Senin, 18 Juni 2018

Petani dan Aktivis Dukung Referendum Catalonia Pisah dari Spanyol

Reporter:
Editor:

Choirul Aminuddin

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Demokrat Konvergensi Catalonia Artur Mas (kiri),  dan Oriol Junqueras, presiden partai Esquerra Republicana de Catalunya di depan pendukungnya di Barcelona, Spanyol, 27 September 2015. AP/Manu Fernandez

    Presiden Demokrat Konvergensi Catalonia Artur Mas (kiri), dan Oriol Junqueras, presiden partai Esquerra Republicana de Catalunya di depan pendukungnya di Barcelona, Spanyol, 27 September 2015. AP/Manu Fernandez

    TEMPO.CO, Jakarta - Ratusan petani turun ke jalan membawa traktor untuk menunjukkan dukungannya terhadap referendum, berpisah dari Spanyol.

    "Mereka mengendarai traktor melintasi jalan-jalan di Barcelona sebagai bentuk dukungan berpisah dari Spanyol," tulis Al Jazeera.

    Setali tiga uang dengan sikap para petani Catalonia, para pecinta lingkungan akan melakukan gerakan masyarakat sipil untuk melawan pemerintah yang berupaya menghentikan referendum.

    Baca: Tuntutan Referendum Catalonia Semakin Kuat

    Guna mencegah kerusuhan aksi para pendukung referendum ini, pemerintah Spanyol menurunkan ribuan polisi nasional. Sebagaimana diberitakan Radio Australia, para penegak hukum itu melakukan patroli di jalan-jalan Barcelona untuk mengamankan kota.

    "Barcelona sebagai salah satu kota terbesar destinasi wisata di Eropa saat ini seperti menjadi zona perang," Radio Australia melaporkan

    Ribuan polisi Spanyol  bergerak ke dalam kota untuk menghentikan niat otoritas regional mengadakan referendum kemederkaan pada Ahad, 1 Oktober 2017.

    Sebelumnya, pada Kamis 28 September 2017, mahasiswa dan aktivis lainnya berunjuk rasa menuntut hak melakukan pemungutan suara. Keadaan itu membuat kota tersebut memanas, mengingatkan orang pada konfrontasi sipil terburuk sejak perbaikan demokrasi di Spanyol pada 1980.

    Baca: Lagi, Spanyol Batalkan Referendum Catalonia

    "Tidak ada yang bersedia mendegarkan satu sama lain," kata Carles Castellanos, 75 tahun, seorang pensiunan guru dan aktivis politik terkemuka di Barcelona.

    "Pemerintah Spanyol dan penuntut referendem kemerdekaan saling mempertahankan posisi masing-masing, tidak ada negosiasi," tambahnya.

    Seperti para orang tua Catalan lainnya, Castllenasos tidak pernah berpikir bahwa dia bersama orang-orang lanjut usia tidak akan melihat kotanya, Barcelona, melakukan pemungutan suara untuk merdeka.

    Dia pernah mendekam dalam penjara empat kali di bawah diktator Jenderal Fransisco Franco, seorang nasionalis Spanyol yang kejam. Dia menekan bahasa dan budaya Catalan dari 1930-an sampai kematiannya pada 1975.

    Kini, Castellanos akan memutuskan memilih "Ya" di bilik suara untuk menentukan nasib sendiri kaum Catalan.

    "Kami diperintahkan memaafkan dan melupakan kejahatan yang dilakukan oleh kaum fasis, seperti penyiksaan oleh Pengawal sipil. Namun mereka akan datang ke sini untuk mencoba dan menghentikan referendum," ucapnya.
     AL JAZEERA | ABC RADIO AUSTRALIA


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Ini 10 Negara Teraman di Dunia. Indonesia Salah Satunya

    Lembaga survei Gallup baru saja merilis survei negara teraman di dunia. Indonesia masuk sepuluh besar.