.

    Baca juga: Dua Kapal Tanker di Teluk Oman Diduga Diserang

    Perusahaan yang mencarter tanker Berani Kokuka mengatakan ditabrak oleh orang yang diduga torpedo, tetapi orang yang mengetahui masalah ini mengatakan bahwa tidak ada torpedo.

    Seorang pejabat AS mengatakan bahwa Amerika Serikat memiliki video yang diduga menunjukkan militer Iran memindahkan ranjau magnetik yang tidak meledak dari sisi kapal tanker Jepang.

    Amerika Serikat, yang menuduh Iran atau proksinya melakukan serangan 12 Mei terhadap empat kapal tanker di lepas pantai Uni Emirat Arab, serta serangan pesawat tak berawak 14 Mei di dua stasiun pompa minyak Saudi, menyalahkan Iran karena serangan Kamis.

    "Ini adalah penilaian pemerintah Amerika Serikat bahwa Republik Islam Iran bertanggung jawab atas serangan yang terjadi di Teluk Oman hari ini," kata Menlu AS Mike Pompeo.

    Baca juga: Empat Kapal Tanker Diduga Disabotase di Selat Hormuz

    Pompeo tidak memberikan bukti eksplisit untuk mendukung pernyataan AS, dan mengklaim informasi berasal dari intelijen.

    Sementara pemerintah Inggris setuju dengan Amerika Serikat bahwa Iran berada di belakang dugaan serangan terhadap dua kapal tanker minyak di Teluk Oman.

    "Kami sangat setuju dengan penilaian AS," twit reporter Inggris, yang mengutip sumber Kementerian Luar Negeri Inggris.

    Kantor Luar Negeri Inggris tidak berkomentar terkait hal ini.

    Serangan itu adalah yang kedua dalam sebulan di dekat Selat Hormuz, jalur air strategis utama untuk pasokan minyak dunia. [ISNA / via REUTERS]

    Arab Saudi juga setuju dengan Amerika Serikat bahwa Iran berada di belakang dugaan serangan terhadap dua kapal tanker minyak di Teluk Oman.

    "Kami tidak punya alasan untuk tidak setuju dengan menteri luar negeri. Kami setuju dengannya. Iran memiliki sejarah melakukan ini," kata Menteri Negara Luar Negeri Arab Saudi Adel al-Jubeir mengatakan kepada CNN pada Kamis.

    "Iran dengan tegas menolak klaim tidak berdasar AS sehubungan dengan insiden tanker minyak 13 Juni dan mengutuknya," kata Delegasi Iran untuk PBB dalam sebuah pernyataan pada Kamis malam.

    Baca juga: Sabotase Kapal Tanker Saudi Picu Kenaikan Harga Minyak Dunia

    Iran menuduh Amerika Serikat dan sekutu regionalnya, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, sebagai penghasut perang.

    Iran menyerukan masyarakat internasional untuk memenuhi tanggung jawabnya dalam mencegah kebijakan dan praktik sembrono dan berbahaya serta praktik Amerika Serikat dan sekutu regionalnya dalam meningkatkan ketegangan di kawasan Timur Tengah, seperti yang dituduhkan atas serangan kapal tanker di Selat Hormuz atau kehadiran militer AS di Teluk.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Upaya Pemerintah Mengolah Sampah Menjadi Bahan Baku PLTSa

    Pemerintah berupaya mengurangi persoalan sampah dengan cara mengolahnya menjadi energi penggerak PLTSa di duabelas kota di Indonesia.