Kanada Akan Sumbang Vaksin Ebola ke WHO

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Senior Matron Breda Athan, mendemontrasikan menggunakan pakaian pengaman berdiri disamping tempat tidur ruang isolasi yang dipersiapkan untuk pasien penderita virus ebola di Rumah Sakit Royal Free, London (12/8). Rumah Sakit Royal Free mempersiapkan 2 ruang isolasi bagi pasien virus ebola yang telah menewaskan 1000 orang di Afrika Barat. REUTERS/Suzanne Plunkett

    Senior Matron Breda Athan, mendemontrasikan menggunakan pakaian pengaman berdiri disamping tempat tidur ruang isolasi yang dipersiapkan untuk pasien penderita virus ebola di Rumah Sakit Royal Free, London (12/8). Rumah Sakit Royal Free mempersiapkan 2 ruang isolasi bagi pasien virus ebola yang telah menewaskan 1000 orang di Afrika Barat. REUTERS/Suzanne Plunkett

    TEMPO.CO, Ottawa - Kanada akan menyumbang sejumlah kecil vaksin ebola yang dikembangkan di laboratorium pemerintah kepada Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Sumbangan vaksin ebola yang belum diuji coba pada manusia itu bertujuan membantu negara-negara Afrika yang terkena wabah ebola. (Baca: WHO: Korban Tewas Virus Ebola Tembus 1.000 Orang)

    Menurut Kementerian Kesehatan Kanada, vaksin yang akan disumbangkan berkisar 800-1.000 dosis vaksin. Banyaknya vaksin ini bergantung pada hasil akhir penelitian dan uji klinis. Pemerintah Kanada juga akan menyisakan sedikit pasokan untuk mengantisipasi kasus serupa di dalam negeri.

    Menteri Kesehatan Kanada Rona Ambrose mengatakan vaksin ebola eksperimental itu sudah ditawarkan kepada Direktur Jenderal WHO Margareth Chan. (Baca juga: Pastor Asal Spanyol Meninggal karena Ebola)

    Kanada hanya memiliki 1.500 dosis vaksin hewan yang diciptakan sejak beberapa tahun lalu. Untuk membuat vaksin dalam jumlah besar, dibutuhkan 4-6 bulan. Vaksin ebola yang masih diuji coba oleh pemerintah Kanada ini dikembangkan oleh Tekmira Pharmaceuticals.

    "Kami melihat ini sebagai sumber daya global, sesuatu yang perlu menjadi perhatian dunia. Bagaimana bisa membuat penggunaan terbaik dari aset ini. Kami sedang mengusahakannya secepat mungkin," kata Taylor, seperti dilansir The Guardian, Rabu, 13 Agustus 2014.

    Ebola menjadi virus paling mematikan saat ini. WHO mencatat jumlah korban tewas akibat virus ebola telah mencapai 1.013 orang. Sebagian besar adalah negara-negara di Afrika Barat, yakni Guinea, Liberia, dan Sierra Leone. Pekan lalu, WHO juga sudah menetapkan ebola sebagai darurat kesehatan internasional. (Baca: WHO: Korban Tewas Virus Ebola Tembus 1.000 Orang)

    Taylor mengatakan vaksin yang dikembangkan pemerintah Kanada itu telah dinyatakan terbukti efektif pada hewan, tapi belum pernah diuji pada manusia. Vaksin tersebut telah mendapat lisensi untuk komersialisasi dari perusahaan Amerika Serikat BioProtection Systems, sebuah unit dari NewLink Genetics.

    Jika vaksin ebola berhasil dikembangkan pada manusia, dosis pertama kemungkinan akan digunakan bagi petugas layanan kesehatan. Badan Kesehatan Masyarakat Kanada juga terlibat dalam pengembangan ZMapp, pengobatan eksperimental ebola yang telah digunakan untuk mengobati dua pekerja Amerika. (Baca juga: AS Kirim Obat Penangkal Ebola ke Afrika Barat)

    THE GUARDIAN | ROSALINA




    Terpopuler Dunia
    PBB Akan Selidiki Kejahatan Perang Israel di Gaza
    Pastor Asal Spanyol Meninggal karena Ebola 
    Barat Kecam Konvoi Bantuan Kemanusiaan Rusia 
    WHO: Korban Tewas Virus Ebola Tembus 1.000 Orang


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tingkat Kepuasan Kinerja dan Catatan Baik Buruk 5 Tahun Jokowi

    Joko Widodo dilantik menjadi Presiden RI periode 2019 - 2024. Ada catatan penting yang perlu disimak ketika 5 tahun Jokowi memerintah bersama JK.