Starbucks Tutup 8.000 Gerai di AS untuk Program Anti-Rasisme

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kevin Johnson, CEO Starbucks. REUTERS

    Kevin Johnson, CEO Starbucks. REUTERS

    TEMPO.CO, JakartaStarbucks menutup 8.000 gerainya untuk memulai program pelatihan anti-rasisme, pada Selasa 29 Mei, untuk mengupayakan minoritas mendapatkan perlakuan yang sama di restoran dan toko.

    Starbucks berkomitmen memulai program pelatihan ini setelah kasus manajer gerai Starbucks di Philadelphia memanggil polisi yang mengakibatkan penangkapan dua pria kulit hitam yang sedang menunggu seorang teman di gerai tersebut. Penangkapan itu pun memicu protes dan tuduhan diskriminasi rasial di gerai kopi yang dikenal karena sikap liberalnya pada isu-isu sosial.

    Baca: Starbucks Izinkan Siapapun Nongkrong tanpa Harus Pesan?

    Pelatihan anti-bias dimaksudkan untuk membuat peserta mengenali rasisme bawah sadar mereka sendiri dan menghindari diskriminasi yang tidak disengaja.

    Starbucks menutup 8.000 gerai mereka di Amerika Serikat pada Selasa 29 Mei, pukul 2 siang, sebagai langkah pertama dalam pelatihan 175.000 karyawan tentang toleransi rasial. Sekitar 6.000 gerai Starbucks berlisensi akan tetap buka di lokasi seperti pertokoan dan bandara, dan karyawan tersebut akan dilatih di waktu berikutnya, seperti dilaporkan oleh Reuters, 30 Mei 2018.

    Duduk tanpa memesan di gerai Starbucks di Philadelphia, dua orang pria kulit hitam ditangkap. Daily Mail

    Pelatihan Starbucks diharapkan bedampak panjang terhadap perilaku karyawannya dan membuka kesadaran bagi perusahaan lain untuk mengatasi rasisme di restoran dan toko, ungkap Heather McGhee, ketua kelompok kebijakan publik Demos.

    McGhee mengatakan salah satu kenangannya yang paling awal tentang diskriminasi rasial adalah ketika seorang gadis kulit hitam dikejar dari toko permen oleh seorang manajer toko kulit putih.

    Baca: 2 Korban Penangkapan di Starbucks Bercerita, Ini Kisahnya

    McGhee dan Ketua NAACP Hukum Pertahanan dan Dana Pendidikan (NAACP LDF), Sherrilyn Ifill, adalah pihak yang menyarankan Starbucks mengadakan program ini dan bekomunikasi dengan para eksekutif perusahaan, terutama Chief Operating Officer Rosalind Brewer, yang juga seorang Afrika-Amerika.

    “Orang-orang lupa bahwa diperlakukan sebagai warga negara penuh dengan martabat di ruang publik di negara ini adalah penting bagi gerakan hak-hak sipil, mulai dari Freedom Riders hingga boikot bus Montgomery, pada tahun 1950-an dan 1960-an, kata Ifill.

    Rashon Nelson (berkaos putih) dan Donte Robinson (berkaos hitam) sedang bercerita mengenai pengalaman mereka ditangkap polisi saat menunggu rekan bisnis di gerai Starbucks di Philadelphia pada 12 April 2018. ABC/Lorenzo Bevilaqua

    NAACP LDF juga pernah menggugat perusahaan Abercrombie & Fitch (ANF.N), Wet Seal and Denny's Corp (DENN.O) karena diskriminasi rasial dan akhirnya berjanji mengubah kebijakan diskriminasi rasialnya.

    Dalam program pelatihan anti-rasisme ini, karyawan Starbucks akan menonton video yang menampilkan pemimpin perusahaan, artis hip hop Umum dan ahli dari Perception Institute serta dokumenter pendek tentang sejarah rasisme di ruang publik. Para karyawan Starbucks juga akan berpartisipasi dalam diskusi dan sesi pemecahan masalah untuk mengidentifikasi dan menghindari diskriminasi rasial dan rasisme.

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Donald Trump dan Para Presiden AS yang Menghadapi Pemakzulan

    Donald Trump menghadapi pemakzulan pada September 2019. Hanya terjadi dua pemakzulan terhadap presiden AS, dua lainnya hanya menghadapi ancaman.