Selasa, 13 November 2018

Trump Minta Tombol Elevator Trump Tower tanpa Braille, Kenapa?

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden AS Donald Trump saat masih muda bersama seorang karyawannya Barbara Res, yang menjabat Vice President of Construction. The Independent

    Presiden AS Donald Trump saat masih muda bersama seorang karyawannya Barbara Res, yang menjabat Vice President of Construction. The Independent

    TEMPO.CO, New York – Presiden Amerika, Donald Trump, dikabarkan pernah meminta agar menghapus huruf braille dari tombol elevator di Gedung Trump Tower. Dia beralasan para penghuni gedung miliknya itu tidak membutuhkan alat bantu baca bagi kalangan tuna netra.

    Baca: 

    Trump Tuding Buku "Fear" Berisi Kebohongan dan Sumber Palsu

    Cerita ini terungkap dari tulisan opini bekas anak buahnya di jajaran eksekutif Trump Organization, Barbara Res, di media New York Daily News pada Rabu, 12 September 2018.

    Tulisan itu berjudul “Trump and his flunkies: Why aren’t staffers standing up to him?”.

    Baca: 

    Bob Woodward Sebut Trump Nyaris Picu Perang dengan Korea Utara

    Peristiwa ini terjadi pada 1980an. Trump melihat ke arah papan tombol di elevator. Dia memperhatikan ada titik-titik kecil di sebelah nomor tiap lantai.

    “Itu apa?” kata Trump.

    “Braille,” kata arsitek gedung.

    Trump lalu mengatakan kepada arsitek itu untuk menghapusnya.

    “Kami tidak bisa lakukan itu. Ini aturan undang-undang,” kata arsitek tadi.

    “Hilangkan huruf braille itu. Tidak ada tuna netra yang bakal tinggal di Gedung Trump Tower. Lakukan saja,” kata Trump sambil berteriak dan menyebut arsitek itu lemah.

    Semakin arsitek itu memprotes, menurut Res, Trump bersikap semakin marah.  “Trump suka mengganggu orang ini. Sebagai pedoman umum, Trump berpikir arsitek dan insinyur sebagai orang-orang yang lemah dibandingkan para pekerja konstruksi. Dan dia suka menyiksa orang-orang lemah,” kata Res dalam tulisannya itu.

    Baca: 

    Ada Perlawanan Sekelompok Pejabat Senior di Pemerintahan Trump?

    Menurut Res, Trump sebenarnya tidak benar-benar berniat menghapus huruf braille. Menurutnya, Trump sengaja meminta bawahannya melakukan hal yang mustahil agar dia bisa menyalahkan bawahannya itu di masa depan jika ada yang keliru.

    Res mengaku dia juga kerap mensabotase perintah Trump yang tidak masuk akal atau mengabaikannya sama sekali. Meskipun, dia terkadang berbohong atas perintah Trump saat mempromosikan unit apartemen itu kepada calon pembeli.

    Presiden Terpilih AS, Donald Trump berfoto bersama CEO Alibaba, Jack Ma dalam pertemuan di Trump Tower, New York, AS, 9 Januari 2017. Dalam pertemuan pertamanya itu, Jack Ma juga meminta izin pada Trump agar Alibaba dapat ekspansi dan fokus ke produk pakaian, makanan, dan buah-buahan, terutama di kawasan Midwest. AP Photo

    Res mengaku memiliki pengalaman sama seperti yang ditulis dalam artikel opini di New York Times oleh seorang pejabat senior pemerintahan Trump. Pengalaman itu, menurut dia, juga muncul di buku jurnalis investigasi Bob Woodward. “Saya tidak terkejut,” kata Res. “Trump selalu mengandalkan kepada orang-orang untuk tidak mengikuti perintahnya yang konyol.”

    Baca: 

    Eks Bos CIA Brennan Sebut Trump Mabuk Kekuasaan, Amerika Krisis

    Seperti dilansir CNN, buku “Fear: Trump in The White House” bercerita Menteri Pertahanan James Mattis menolak perintah Trump untuk membunuh Presiden Suriah Bashar al-Assad pada 2017 terkait serangan bom kimia ke Kota Douma, yang menewaskan banyak warga sipil.

    Saat itu, Mattis mengatakan mengiyakan perintah Trump. Namun kemudian dia mengatur agar serangan rudal militer Amerika Serikat pada April 2017 hanya menyasar target militer tertentu seperti pangkalan udara, yang menjadi tempat pesawat jet tempur Suriah membawa bom kimia berasal. Di lain waktu, Mattis menyebut Trump memiliki pemahaman seperti anak sekolah dasar kelas lima atau enam. Menanggapi isi buku ini, Mattis mengatakan itu hanyalah fantasi seseorang dan mencerminkan literatur ala Washington.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lion Air JT - 610, Kecelakaan Pesawat Nomor 100 di Indonesia

    Jatuhnya Lion Air nomor registrasi PK - LQP rute penerbangan JT - 610 merupakan kecelakaan pesawat ke-100 di Indonesia. Bagaimana dengan di dunia?