Miris, Gaji Profesor di Venezuela Hanya Rp 160 Ribu per Bulan

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tumpukan mata uang Venezuela senilai 14,6 juta bolivar yang hanya bisa ditukar dengan 2,4 kilogram daging ayam di salah satu minimarket di Caracas, Venezuela, Kamis, 16 Agustus 2018. Mata uang Venezuela semakin tak berharga lantaran pemerintah setempat berencana menghapus lima nol dari mata uangnya (redenominasi) untuk menahan hiperinflasi. REUTERS/Carlos Garcia Rawlins

    Tumpukan mata uang Venezuela senilai 14,6 juta bolivar yang hanya bisa ditukar dengan 2,4 kilogram daging ayam di salah satu minimarket di Caracas, Venezuela, Kamis, 16 Agustus 2018. Mata uang Venezuela semakin tak berharga lantaran pemerintah setempat berencana menghapus lima nol dari mata uangnya (redenominasi) untuk menahan hiperinflasi. REUTERS/Carlos Garcia Rawlins

    TEMPO.CO, Jakarta - Krisis politik dan keruntuhan ekonomi membuat warga Venezuela mendapat gaji rata-rata yang amat rendah.

    IMF memprediksi hiperinflasi Venezuela bisa tembus 10 juta persen pada 2019 dan ini membuat mata uang Venezuela merosot jatuh. Belum lagi mahalnya barang-barang pokok dan kelangkaan.

    Salah satu yang menderita akibat krisis adalah Alvaro, seorang profesor teknik komputer di Venezuela barat.

    Baca: Petani Venezuela Sebut Pemerintahan Maduro Tidak Beri Bantuan

    Dengan pengalaman akademik 24 tahun, Alvaro bisa dibilang seorang profesional yang seharusnya digaji tinggi.

    Namun ternyata gaji Alvaro hanya sebesar 37.255 bolivar per bulan, atau Rp 160 ribu per bulan, seperti dikutip dari Euronews, 4 Maret 2019.

    Sebagai perbandingan, di supermarket satu liter susu berharga 4.200 bolivar (Rp 18 ribu) atau 11 persen dari gaji bulanan-nya. Sementara itu, 1 kg susu bubuk berharga 19.995 bolivar (Rp 85 ribu), lebih dari setengah gajinya.

    "(dampak) Hiperinflasi terlalu besar bagi keluarga untuk makan sendiri," kata Álvaro.

    Upah minimum di Venezuela adalah 18.000 bolivar, sekitar Rp 77 ribu, yang berarti bahwa satu liter susu membuat orang Venezuela merogoh seperempat upah bulanan mereka.

    Harga susu sekitar 4.500 bolivar, atau 25 persen dari nilai upah minimum Venezuela.[Euronews]

    Sementara Dilia, perempuan berusia 62 tahun, juga tak mampu membeli makanan yang cukup.

    Petugas pembersih yang tinggal di Caracas itu hanya mendapat gaji 3.000 bolivar per hari, atau Rp 13 ribu. Gaji ini tentu sangat kurang untuk membeli makanan yang cukup.

    "Dulu ada lebih banyak barang tetapi saat ini, tidak, karena semuanya begitu mahal", katanya.

    Baca: Warga Venezuela Mengais Keranjang Sampah Demi Dapat Makanan

    AS dan negara-negara lain telah mengirim konvoi bantuan untuk rakyat Venezuela tetapi truk tetap tertahan di Kolombia karena diblokade Maduro.

    Maduro menyebut konvoi bantuan, yang tiba di kota Cucuta di perbatasan Kolombia pada 7 Februari, adalah upaya untuk "mempermalukan" Venezuela.

    Baca: Krisis Listrik, Warga Venezuela Terpaksa Makan Daging Busuk

    Pemerintah Venezuela berupaya memberi makan rakyatnya sendiri dengan truk-truk yang membawa makanan subsidi, yang bisa dibeli oleh orang-orang di lingkungan miskin. Tetapi dari pantauan Euronews, truk-truk bantuan Maduro tidak cukup untuk memberi makan orang-orang Venezuela yang kelaparan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gonta-ganti UN, dari Ujian Negara hingga Kebijakan Nadiem Makarim

    Nadiem Makarim akan mengganti Ujian Nasional dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Gonta-ganti jenis UN sudah belangsung sejak 1965.