Bersih 2.0 Khawatir Berita Bohong Rusak Pemilu Malaysia

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aktivis dari Koalisi untuk Pemilu Bersih dan Adil (Bersih), menempati jalan utama di depan Menara Kembar Petronas selama reli di Kuala Lumpur, Malaysia, 19 November 2016. AP/Vincent Thian

    Aktivis dari Koalisi untuk Pemilu Bersih dan Adil (Bersih), menempati jalan utama di depan Menara Kembar Petronas selama reli di Kuala Lumpur, Malaysia, 19 November 2016. AP/Vincent Thian

    TEMPO.CO, Jakarta - Kelompok Bersih 2.0 khawatir berita bohong dan pesan bohong mengenai pemilu Malaysia 2018 bisa menyebarkan ketakutan dan kebingungan dikalangan pemilih. Pemilu Malaysia akan diselenggarakan pada 9 Mei 2018. 

    Dikutip dari situs thestar.com.my pada 18 April 2018, Bersih 2.0 atau kepanjangan dari Koalisi Pemilu yang Bebas dan Adil, mengatakan berita-berita bohong yang beredar di media sosial sangat meresahkan. Salah satu berita palsu yang diunggah ke Facebook adalah pemberian tanda centang yang melewati batas kolom bisa membuat suara tidak sah.

    Baca: Najib Minta Koalisi Partai Setia jika Kalah Pemilu Malaysia

    Sejumlah warga memberikan pilihannya dalam pemilu di tempat pemungutan suara di Permatang Pauh, 350 km utara Kuala Lumpur, Malaysia, Minggu (5/5). REUTERS/Samsul Said

    Baca: Langkawi Jagokan Mahathir Mohamad di Pemilu Malaysia 2018 

    Berita bohong lainnya adalah tuduhan nomor seri kotak suara bisa digunakan untuk mengidentifikasi para pemilih sehingga harus di coret. Muncul pula berita bohong, yang memberikan nasihat tidak akurat terkait bagaimana melindungi suara para pemilih. 

    “Untuk memberikan suara, para pemilih hanya perlu menandai pada kertas suara kandidat pilihan Anda dengan tanda X, tidak perlu tanda X ini menutupi seluruh kolom yang mengindikasikan pilihan Anda,” kata Ketua sementara Komite Bersih, Shahrul Aman, mengklarifikasi motode pemberian suara yang sah, Selasa, 17 April 2018. 

    Dalam keterangannya, Bersih 2.0 menyerukan Komisi Pemilu atau EC agar menjalankan tugas sesuai undang-undang dengan cara segera mengklarifikasi kekhawatiran-kekhawatiran di kalangan para pemilih dan proses pemilihan, mengingat gencarnya pesan-pesan di media sosial yang ditujukan untuk menyebar ketakutan di kalangan para pemilih. Bukan hanya itu, Aman pun ingin EC memberikan lebih banyak informasi kepada para pemilih dan memberikan arahan tata cara pemberian hak suara. 

    Dalam pemilu 2018, sejauh ini terdapat dua calon pemimpin, yakni Perdana Menteri Najib Razak dan mantan Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohammad.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Calon Menteri yang Disodorkan Partai dan Ormas, Ada Nama Prabowo

    Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sebanyak 45 persen jejeran kursi calon menteri bakal diisi kader partai.