Terpidana Arab Saudi Diduga Disiksa Sebelum Dieksekusi Mati

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Abdulkareem al-Hawaj, salah satu terpidana yang dieksekusi mati Arab Saudi.[CNN]

    Abdulkareem al-Hawaj, salah satu terpidana yang dieksekusi mati Arab Saudi.[CNN]

    TEMPO.CO, Jakarta - Beberapa terpidana mati yang dieksekusi di Arab Saudi pada awal pekan ini diduga disiksa untuk dipaksa mengaku sebelum dieksekusi mati.

    Menurut kesaksian yang diperoleh CNN, dikutip pada 26 April 2019, bahwa mereka sama sekali tidak bersalah berdasarkan pengakuan mereka ditulis oleh orang yang telah menyiksa mereka, dan mereka sempat mengajukan banding.

    Beberapa mengaku memiliki bukti penyiksaan yang dilakukan interogator mereka.

    Namun tidak satu pun dari argumen-argumen ini yang mempengaruhi para hakim yang mengawasi persidangan mereka pada tahun 2016, dan para tersangka dihukum karena kejahatan terkait teror dan dihukum mati.

    Baca: Eksekusi Mati Tuti Tursilawati Tanpa Notifikasi, Ini Alasannya

    Pada hari Selasa, Riyadh mengumumkan bahwa 37 orang telah dieksekusi, termasuk tiga orang yang masih di bawah umur.

    Salah satu dari mereka disalib setelah eksekusi, digantung dan dipajang sebagai peringatan.

    Amnesty International mengatakan yang termuda dari orang yang dieksekusi adalah Abdulkareem al-Hawaj. Dia dituduh berpartisipasi dalam protes ricuh pada usia 16, dan hukuman matinya memicu kemarahan PBB, yang mendesak kerajaan untuk membatalkan putusan itu.

    Yang lainnya adalah Mujtaba al-Sweikat, yang berusia 17 tahun ketika ia ikut serta dalam demonstrasi yang berujung penangkapannya pada 2012. Ia ditahan di bandara di Dammam saat ia bersiap untuk naik pesawat ke Amerika Serikat, di mana dia mendaftar kuliah di Western Michigan University.

    Mujtaba al-Sweikat, salah satu terpidana yang dieksekusi Arab Saudi.[CNN]

    CNN telah memperoleh ratusan halaman dokumen dari tiga persidangan 2016 yang melibatkan 25 orang yang eksekusi mereka diumumkan minggu ini. Sebelas orang dinyatakan bersalah memata-matai atas nama Iran, musuh bebuyutan Arab Saudi. 14 lainnya dihukum karena membentuk "sel teror" selama protes anti-pemerintah di kota Awamiya yang sebagian besar Syiah pada tahun 2011 dan 2012.

    Sebagian besar dari mereka berasal dari minoritas Syiah yang sering dipersekusi di Arab Saudi.

    Bagi pihak berwenang, persidangan mereka yang terlibat dalam protes Awamiya adalah kasus terbuka dan tertutup, orang-orang itu mengaku, dan keadilan ditegakkan, kata seorang pejabat Saudi.

    Ketika PBB mengemukakan kekhawatiran pada tahun 2017 bahwa penyiksaan telah digunakan untuk mendapatkan pengakuan dalam kasus itu, pemerintah Saudi menjawabnya dengan sepucuk surat yang menyangkal klaim tersebut dan menyatakan bahwa orang-orang itu mengaku bersalah di hadapan pengadilan.

    Tetapi dokumen-dokumen yang diperoleh CNN menunjukkan, beberapa pria dalam kasus Awamiya berulang kali mengatakan kepada pengadilan bahwa pengakuan itu palsu dan terpaksa karena penyiksaan.

    Dalam beberapa kasus, para tersangka mengatakan mereka hanya memberikan cap jempol untuk menandatangani pengakuan yang mereka klaim telah ditulis oleh penyiksa mereka.

    "Itu bukan kata-kata saya," kata salah satu tersangka, Munir al-Adam, selama persidangan, menurut dokumen.

    "Aku tidak menulis surat. Ini pencemaran nama baik yang ditulis oleh interogator dengan tangannya sendiri."

    Baca: Migrant Care: 6 TKI Dieksekusi Mati dalam 10 Tahun Terakhir

    Pria 27 tahun, yang sebagian buta dan tuli, disebut sebagai salah satu pria yang dieksekusi pada hari Selasa.

    Pemerintah Arab Saudi tidak segera menanggapi beberapa permintaan untuk mengomentari tuduhan penyiksaan dan pengakuan paksa yang tercantum dalam dokumen pengadilan.

    "Kerajaan Arab Saudi telah lama mengadopsi kebijakan tanpa toleransi terhadap teroris yang menumpahkan darah orang tak bersalah, mengancam keamanan nasional kerajaan dan mendistorsi negara kita yang besar...Para penjahat yang dihukum yang dieksekusi hari ini menjalani pengadilan dan dinyatakan bersalah atas kejahatan yang sangat serius," tulis pernyataan Arab Saudi tentang eksekusi mati tersebut.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dampak Screen Time pada Anak dan Cara Mengontrol

    Sekitar 87 persen anak-anak berada di depan layar digital melebihi durasi screen time yang dianjurkan.