Miliarder Silicon Valley Bayar Rp 137 Juta Demi Hidup Abadi

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sam Altman, Membayar Rp 137 juta Untuk Abadikan Otaknya

    Sam Altman, Membayar Rp 137 juta Untuk Abadikan Otaknya

    TEMPO.CO, Jakarta - Seorang miliarder Silicon Valley mengungkapkan rencana untuk melestarikan otaknya selamanya dan mengunggah semua kenangan yang terkandung di dalamnya ke komputer.

    Sam Altman, pendiri perusahaan investasi benih YCombinator adalah salah satu dari sejumlah besar petinggi Silicon Valley yang mencari cara untuk mengelabui kematian.

    Baca: Stephen Hawking: Manusia Bisa Hidup Abadi

    Dia telah membayar US $ 10.000 atau setara Rp 137,5 juta untuk bergabung dalam daftar tunggu di Nectome, sebuah start up yang menjanjikan melestarikan otak manusia dan mengunggahnya ke komputer untuk memberi kehidupan kekal.

    Meskipun Nectome telah menyatakan bahwa metode tersebut 100 persen berakibat fatal, tapi Altman tetap yakin pikirannya akan hidup abadi.

    "Saya menganggap otak saya akan diunggah ke komputer," kata Altman, seperti dilansir Mirror pada 17 Maret 2018.

    Pria berusia 32 tahun itu tidak sendiri. Sedikitnya 24 orang lainnya juga telah membayar untuk bergabung dengan daftar tunggu di Nectome.

    Nectome menggunakan teknik yang disebut vitrifixation yang mengubah otak dari konsistensi lembut dan berair dengan karet lunak dan kemudian membekukannya. Perusahaan berharap agar konten tersebut bisa diunggah ke simulasi komputer di masa depan.

    Menurut pendirinya, metode itu diupayakan agar ilmu pengetahuan terus diwarisi ke generasi berikutnya dengan mudah.

    Baca: Rekayasa Genetika dan Kecerdasan Buatan Bisa Bikin Manusia Abadi?

    "Saat ini, ketika satu generasi binasa, kita kehilangan semua kebijaksanaan kolektif mereka. Anda bisa mengirimkan pengetahuan ke generasi berikutnya, tapi lebih sulit untuk mengirimkan kebijaksanaan yang dipelajari," kata Robert McIntyre.

    Tapi karena prosesnya membutuhkan 'otak segar' bahan kimia pembalseman perlu dipompa ke klien saat mereka masih hidup, dimana itu berarti orang yang mendaftar secara efektif rela dibunuh.

    Netcome mengatakan,  proses tersebut akan akan memasukkan pelanggan yang masih hidup ke mesin yang akan memompa mereka penuh dengan bahan kimia pembalseman. Itu berarti pelanggannya membayar seseorang untuk membunuhnya.

    "Pengalaman pengguna akan identik dengan bunuh diri yang dibantu dokter," kata pendiri Nectome.

    Layanan penyimpanan Nectome belum untuk dijual dan masih belum ada bukti bahwa kenangan pada otak bisa tetap ada, atau dapat dikeluarkan dari jaringan yang mati.

    Namun perusahaan sudah memiliki daftar tunggu klien masa depan termasuk miliarder Silicon Valley itu, siap untuk terjun pada peluang jika atau saat prosedur menjadi legal. Dan mungkin tersedia lebih cepat dari perkiraan. Bantuan bunuh diri secara medis legal di lima negara bagian Amerika Serikat dan Nectome telah mendapatkan hibah federal yang besar untuk penelitiannya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Beda Kerusuhan Mei 2019 dengan Kengerian di Ibu Kota 1998

    Kerusuhan di Jakarta pada bulan Mei terjadi lagi, namun kejadian di 2019 berbeda dengan 1998. Simak kengerian di ibu kota pada akhir Orde Baru itu.