Dua Mahasiswa Indonesia Memisahkan Diri, Tolak Tinggalkan Irak

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta:Saefudin dan Ojat Sudrajat, dua mahasiswa Indonesia di Bagdad, Irak, menolak untuk dievakuasi bersama warga Indonesia lainnya dari Irak. Mereka memutuskan memisahkan diri dari rombongan yang diperkirakan akan segera meninggalkan Irak, Senin (17/3) siang dan sore. Dua orang itu tiba-tiba menghilang, sudah tidak ada lagi, kata Duta Besar Indonesia untuk Irak, Dachlan Abdul Hamied, ketika dihubungi di sela-sela kesibukannya mengemas barang-barang pribadinya, Senin (17/3) siang waktu setempat, di kantornya. Dachlan menjelaskan bahwa baik Saefudin maupun Ojat telah berulang kali menunjukkan pendiriannya untuk tidak mau meninggalkan Irak. Bahkan sebelumnya mereka sudah tiga kali menolak undangan untuk bertemu dengan saya untuk melakukan dialog, ujar Dachlan. Dachlan lalu mengaku memperoleh informasi bahwa Saefudin memutuskan untuk bermukim di sebuah pesantren di Paluja, 150 km dari Bagdad. Sedang Ojat bersikukuh untuk tetap tinggal di asrama di Bagdad, melanjutkan studinya. Lebih jauh, Dachlan meminta untuk disampaikan permintaan maafnya karena tidak mampu mengajak keduanya melakukan evakuasi. Saya mohon maaf kepada keluarganya di Jakarta karena saya tidak dapat menyentuh mereka, kata dia menyesalkan tindakan Saefudin dan Ojat. Dachlan juga meminta agar keduanya didoakan selamat. Sementara, 25 mahasiswa Indonesia lainnya menyatakan kesediaannya untuk dievakuasi. Hanya saja, akibat kesediaan yang baru diberikan oleh para mahasiswa itu Minggu (17/3) kemarin maka tidak seluruhnya dapat dievakuasi ke Suriah. Sebagian dari mereka terpaksa dievakuasi ke Amman, Yordania. "Proses exit permit ke Suriah lebih sulit, sedang sebagian besar mahasiswa belum mempersiapkan seluruh dokumennya. Sehingga kami yang dibikin kalang kabut mengurus mereka semua dahulu," katanya. Rombongan yang menuju ke Yordania terdiri dari 21 orang, ditambah dengan seorang wartawan elektronik dan Kepala Bidang Penerangan Kedubes RI yang ikut mendampinginya. Sedang empat mahasiswa lainnya yang kembali dievakuasi ke Suriah ditemani staf kedutaan lainnya termasuk Dachlan dan juga sejumlah wartawan. Para mahasiswa itu, menurut Dachlan, mendapatkan jatah cuti dari sekolahnya masing-masing. Dachlan menjelaskan proses evakuasi akhir yang seharusnya sudah dapat dilakukan Minggu malam itu didasari atas anjuran dari UNMOVIC (Badan PBB yang melakukan pengawasan, verifikasi dan inspeksi terhadap persenjataan Irak). Selain itu juga atas perkembangan di lapangan dimana hampir seluruh perwakilan asing telah meninggalkan Irak. Rusia dan Cina masih ada, Asia Selatan sudah habis, Asia Tenggara tinggal Vietnam, Eropa sudah keluar, Malaysia, Filipina, Thailand, Pakistan, India, Srilanka, Bangladesh juga sudah kosong, urai diplomat non karier asli Garut, Jawa Barat, itu. Sementara, secara terpisah, Juru Bicara Departemen Luar Negeri, Marty Natalegawa, menegaskan bahwa tidak ada upaya lain dari pemerintah untuk membawa kedua mahasiswa yang tersisa di Irak. Dia menyatakan bahwa pemerintah melalui Departemen Luar Negeri dan perwakilannya telah melakukan upaya yang maksimal untuk keselamatan warga Indonesia. Marty menyebutkan upaya itu antara lain evakuasi yang pernah dilakukan, kelanjutan studi di Suriah dan juga berbagai bujukan. Itu memang pilihan mereka, kata Marty. (Wuragil-Tempo News Room)

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.