Iran Kembali Buka Fasilitas Nuklir, AS Ancam Potong Minyak Iran

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Fasilitas Nuklir Iran di Isfahan.[haaretz]

    Fasilitas Nuklir Iran di Isfahan.[haaretz]

    TEMPO.CO, JakartaIran kembali membuka instalasi nuklirnya setelah dihentikan selama sembilan tahun. Badan Energi Atom Iran (AEOI) menyampaikan pembukaan ini pada Rabu 27 Juni, seperti dilaporkan dari Reuters, 29 Juni 2018, ketika Teheran bersiap untuk meningkatkan kapasitas pengayaan uranium jika kesepakatan nuklir dengan negara dunia gagal.

    Ketegangan Amerika Serikat-Iran muncul kembali sejak Presiden Donald Trump menarik diri dari perjanjian nuklir 2015, dengan alasan perjanjian nuklir cacat. Berdasarkan kesepakatan 2015 disebut Iran akan membatasi program pengayaannya untuk senjata dan sebagai gantinya sanksi terhadap Iran akan dicabut.

    Baca: Menlu Iran: Tuntutan Amerika Serikat Tidak Masuk Akal

    Negara-negara Eropa berusaha menyelamatkan kesepakatan yang mereka anggap penting untuk mencegah senjata nuklir Iran. Namun, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, bulan ini memerintahkan AEOI untuk memulai persiapan meningkatkan kapasitas pengayaan jika upaya Eropa gagal.

    Teknisi Iran menjelaskan sejumlah alat kepada tokoh agama dalam pamerian Organisasi Energi Atom Iran di Universitas Qom, Iran, pada 2006. [AP]

    AEOI mengatakan bahwa sebagai tanggapan atas perintah Khamenei dan penolakan Trump atas kesepakatan tersebut, sebuah pabrik untuk produksi UF6, bahan baku untuk mesin sentrifugal yang memperkaya uranium, telah dioperasikan kembali dan satu barel "Kue Kuning" telah dikirimkan ke sana.

    Biji uranium, yang dikenal sebagai "Kue Kuning", diubah menjadi gas yang disebut uranium hexafluoride (UF6) sebelum pengayaan.

    Pabrik UF6, yang tidak aktif sejak 2009 karena kurangnya biji uranium, adalah bagian dari fasilitas konversi uranium Isfahan.

    Baca: Iran Mulai Lakukan Pengayaan Uranium Nuklir di Fordow dan Natanz

    Iran telah mengimpor sejumlah besar "Kue Kuning" sejak kesepakatan nuklir pada 2015, dan juga telah menghasilkan beberapa di dalam negeri.

    Badan Energi Atom Internasional, badan pengawas nuklir PBB yang mengawasi Iran dengan kesepakatan nuklir, mengatakan pada 5 Juni bahwa AEOI telah memberitahukannya tentang rencana untuk melanjutkan produksi UF6.

    Iran telah membuka kembali fasilitas UF6 di provinsi tengah Isfahan yang ditutup pada 2009 karena kurangnya "kue kuning", bahan baku yang digunakan untuk pengayaan nuklir.[Tehrantimes]

    Langkah ini simbolis dan diizinkan di bawah kesepakatan nuklir, yang memungkinkan Iran untuk memperkaya uranium menjadi 3,67 persen, jauh di bawah 90 persen dari uranium yang diproduksi untuk senjata, dan membatasi stok uranium hexafluoride yang diperkaya hingga 300 kilogram.

    Presiden Hassan Rouhani telah menyatakan kepada Perancis, Jerman dan Inggris, memperingatkan bahwa waktu untuk menyelamatkan kesepakatan nuklir sudah hampir habis. Sementara Amerika Serikat akan menerapkan kembali beberapa sanksi ekonomi di Teheran pada Agustus dan sanksi yang lebih ketat pada November.

    Dilaporkan Associated Press, Amerika Serikat akan menekan Iran dengan mengancam negara pengimpor minyak Iran. Donald Trump mengancam negara-negara lain, termasuk sekutu dekat seperti Korea Selatan, dengan sanksi jika mereka tidak memotong impor Iran pada awal November. Tekanan ini untuk membatasi pemasukan anggaran Iran yang dikenal sebagai produsen minyak terbesar keenam di dunia.

    Baca: Rusia Tahan Eks Dewan Nuklir Turki atas Tuduhan Spionase

    Departemen Luar Negeri mengatakan bahwa mayoritas negara-negara mitra akan mematuhi permintaan AS. Tim dari Departemen Luar Negeri dan Dewan Keamanan Nasional tengah menyampaikan pesan Donald Trump di Eropa. Namun tim ini belum mengunjungi Cina atau India untuk menyampaikan ultimatum Donald Trump.

    Korea Selatan tercatat mengimpor 14 persen minyak dari Iran tahun lalu, dan Cina adalah pengimpor terbesar minyak Iran dengan total 24 persen, diikuti oleh India dengan 18 persen, Turki 9 persen, dan Italia 7 persen.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Calon Menteri yang Disodorkan Partai dan Ormas, Ada Nama Prabowo

    Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sebanyak 45 persen jejeran kursi calon menteri bakal diisi kader partai.