Suami Tewas, Wanita Ini Gugat Dirinya Sendiri di Pengadilan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi. TEMPO/ Ali Said

    Ilustrasi. TEMPO/ Ali Said

    TEMPO.CO, Utah - Seorang wanita asal Sat Lake, Amerika Serikat mengajukan gugatan terhadap dirinya sendiri di pegadilan atas kematian suaminya. Barbara Bagley, nama wanita ini, bertindak baik sebagai terdakwa dan penggugat dalam kasus itu, di mana ia mengklaim kelalaiannya dalam berkendara menyebabkan mobilnya terguling dan sang suami tewas.

    Pasangan ini sebelumnya melakukan perjalanan melalui gurun Nevada pada tanggal 27 Desember 2011, ketika Bagley menabrak semak dan kehilangan kendali kendaraannya. Akibatnya, mobil 4x4 yang mereka tumpangi terbalik dan suaminya mengalami luka serius. Ia meninggal setelah 10 hari dirawat di rumah sakit.

    Salah satu anjing mereka, Delaney, tewas dalam kecelakaan itu dan anjing gembala lainnya, Dooley, melarikan diri setelah kecelakaan itu. Dia ditemukan hidup di padang pasir 53 hari kemudian.

    Bagley mengklaim dalam kasus yang dikenal sebagai Bagley v Bagley itu ia terus mengendarai kendaraannya sementara menyadari potensi bahaya. Akibat kecelakaan itu dia mengalami gegar otak, tulang rusuk patah, pergelangan tangan hancur, dan kedua paru-parunya tertusuk tulang rusuk.

    Hakim distrik Paul Maughan menghentikan kasus pada bulan Januari tahun lalu. Namun, sebuah pengadilan banding mencabutnya dan memutuskan bahwa undang-undang Utah tidak melarangnya untuk mencari keadilan atas kerugian yang ditimbulkan oleh diri sendiri.

    Bagley disebut mencari ganti rugi dalam kecelakaan itu untuk membayar kreditur, biaya medis, dan pemakaman serta kompensasi atas kecelakaan yang merenggut nyawa suaminya. Pengadilan menyatakan bahwa kepentingan terdakwa dalam kasus ini diwakili oleh perusahaan asuransi yang diikutinya.

    SALT LAKE TRIBUNE | INDAH P.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.