Kunjungi Gaza, Sekjen PBB Terenyuh  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seoarng anak Palestina bermain sepeda di area Sekolah Dasar Abu Kris Primary School yang rusak akibat serangan Israle di Shujayah, Gaza, 14 September. Ashraf Amra/Anadolu Agency/Getty Images

    Seoarng anak Palestina bermain sepeda di area Sekolah Dasar Abu Kris Primary School yang rusak akibat serangan Israle di Shujayah, Gaza, 14 September. Ashraf Amra/Anadolu Agency/Getty Images

    TEMPO.CO, Gaza - Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Ban Ki-moon terenyuh saat melakukan kunjungan ke Gaza. Memang, sejak awal, Ban ingin mengunjungi daerah yang hancur akibat serangan Israel tersebut untuk mendengar langsung keluhan dari warga. (Baca: PBB Akan Bangun Kembali Jalur Gaza)

    “Saya ingin menggunakan kesempatan ini untuk mengungkapkan duka saya yang paling dalam bagi mereka yang wafat dan juga kepada yang ditinggalkan,” ujar Ban, seperti dikutip BBC, Selasa, 14 Oktober 2014.

    Kedatangannya ke Gaza dimanfaatkan penduduk setempat untuk mencurahkan semua keluh kesah mereka yang menjadi korban pertempuran antara Hamas dan Israel pada Juli lalu. Sejumlah warga membawa poster yang memperlihatkan para korban untuk menyambut Sekjen PBB tersebut.

    Ban juga mengecam serangan Israel yang mengenai sebuah sekolah milik PBB di Gaza. Sekolah yang dijadikan tempat mengungsi itu diklaim Israel sebagai tempat persembunyian senjata Hamas, Sebanyak 15 orang tewas dalam serangan tersebut sedangkan 200 lainnya terluka. (Baca: Israel Serang Sekolah Milik PBB di Gaza)

    Dalam kunjungannya ini, Ban juga menyempatkan diri melihat puing-puing di kawasan Shejaiya dan mengunjungi tempat pengungsian Jabaliya.

    ANINGTIAS JATMIKA | BBC

    Terpopuler
    ISIS Ingin Dirikan Negara Islam di Vatikan
    Separuh Kobane Sudah Dikuasai ISIS
    Pedofil Australia Sering Kirim Uang ke Indonesia


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.