Pemilu Parlemen Singapura dan Ancaman Partai Oposisi  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemilih mengantre untuk memasukan surat suara mereka saat Pemilu di Singapura. REUTERS/Edgar Su

    Pemilih mengantre untuk memasukan surat suara mereka saat Pemilu di Singapura. REUTERS/Edgar Su

    TEMPO.CO, Jakarta -  Warga Singapura memberikan suara mereka dalam pemilihan parlemen, Jumat, 11 September 2015. Menyusul kampanye 9 hari yang dipanaskan oleh isu dan harapan partai-partai oposisi untuk menggusur dominasi setengah abad partai yang berkuasa, Partai Aksi Rakyat (PAP).

    PAP, yang turut didirikan pemimpin kemerdekaan Lee Kuan Yew dan sekarang dipimpin putranya, Perdana Menteri Lee Hsien Loong, diperkirakan akan mempertahankan mayoritas di parlemen, dengan 89 kursi. Demikian dilaporkan The Guardian, pada 11 September 2015.

    Tapi analis mengatakan oposisi yang selama ini didukung kehadiran besar massa di kampanye terbuka--sebaliknya kehadiran massa sedikit dalam pertemuan PAP--bisa membuat terobosan lebih lanjut dan membuka jalan menuju sistem dua partai.

    PAP, yang dipercaya menjadikan kota pulau itu maju dan makmur dengan menggunakan tangan besi untuk menekan perbedaan pendapat, terkejut atas hasil pemilu 2011 ketika total suara yang mereka peroleh hanya 60 persen atau terendah. Ia meraih 80 kursi berkat sistem voting parlemen, sedangkan Partai Buruh (WP) mendapat 7 kursi, oposisi yang pernah tertinggi.

    Dalam kampanye kali ini, WP mendesak para pemilih mendukung pembangunan oposisi legislatif yang kuat untuk mengendalikan dominasi PAP dan memaksa untuk mereformasi kebijakan imigrasi, kesehatan, serta jaring pengaman sosial bagi masyarakat miskin dan lansia.

    "Kita tidak bisa membiarkan Singapura jatuh ke dalam situasi di mana kelangsungan hidup kita hanya bergantung pada PAP atau hanya pada salah satu pihak," kata Ketua WP Low Thia Khiang dalam pidato kampanye.

    Selain WP, perhatian patut diberikan kepada partai kecil, Partai Demokrat Singapura (SDP), yang dipimpin Chee Soon Juan, seorang pembangkang yang telah menarik ribuan orang setelah berada di padang gurun politik selama bertahun-tahun.

    Seperti pada 2011, partai oposisi itu keras mengkritik PAP atas persoalan imigrasi. Populasi di negara itu melonjak dari 4, 17 juta pada 2004 menjadi 5,47 juta pada 2014.

    Pemerintah kemudian harus menghabiskan miliaran dolar untuk infrastruktur perumahan rakyat dan transportasi setelah Singapura mengeluhkan kepadatan penduduk karena masuknya imigran dan pekerja tamu.

    Dikutip dari The Guardian bahwa ada 2.460.000 pemilih memenuhi syarat yang akan memilih 89 anggota parlemen. Polling dibuka pada pukul 08.00 waktu setempat dan akan ditutup 12 jam kemudian, dengan hasil diharapkan bisa diketahui pada tengah malam.

    THE GUARDIAN | MECHOS DE LAROCHA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Selamat Jalan KPK

    Berbagai upaya melemahkan posisi KPK dinilai tengah dilakukan. Salah satunya, kepemimpinan Firli Bahuri yang dinilai membuat kinerja KPK jadi turun.