Senin, 20 Agustus 2018

Cina Raih Kemenangan Terbesar dari Pertemuan Kim Jong Un-Trump

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Cina, Xi Jinping berjabat tangan dengan Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un saat sesi foto dalam pertemuan di Dalian, Cina, 8 Mei 2018. Ini merupakan kunjungan kedua Kim Jong Un ke Cina dalam tempo kurang dari 2 bulan. KCNA/via REUTERS

    Presiden Cina, Xi Jinping berjabat tangan dengan Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un saat sesi foto dalam pertemuan di Dalian, Cina, 8 Mei 2018. Ini merupakan kunjungan kedua Kim Jong Un ke Cina dalam tempo kurang dari 2 bulan. KCNA/via REUTERS

    TEMPO.CO, JakartaCina disebut sebagai negara yang meraih kemenangan terbesar dari pertemuan puncak pemimpin Korea Utara, Kim Jong un dan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump di Singapura, 12 Juni 2018.

    Cina sejak awal tidak menyukai kehadiran militer Amerika Serikat di Korea Selatan dan Jepang. Cina pulalah yang mendesak Washington menghentikan latihan perang di Semenanjung Korea yang diklaim Pyongyang sebagai provokasi untuk melakukan invasi ke negaranya.

    Baca: Air China Pembawa Kim Jong Un Ternyata Pesawat PM Cina Li Keqiang

    Sebagai balasan jika Amerika Serikat menghentikan latihan perang di Semenanjung Korea, Korea Utara akan menghentikan aktivitas uji coba senjata nuklirnya.

    Cina juga sejak lama menginginkan pengurangan pasukan militer asing di wilayah Asia Timur Laut, untuk mengurangi jurang antara Washington dan sekutunya dan mitranya.

    "Beijing sekarang di jalur tepat untuk meraih tujuan-tujuannya dengan mengeluarkan biaya sedikit," kata Ryan Hass, analis Kebijakan Cina untuk Dewan Keamanan Nasional Amerika Serikat di masa presiden Barack Obama, seperti dikutip dari The Korea Times, 13 Juni 2018.

    Sebagai dukungan, Cina menyediakan pesawat terbangnya untuk membawa Kim Jong Un ke Singapura bertemu Donald Trump. Setelah pertemuan ini, Beijing akan secara bijak memainkan pengaruhnya terhadap Pyongyang setelah merasa tak lagi terisolasi setelah Trump memujinya sebagai pria yang sangat berbakat. Trump juga menjanjikan penghentian latihan militer bersama di Semenanjung Korea.

    Presiden Donald Trump mengacungkan jempol kepada pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, saat pertemuan bilateral di Capella, Pulau Sentosa, Singapura, 12 Juni 2018. AP

    Baca: Pertemuan Trump - Kim Jong Un Sukses, Cina Siap Longgarkan Sanksi

    Menurut Paul Haenle, mantan direktur Cina di Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih di masa pemerintahan Obama dan George W. Bush, Cina akan sangat marah jika penundaan latihan militer akan mengarah pada pemulihan hubungan yang lebih luas antara Amerika Serikat dan Korea Utara.

    Mengapa? Karena Cina yang bertempur melawan Amerika Serikat saat Perang Korea 1950-1953 menginginkan stabilitas, di mana kemerdekaan Korea Utara dijadikan sebagai penyanggah atas Korea Selatan dan ribuan tentara Amerika Serikat yang ditempatkan di Korea Selatan.

    Beijing juga berharap dapat menyakinkan Seoul untuk mencabut sistem pertahanan rudal Amerika Serikat yang ditempatkan di negara itu karena Cina melihatnya sebagai ancaman atas keamanannya.

    Cina, menurut Haenle, juga sangat sadar bahwa Pyongyang kemungkinan setelah pertemuan puncak ini berusaha menjaga jarak dengan Cina sehingga Cina tidak memiliki pengaruh seperti yang terjadi saat ini. Namun, ketergantungan Korea Utara dalam jangka panjang dan rasa percayanya pada Cina selama ini tidak mudah untuk dicederai.

    Baca: Pertemuan Mulus, Trump Berterima Kasih pada Lima Pihak Ini

    "Terbang ke Singapura untuk pertemuan puncak dengan Air China menunjukkan untuk hal yang lebih luas, kepercayaan Korea Utara pada Cina," kata Cheng Xiaohe, associate profesor di Sekolah Studi Internasional Universitas Renmin di Beijing.

    Kim Jong Un terbang dengan menggunakan pesawat Air China Boing 747 menuju Singapura untuk menghadiri pertemuan puncak dengan Presiden Trump pada 12 Juni lalu. 

    Menurut Cheng, Pyongyang juga membutuhkan bantuan Cina jika ingin mendorong reformasi pasar seperti yang diperkenalkan oleh Bapak modernisasi Cina, Deng Xiaoping. Kim Jong Un pernah melontarkan keinginannya untuk mencontoh reformasi ekonomi ala Deng Xiaoping.

    Cina pun sudah menyatakan keinginannya untuk mencabut sanksi terhadap Korea Utara sesuai dengan Resolusi Dewan Keamanan PBB setelah pertemuan Kim Jong Un dan Presiden Trump di Singapura. Ini artinya, Beijing segera akan memberikan bantuan untuk melobi agar sanksi terhadap Pyongyang dihapus.

    Namun menurut Kim Dong-gil, direktur Pusat Semenanjung Korea di Universitas Peking, Cina tidak akan melakukan langkah pencabutan sanksi tanpa persetujuan Amerika Serikat terlebih dahulu. Cina tak ingin merusak dialog yang terjadi antara Korea Utara dan Amerika Serikat.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Twice Konser Di Jakarta

    Twice akan mengunjungi Jakarta pada 25 Agustus 2018. Konser ini adalah pertunjukan pertama mereka di Indonesia. Berikut fakta-fakta tentang mereka.