Eksklusif - Oposisi: Pemilu Malaysia 'Hidup - Mati' bagi PM Najib

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • PM Malaysia Najib Razak. AP/Vincent Thian

    PM Malaysia Najib Razak. AP/Vincent Thian

    TEMPO.CO, Kuala Lumpur - Wakil Presiden Partai Keadilan Rakyat, Tian Chua, mengatakan pemilihan umum Malaysia 9 Mei 2018 merupakan saat yang paling kritis bagi partai pemerintah dan oposisi.

    “Bagi (Perdana Menteri) Najib (Razak), ini adalah momen 'hidup – mati' untuk karir politiknya. Dan kalah tidak hanya akan mengakhiri kekuasaannya tapi juga membuatnya mungkin berakhir di penjara,” kata Tian Chua kepada Tempo lewat aplikasi WhatsApp, Jumat, 20 April 2018.

    Baca: Eksklusif - Wan Azizah: Korupsi Marak Terjadi di Malaysia

    Pada saat yang sama, pemilu kali ini juga menjadi pertarungan politik yang terakhir bagi bekas Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad, yang maju sebagai kandidat calon Perdana Menteri Malaysia dari jalur oposisi yaitu koalisi Pakatan Harapan. Mahathir, 92 tahun, merupakan PM terlama Malaysia yaitu dari 1981 – 2003.

    Mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohammad berbicara kepada kelompok pro-demokrasi, Bersih selama protes 1MDB, di Kuala Lumpur, Malaysia, 19 November 2016. REUTERS/Edgar Su

    Koalisi ini diusung sejumlah partai seperti PKR, Partai Amanah Negara dan Partai Pribumi Bersatu Malaysia. Partai Pribumi, yang baru terbentuk dan digagas Mahathir, saat ini sedang menjalani proses penghentian sementara selama sebulan karena ada kelengkapan administrasi yang dinilai kurang.

    Baca: Bersih 2.0 Khawatir Berita Bohong Rusak Pemilu Malaysia

    “Dia (Mahathir) akan berusaha keras dan tidak bisa kalah. Najib bisa saja menggunakan isu ketegangan etnis untuk menyelamatkan rezim-nya,” kata Tian Chu.

    Dalam wawancara terpisah dengan Tempo, Presiden PKR, Wan Azizah Wan Ismail,  mengatakan partai oposisi menjagokan Mahathir Mohamad dan mengajukannya lewat daerah Langkawi untuk mendapatkan kursi di parlemen.

    Ini karena Mahathir memiliki rekam jejak yang baik di daerah kampung nelayan itu, yang belakangan berubah menjadi destinasi wisata populer ketika Mahathir terpilih menjadi Perdana Menteri Malaysia.

    Tiga Agenda Wan Azizah

    Namun, Barisan Nasional, yang saat ini menjadi koalisi partai penguasa, merupakan pemenang untuk kursi parlemen di Langkawi dengan perolehan suara sekitar 11 ribu pada pemilu sebelumnya.

    "Tun M bertanding untuk kursi yang kurang aman menunjukkan kepercayaan diri untuk menang dan sekaligus mengganti pemerintahan," kata Wan Azizah, yang merupakan seorang ibu rumah tangga dan berubah menjadi politisi setelah suaminya, bekas Deputi PM Malaysia, Anwar Ibrahim, dipenjara karena tudingan korupsi dan sodomi.

    Terkait kasus ini, Anwar Ibrahim menyatakan dirinya tidak bersalah dan menuding pemerintah saat itu, yang dipimpin PM Mahathir, membuat tudingan palsu. Saat ini, Anwar masih tercatat sebagai ketua umum PKR dan sedang menjalani masa tahanan di penjara. Anwar dan Mahathir belakangan berkoalisi untuk mengalahkan Najib.

    Menurut Wan Azizah, Malaysia merupakan negara yang kaya dengan berbagai sumber daya alam seperti minyak bumi, hutan, dan kelapa sawit. Namun, praktek korupsi marak terjadi di pemerintahan.

    “Skandal 1MDB bergaung ke seantero dunia melibatkan lebih dari US$10 miliar (sekitar Rp136 triliun) namun di sensor,” kata Wan Azizah Wan Ismail kepada Tempo lewat WhatsApp, Rabu, 18 April 2018. !MDB merupakan singkatan dari 1 Malaysia Development Berhad, yang merupakan perusahaan pelat merah Malaysia dan berada dalam pusaran skandal korupsi miliaran dolar.

    Dalam berbagai pernyataannya ke publik, PM Malaysia, Najib Razak, membantah dia terlibat dalam kasus dugaan korupsi 1MDB. "Saya minta semua orang membaca hasil laporan dari Komite Akuntan Publik. Apakah ada paragraf yang menyatakan saya mencuri uang 1MDB? Sama sekali tidak ada," kata Najib pada Maret 2018 seperti dilansir media Malaysia Kini.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.