Aktivis Greenpeace Ditangkap Saat Menaiki Kapal Minyak Wilmar

Reporter

Editor

Erwin Prima

Aktivis Greenpeace menaiki perahu karet sebelum melakukan aksi di Bitung, Sulawesi Utara, Selasa, 25 September 2018. Aksi itu juga diikuti oleh aktivis Greenpeace dari sejumlah negara. ANTARA/Dhemas Reviyanto

TEMPO.CO, Jakarta - Enam aktivis Greenpeace ditahan karena melakukan aksi damai dengan menaiki kapal kargo sepanjang 185 meter yang berisi muatan minyak sawit dari Wilmar International. Aksi dilakukan di atas Kapal Stolt Tenacity di perairan Teluk Cadiz di dekat Spanyol.

Baca: Polusi Udara Jakarta, Greenpeace Indonesia: Tak Sehat Sebulan

Juru kampanye di kapal Greenpeace Esperanza Hannah Martin mengatakan, pihaknya memiliki keterbatasan kontak radio dengan sukarelawan yang ditangkap. Dia berujar, Greenpeace juga telah meminta kapten kapal untuk membebaskan relawan.

"Sehingga mereka dapat terus melakukan protes damai terhadap perusahaan seperti Wilmar yang mengirimkan minyak sawit kotor dari perusak hutan ke supermarket dan rumah kami,” kata Hannah Martin dalam siaran pers di website Greenpeace, Sabtu, 17 November 2018.

Kapal Stolt Tenacity membawa minyak Wilmar dari Indonesia menuju Eropa. Para relawan Greenpeace yang ikut melakukan aksi damai untuk memprotes perusakan Hutan Indonesia berasal dari Indonesia, Jerman, Inggris, Perancis, Kanada dan Amerika Serikat.

Sebelum ditahan, para aktivis Greenpeace berhasil membentangkan spanduk bertuliskan 'Save our Rainforest dan Drop Dirty Palm Oil'. Kapten kapal itu disebut telah diberitahu melalui saluran radio VHF tentang protes damai tersebut. Namun, kapten justru menahan para relawan di salah satu kabin kapal kargo.

Greenpeace menyatakan, Wilmar adalah pemasok utama minyak sawit untuk perusahaan makanan ringan Mondelez. Perusahaan itu merupakan salah satu pembeli minyak sawit terbesar di dunia untuk digunakan pada banyak produknya terkenal seperti biskuit Oreo, cokelat Cadbury, dan biskuit Ritz.

Investigasi Greenpeace International menemukan, pemasok minyak sawit Mondelez telah menghancurkan 70.000 hektare hutan di seluruh Asia Tenggara dalam dua tahun. Greenpeace menemukan bukti ihwal persoalan kebakaran hutan, mempekerjakan anak-anak, eksploitasi pekerja, penebangan ilegal hingga perampasan tanah.

Kiki Taufik, Kepala Kampanye Hutan Global Greenpeace Asia Tenggara yang berada di atas kapal Esperanza mengatakan, minyak sawit dapat diproduksi tanpa merusak hutan. Lebih dari satu juta orang di seluruh dunia disebut menuntut tindakan nyata.

"Sekarang saatnya bagi Mondelez dan merek rumah tangga lainnya untuk mendengarkan seruan kepada mereka untuk menjauhi Wilmar hingga terbukti minyak sawitnya bersih," kata Kiki Taufik.

Kapal kargo Stolt Tenacity disebut membawa minyak sawit dari kilang penyulingan Wilmar di Dumai, Riau. Kilang ini juga menampung pasokan minyak sawit dari perusahaan lain seperti Bumitama, Djarum, keluarga Fangiono dan Gama.

"Saya berasal dari Indonesia. Saya telah menyaksikan dampak deforestasi terkait ulah perusahaan perkebunan sawit nakal yang menyebabkan kota-kota kami tercekik oleh kabut asap kebakaran hutan. Saya di sini untuk mengirim pesan ke Mondelez bahwa minyak sawit kotor Wilmar telah menghancurkan rumah kami,” kata Waya Maweru, pemanjat asal Sulawesi Utara yang dicantumkan oleh Greenpeace.

Greenpeace menyatakan, deforestasi di kawasan tropis telah menghasilkan lebih banyak emisi gas rumah kaca setiap tahun daripada seluruh Uni Eropa, mengungguli setiap negara kecuali Amerika Serikat dan Tiongkok. Pada bulan Oktober 2018, Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) menyerukan penghentian segera deforestasi untuk membatasi suhu global yang meningkat menjadi 1,5 °C.






Profil PLTU Batang yang Bolak-balik Ditolak Warga dan Aktivis Lingkungan

1 hari lalu

Profil PLTU Batang yang Bolak-balik Ditolak Warga dan Aktivis Lingkungan

Pembangunan PLTU Batang kerap didemo warga dan aktivis lingkungan. Begini profil dari perencanaan hingga operasi PLTU Batang, Agustus 2022 lalu.


Riza Patria Ancam Tindak Pelaku Pencemaran Udara, Greenpeace: Buka Data Emisi

12 hari lalu

Riza Patria Ancam Tindak Pelaku Pencemaran Udara, Greenpeace: Buka Data Emisi

Riza Patria mengajak warga untuk ikut mengawasi dan melaporkan pabrik-pabrik yang diduga melakukan pencemaran udara.


Greenpeace Khawatir RI Tak Mampu Capai Target Emisi Nol Persen karena PLTU Baru

41 hari lalu

Greenpeace Khawatir RI Tak Mampu Capai Target Emisi Nol Persen karena PLTU Baru

Greenpeace menilai Indonesia masih membuka ruang pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) baru sampai 2030.


Indonesia Belum Merdeka dari Energi Fosil, Ini 4 Saran dari Greenpeace

41 hari lalu

Indonesia Belum Merdeka dari Energi Fosil, Ini 4 Saran dari Greenpeace

Greenpeace menilai Indonesia masih bergantung pada energi fosil. Saat ini, Indonesia merupakan pengekspor batu bara terbesar.


Greenpeace: Ketahanan Energi RI Dipertaruhkan Jika Masih Pakai Batu Bara

41 hari lalu

Greenpeace: Ketahanan Energi RI Dipertaruhkan Jika Masih Pakai Batu Bara

Saat ini Indonesia merupakan negara pengekspor batu bara terbesar di dunia.


Bila 10 Tahun Mendatang Listrik Indonesia Masih Pakai Batu Bara, Apa Dampaknya?

41 hari lalu

Bila 10 Tahun Mendatang Listrik Indonesia Masih Pakai Batu Bara, Apa Dampaknya?

Produksi listrik di Indonesia masih akan mengandalkan bahan bakar fosil dalam 10 tahun ke depan. Batu bara adalah sumber energi utamanya.


Greenpeace Minta Hadi Tjahjanto Transparan soal Data Hak Guna Usaha

15 Juni 2022

Greenpeace Minta Hadi Tjahjanto Transparan soal Data Hak Guna Usaha

Jokowi resmi melantik Hadi Tjahjanto sebagai Menteri ATR/BPN menggantikan Sofyan Djalil.


Aktivis Lingkungan Desak Unilever Tanggung Jawab Sampah Plastik Sachet

15 Juni 2022

Aktivis Lingkungan Desak Unilever Tanggung Jawab Sampah Plastik Sachet

Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) mendesak PT Unilever menghentikan penggunaan sachet yang menyumbang 16 persen sampah plastik.


Kritik Tambang Emas di Sangihe, Greenpeace: Mengancam Kehidupan

12 Juni 2022

Kritik Tambang Emas di Sangihe, Greenpeace: Mengancam Kehidupan

Para pegiat lingkungan sudah melayangkan gugatan untuk menentang kegiatan tambang di Sangihe.


Dukung Pemerintah Audit Perusahaan Sawit, Greenpeace: Banyak Diisi Oligarki

3 Juni 2022

Dukung Pemerintah Audit Perusahaan Sawit, Greenpeace: Banyak Diisi Oligarki

Greenpeace menyatakan penguasaan lahan kelapa sawit di Indonesia dipenuhi oligarki.