Paus Fransiskus Haus Perdamaian, Menolak Perang di Timur Tengah

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Paus Fransiskus (kanan), PM UEA Sheikh Mohammed Bin Rashid (tengah), Imam Besar Masjid Al Azhar Dr Ahmad Al Tayeb di Uni Emirat Arab pada Senin, 4 Februari 2019. The National

    Paus Fransiskus (kanan), PM UEA Sheikh Mohammed Bin Rashid (tengah), Imam Besar Masjid Al Azhar Dr Ahmad Al Tayeb di Uni Emirat Arab pada Senin, 4 Februari 2019. The National

    TEMPO.COAbu DhabiPaus Fransiskus mengecam logika kekuatan bersenjata pada Perang Yaman, Suriah, Irak Libya dan perang lainnya di sejumlah negara di Timur Tengah.

    Baca:

    Paus juga mengatakan kepada perwakilan umat Kristen dan Islam bahwa konflik bersenjata hanya membawa penderitaan dan kematian. Paus mengatakan ini dalam kunjungan pertamanya ke Semenanjung Arab di Uni Emirat Arab.

    “Perang tidak bisa menciptakan apapun kecuali penderitaan. Senjata tidak menghasilkan apapun kecuali kematian,” kata Paus dalam pidato di hadapan para pemimpin lintas agama di Founder’s Memorial UEA pada Senin malam, 4 Februari 2019.

    Baca:

    Acara ini dihadiri tokoh dari umat Islam dan Kristen. Sejumlah petinggi UEA juga terlihat hadir seperti penguasa Dubai yang juga Wakil Presiden UEA dan juga menjabat Perdana Menteri UEA, Sheikh Mohammed Bin Rashid Al Maktoum. 

    Anak-anak Suriah menyanyi dan menari dalam kegiatan rekreasi di kamp pengungsian di al-Bab, Suriah, Selasa, 29 Mei 2018. AP Photo/Lefteris Pitarakis

    Lalu ada Putra Mahkota Abu Dhabi, Sheikh Mohammed Bin Zayed Al Nahyan, yang juga menjabat sebagai Deputi Komandan Tertinggi Angkatan Bersenjata UEA. Juga ada Imam Besar Masjid Al Azhar, Sheikh Ahmed Al-Tayeb.

    Paus Fransiskus melanjutkan kecamannya mengenai bahaya perang. "Konsekuensinya ada di depan mata kita. Saya berpikir terutama Yaman, Suriah, Irak dan Libya,” kata dia. “Mari kita berkomitmen melawan logika kekuatan bersenjata.”

    Baca:

    Saat memulai pidatonya, Vatican News melansir, Paus mengatakan dirinya adalah seorang beriman yang haus akan perdamaian. “Kita semua di sini menginginkan perdamaian, menjadi instrumen perdamaian.”

    Paus juga mengutip kisah Nabi Nuh dan perahunya. “Kita perlu memasuki kapal bersama sebagai satu keluarga sehingga bisa mengarungi badai lautan di dunia ini,” kata dia. “Tidak ada kekerasan bisa dibenarkan atas nama agama.”

    Paus menambahkan,”Perilaku religius butuh untuk terus dimurnikan dari godaan berulang untuk menilai orang lain sebagai musuh. Perspektif dari surga merangkul semua orang tanpa privelese atau diskriminasi.”

    Sejumlah anak-anak memegang serpihan misil dari serangan udara koalisi yang dipimpin Saudi di Sanaa, Yaman, 20 Januari 2019. Serangan udara tersebut menewaskan dua warga dan lainnya luka-luka serta menghancurkan puluhan bangunan. REUTERS/Khaled Abdullah

    Paus juga mengapresiasi komitmen UEA untuk menjamin kebebasan beribadah, dan melawan ekstrimisme serta kebencian. “Bagaimana kita bisa melihat satu sama lain sebagai satu keluarga manusia,” kata Paus bertanya.

    Baca:

    Paus, 85 tahun, mengusulkan agar ada keberanian untuk mengakui perbedaan dan hak-hak fundamental serta kebebasan orang lain. “Tanpa kebebasan, kita bukan lagi menjadi anak-anak keluarga manusia tapi hanya budak,” kata Paus.

    Paus menambahkan kebebasan beragama buka hanya bermakna kebebasan untuk beribadah. Ini juga berarti melihat orang lain sebagai,”Anak dari kemanusiaan diri kita yang Tuhan ciptakan untuk bebas, dan tidak ada institusi manusia manapun dapat memaksa meski mengatasnamakan Tuhan.”

    Paus Fransiskus mengatakan doa bisa memurnikan hati dan mengembalikan semangat persaudaraan. “Kita akan membangun masa depan bersama atau tidak ada masa depan sama sekali.”


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.