Rabu, 26 September 2018

Trump Salahkan Pendukung Jika Kena Pemakzulan, Kenapa?

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang berkampanye di Billings, Montana, pada Kamis, 6 September 2018, mendesak pendukungnya untuk mencoblos pada pemilu tengah pada November 2018 agar dia tidak terkena pemakzulan. AP via Chicago Tribune

    Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang berkampanye di Billings, Montana, pada Kamis, 6 September 2018, mendesak pendukungnya untuk mencoblos pada pemilu tengah pada November 2018 agar dia tidak terkena pemakzulan. AP via Chicago Tribune

    TEMPO.CO, Montana – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengatakan kepada para pendukungnya jika dia terkena pemakzulan maka itu menjadi kesalahan mereka.

    Baca: 3 Tokoh Amerika Ini Lantang Minta Pemakzulan Presiden Trump

    “Itu kesalahan kalian karena kalian tidak keluar dan mecoblos,” kata Trump, yang didukung Partai Republik, dalam orasi saat berkampanye di daerah Billings, Montana, seperti dilansir CNN pada Jumat, 7 September 2018 waktu setempat.

    “Kalian tidak keluar dan mencoblos – itu satu-satunya cara itu (pemakzulan) bisa terjadi,” kata Trump.

    Trump mengatakan kepada para pendukungnya di Montana bahwa pemilu tengah, yang akan berlangsung pada November 2018, bukan hanya untuk memilih anggota DPR dan Senat.

    “Kalian akan mencoblos untuk memilih partai mana yang akan mengontrol Kongres,” kata Trump. “Ini hal yang sangat penting. Sangat penting.”

    Baca: 

    Pengacara Yakin Trump Tidak Bakal Terkena Pemakzulan, Alasannya?

    Dalam pidato itu, Trump juga mengatakan anggota DPR seperti Maxine Waters mendesak pemakzulan dirinya. “Saya katakan, bagaimana Anda memakzulkan seseorang yang melakukan pekerjaannya dengan hebat dan tidak melakukan hal salah?” kata Trump. “Ekonomi kita bagus. Bagaimana caramu melakukannya? Bagaimana caramu melakukannya? Bagaimana caramu melakukannya?” kata Trump

    Isu pemakzulan Trump muncul setelah bekas pengacara Trump, Michael Cohen, mengaku bersalah dalam delapan dakwaan pelanggaran hukum. Dua diantara pelanggaran itu merupakan pelanggaran penggunaan dana kampanye.

    Cohen mengaku diarahkan oleh seorang kandidat untuk posisi penting di pemerintahan Federal pada 2016 untuk melakukan pembayaran terhadap dua orang perempuan yang mengaku pernah berhubungan intim dengan Trump.

    Baca: 

    McCain dan Trump, Seteru Politik Sampai Akhir

    Kedua perempuan itu adalah pemain film porno Stormy Daniels dan bekas model Playboy Karen McDougal. Pembayaran ini untuk membuat kedua perempuan itu tidak mengungkap hubungan intim mereka ke publik menjelang pilpres AS 2016.

    Pada pekan ini, Trump juga sedang dilanda pemberitaan negatif terkait sebuah buku baru berjudul “Fear: Trump in The White House”. Buku karya jurnalis investigatif Bob Woodward dari Washington Post itu, seperti dilansir Reuters, menceritakan pandangan negatif sejumlah pejabat tinggi pemerintahan Trump dari Menhan James Mattis, Kepala Staf Gedung Putih John Kelly, hingga bekas Kepala Tim Ekonomi Gary Cohn mengenai Trump.

    Namun, Mattis, dan Kelly memberikan bantahan resmi mengenai isi buku itu yang menceritakan ucapan kedua berdasarkan cerita sejumlah saksi mata.  

    Baca:

     

    Lewat cuitan, Trump menuding buku itu sebagai sebuah karya fiksi. “Buku Woodward itu penipuan. Saya tidak bicara dengan cara seperti isi kutipan di buku. Jika saya seperti itu, saya tidak akan terpilih sebagai Presiden. Kutipan-kutipan ini hanyalah buatan. Penulis menggunakan semua trik di dalam buku ini untuk mengecilkan. Saya berharap orang-orang dapat melihat fakta sebenarnya – dan negara kita sedang melakukan hal hebat!,” kata dia.

    Ketua Fraksi Partai Republik, Mitch McConnell, mengatakan kementerian Kehakiman telah mengambil posisi soal dakwaan terhadap Trump. “Bahwa penanganan yang sesuai untuk perilaku melanggar dari Presiden adalah pemakzulan. Namun, dia mengaku bukan ahli soal ini.

    Sedangkan Senator Elizabeth Warren dari Partai Demokrat mengatakan ini saatnya untuk mengganti Trump dari Gedung Putih. “Jika pejabat senior pemerintahan berpikir Presiden AS tidak mampu melakukan tugasnya, maka mereka harus menerapkan Amandemen ke 25,” kata dia, yang berpotensi maju sebagai kandidat Presiden 2020.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Joaquin Phoenix dan Para Pemeran Joker Sejak 1966

    Sutradara film terbaru Joker, Todd Phillips mengunggah foto pertama Joaquin Phoenix sebagai Joker, akan tayang Oktober 2019. Inilah 6 pemeran lainnya.