Selasa, 25 September 2018

Banjir Jepang Semakin Parah, Shinzo Abe Tinjau Lokasi

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe, berbicara dengan pengungsi selama kunjungan ke tempat pengungsian di Kurashiki, Prefektur Okayama, barat daya Jepang, Rabu, 11 Juli 2018.[Shohei Miyano / Kyodo News via AP]

    Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe, berbicara dengan pengungsi selama kunjungan ke tempat pengungsian di Kurashiki, Prefektur Okayama, barat daya Jepang, Rabu, 11 Juli 2018.[Shohei Miyano / Kyodo News via AP]

    TEMPO.CO, Jakarta - Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe pada Rabu 11 Juli, mengunjungi wilayah Jepang yang terkena banjir dan tanah longsor yang sejauh ini telah menewaskan 176 orang. Bencana ini adalah yang terburuk di Jepang selama 36 tahun terakhir.

    Dilansir dari Associated Press, pemerintah Jepang mengkonfirmasi 176 orang tewas setelah hujan pekan lalu yang menyebabkan banjir besar dan memicu tanah longsor. Sebagian besar korban jiwa berada di Hiroshima dan daerah sekitarnya.

    Baca: PM Abe Batalkan Lawatan ke Luar Negeri, 100 Orang Tewas di Jepang

    Setelah mengamati kondisi kerusakan dari atas helikopter yang terbang di Okayama, salah satu daerah yang mengalami kerusakan paling parah, Abe mengunjungi pusat penampungan pengungsi.


    "Kami akan memotong semua birokrasi untuk mengamankan barang-barang yang dibutuhkan mereka untuk bertahan hidup dan meningkatkan fasilitas di tempat pengungsian seperti AC jika dibutuhkan kalau cuaca panas terus berlanjut. Kemudian kami akan membangun rumah sementara dan hal lainnya yang dibutuhkan para korban untuk membangun kembali hidup mereka," ujar Abe seperti dikutip dari Reuters.

    Suasana korban banjir dan tanah longsor di pusat evakuasi di sekolah dasar Okada, Kurashiki, Prefektur Okayama, Jepang, Rabu, 11 Juli 2018. Bencana alam ini merupakan yang terburuk bagi Jepang dalam tiga dekade terakhir. REUTERS/Issei Kato

    Shinzo Abe membatalkan perjalanannya ke luar negeri untuk menangani bencana ini. Dilansir dari Reuters, sebelumnya ia dikritik karena sebuah foto yang tersebar di Twitter menunjukkan Abe dan menteri pertahanannya berada di sebuah pesta bersama anggota parlemen bertepatan ketika hujan semakin deras dan bencana banjir makin memburuk.


    Tim penyelamat dibantu anjing pelacak bekerja di bawah terik matahari menyisir ke tumpukan kayu dan lumpur tebal untuk mencari jasad korban. Dalam beberapa kesempatan mereka hanya menemukan fondasi rumah yang tersisa saat mereka memotong puing-puing dengan gergaji mesin.

    Dengan suhu 33 derajat Celcius atau lebih panas lagi seperti yang terjadi di daerah Okayama dan Hiroshima, fokus penanganan kini beralih untuk mencegah serangan panas di antara pekerja penyelamat dan di pusat-pusat pengungsian di mana ribuan orang dievakuasi.

    Petugas pemadam kebakaran dan anjing pelacak mencari korban hilang akibat hujan deras yang menerjang Hiroshima, Jepang, 9 Juli 2018. Bencana banjir serta longsor menerjang Hiroshima dan sejumlah kota lain hingga menewaskan setidaknya 126 orang. (Kyodo News via AP)

    Isu kesehatan makanan juga muncul. Pemerintah mengingatkan lewat media sosial untuk waspada terhadap tambahan penyakit yang ditularkan melalui makanan. Untuk itu mereka mengingatkan untuk mencuci tangan dan mengambil langkah-langkah lain untuk mencegahnya.

    Baca: Pemimpin Sekte Kiamat Aum Shinrikyo Dieksekusi, Jepang Siaga Satu

    Sejauh ini pemerintah telah mengerahkan 75.000 tentara dan anggota regu penyelamat serta sekitar 80 helikopter untuk upaya pencarian dan penyelamatan, kata Kepala Sekretaris Kabinet, Yoshihide Suga.

    Bencana banjir besar dan tanah longsor seperti ini sebelumnya juga pernah terjadi di Jepang pada 1982 di wilayah Nagasaki dan Kumamoto, dengan korban jiwa mencapai 322 orang. Kebanyakan korban berasal dari Nagasaki dengan total 299 korban dan 23 sisanya dari Kumamoto.


    AP | REUTERS | ERVIRDI RAHMAT


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Haringga Sirla, Korban Ketujuh Ricuh Suporter Persib dan Pesija

    Haringga Sirla menjadi korban ketujuh dari perseteruan suporter Persib versus Persija sepanjang 2012 sampai 2018.