Kamis, 21 Juni 2018

Skandal Facebook, Ini 5 Pemain Kunci di Cambridge Analytica

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Donald Trump dan Steve Bannon. REUTERS

    Donald Trump dan Steve Bannon. REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Perusahaan analisis data asal Inggris, Cambridge Analytica menjadi fokus pemberitaan media massa di seluruh dunia dalam beberapa hari terakhir.  Firma tersebut menghadapi tuduhan menggunakan informasi dari 50 juta pengguna Facebook untuk memprediksi dan mempengaruhi pemilihan presiden Amerika Serikat 2016.

    Cambridge Analytica yang juga membuka markas di San Antonio, AS, menggunakan data untuk mengubah perilaku pengguna internet yang merupakan pemilih potensial setelah dipekerjakan oleh tim kampanye kepresidenan Donald Trump.

    Menarik tentunya untuk diketahui apa itu Cambridge Analytica dan siapa di belakangnya. Berikut beberapa pemain kunci dalam skandal Cambridge Analytica pada pemilu AS 2016, berdsarkan laporan Independent dan Sky News pada 21 Maret 2018.

    1. Aleksandr Kogan

    Aleksandr Kogan adalah profesor Universitas Cambridge yang mengembangkan aplikasi untuk mengumpulkan data. Ia mengembangkan 'This Is Your Digital Life' melalui perusahaannya Global Science Research (GSR) bekerja sama dengan Cambridge Analytica.

    Aplikasi ini menawarkan pembayaran sebagai imbalan bagi pengguna yang mengisi tes kepribadian.

    Facebook mengatakan aplikasi itu diunduh oleh 270.000 orang, tetapi aplikasi itu juga memberi Kogan akses ke daftar teman-teman Facebook dari sang pengunduh.

    Aplikasi ini bisa memberikan akses khusus, bukan hanya sekadar dari data pengguna dalam aplikasi tersebut, tetapi juga jaringan teman para pengguna aplikasi.

    Kogan menawarkan cara tercepat, termurah, dan berkualitas untuk memanen data pengguna Facebook kepada Christopher Wylie, staf di Cambridge Analytica. Wylie 28 tahun kamudian menjadi whistleblower atau pembocor skandal pencurian data personal pengguna Facebook tersebut.

    Dia kemudian memberikan informasi ke Cambridge Analytica untuk membantu tim kampanye Trump.

    2. Alexander Nix

    Alexander Nix, 42, adalah kepala eksekutif dari Cambridge Analytica. Ia mengembangkan sayap politik perusahaan untuk terlibat dalam kampanye pemilihan di seluruh dunia.

    Dia telah diskors oleh dewan Cambridge Analytica sambil menunggu investigasi independen penuh setelah dia difilmkan oleh wartawan Channel 4 yang menyamar berbicara tentang cara untuk memenangkan kampanye politik melalui pemerasan dan perangkap.

    Nix lah yang menghubungi tim kampanye Trump untuk menjual cara liciknya guna memenangkan Trump.

    3. Christopher Wylie

    Christopher Wylie adalah pengungkap aib skandal ini. Berkat bakat briliannya dalam pemrograman dan ilmu data, ia dipilih sebagai kepala peneliti Cambridge Analytica.

    Ahli analisis data warga Kanada berusia 28 tahun bekerja dengan Cambridge Analytica sejak 2014 dan profesor Cambridge Aleksandr Kogan untuk mendapatkan data secara ilegal dari masyarakat.

    Dia mengatakan kepada The Observer,  Cambridge Analytica menggunakan informasi pribadi yang diambil tanpa izin pada awal 2014 untuk membangun sistem yang dapat menambang profil pemilih AS sehingga mereka dapat ditargetkan dengan iklan politik pribadi.

    Facebook telah menangguhkan akunnya. Wylie mengaku dirinya menyesal bisa terlibat dalam skandal ini.

    4. Steve Bannon

    Banon adalah Kepala ahli strategi Trump yang juga pendiri dan mantan anggota dewan Cambridge Analytica. Bannon juga anggota pendiri berita sayap kanan dan situs komentar Breitbart News.

    Dia menggunakan publikasinya untuk membantu mendorong pesan anti-Washington dan merupakan tokoh kunci dalam pemilihan Trump.

    Christopher Wylie mengatakan kepada Washington Post bahwa Bannon memberi persetujuan kepada perusahaan untuk menghabiskan hampir US $ 1 juta untuk memperoleh data, termasuk profil Facebook, pada tahun 2014.

    Tidak jelas apakah Bannon tahu bagaimana Cambridge Analytica memperoleh data Facebook.

    5. Robert Mercer

    Robert Mercer merupakan pemilik sebagian besar saham Cambridge Analytica. Mercer mendirikan perusahaan bersama dengan Bannon pada 2013.

    Mercer adalah konservatif yang setia dan dikatakan telah menginvestasikan US $ 15 juta di Cambridge Analytica, serta menjadi donor Partai Republik yang sangat dermawan.

    Dia pernah menjadi ilmuwan komputer IBM sebelum melanjutkan bekerja dengan hedge fund yang digerakkan oleh komputer Renaissance Technologies di mana dia menjadi miliarder.

    Dia berhenti sebagai CEO pada November tahun lalu setelah terungkap mendukung Donald Trump dan Bannon.

    Dalam 25 tahun keberadaannya, Cambridge Analytica yang merupakan anak perusahan Strategic Communication Laboratories Group (SCL), telah bekerja untuk klien politik dan militer di Afghanistan, Kenya, Meksiko, Nepal, Somalia dan untuk Departemen Luar Negeri AS.

    Cambridge Analytica memiliki belasan cabang dan kantor di seluruh dunia yang terhubung melalui struktur perusahaan yang kompleks dengan banyak pemegang saham.

    Cambridge Analytica mengatakan memiliki 107 karyawan tetap. Sebagian besar karyawan bekerja di markas pusatnya di London.

    Cambridge Analytica pertama kali muncul sebagai cabang SCL sekitar lima tahun yang lalu. Catatan publik mengungkapkan segelintir pemegang saham dan beberapa kliennya yang paling menonjol, termasuk eks penasihat keamanan nasional Trump, Michael Flynn.

    SKY NEWS|INDEPEDENT|USA TODAY


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Hadiah Juara Piala Dunia Terus Melonjak

    Sejak digelar pada 1982, hadiah uang tunai untuk tim pemenang Piala Dunia terus meningkat. Berikut jumlah duit yang diterima para jawara global ini.