AS Kirim Obat Penangkal Ebola ke Afrika Barat

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dokter Florian Steiner, teliti gejala Ebola lewat mikroskop di pusat karantina penderita penyakit menular di RS Charite, Berlin, Jerman, 11 Agustus 2014. Gejala Ebola seperti demam, muntah dan diare. Pengawasan diperlukan untuk cegah penyebarannya dengan standar kebersihan yang tinggi. REUTERS/Thomas Peter

    Dokter Florian Steiner, teliti gejala Ebola lewat mikroskop di pusat karantina penderita penyakit menular di RS Charite, Berlin, Jerman, 11 Agustus 2014. Gejala Ebola seperti demam, muntah dan diare. Pengawasan diperlukan untuk cegah penyebarannya dengan standar kebersihan yang tinggi. REUTERS/Thomas Peter

    TEMPO.CO, Washington - Mapp Bio mengirimkan seluruh persediaan obat untuk menangkal serangan virus ebola ke Afrika Barat. Mapp Bio adalah perusahaan farmasi Amerika Serikat yang gencar melakukan percobaan untuk membuat obat virus ebola.

    Ebola menyebar cepat di negara-negara Afrika Barat, yakni Sierra Leone, Liberia, Guinea, dan Nigeria, sejak Maret lalu, dan menjadikan virus tersebut sebagai wabah terbesar sepanjang sejarah. Sebanyak 961 orang tewas akibat serangan virus ini.

    "Menanggapi permintaan yang diterima pekan ini dari negara-negara Afrika Barat, pasokan ketersediaan obat ZMapp telah terpakai habis," demikian bunyi pernyataan dalam situs Mapp Bio, seperti dilansir Channel News Asia, Selasa, 12 Agustus 2014.

    Perusahaan tidak menyebutkan negara mana yang mendapatkan dosis obat itu atau berapa banyak yang dikirimkan. Namun saluran berita CNN melaporkan bahwa Liberia adalah negara yang menerima dosis sampel obat itu. (Baca: Negara Terjangkit Ebola Berstatus Darurat Nasional)

    Situs Mapp Bio memuat peringatan bahwa setiap keputusan untuk menggunakan ZMapp harus dilakukan oleh tim medis pasien. Obat tersebut masih dalam tahap penelitian eksperimental dan belum menjalani uji klinis dalam kasus mana pun.

    Kolaborasi biomedis antara peneliti Amerika Serikat dan Kanada melibatkan obat yang diproduksi menggunakan daun tembakau. Sayangnya, obat ini sulit untuk diproduksi dalam skala besar. Peneliti dari Arizona State University menemukan inovasi dalam penggunaan daun tembakau untuk memproduksi monoclonal antibody (Mab) sebagai obat penyakit West Nile virus. (Baca: Kenali Beberapa Cara Mencegah Penularan Virus Ebola)

    Dua misionaris asal Amerika yang terjangkit ebola saat bekerja di Monrovia bulan lalu diberi dosis obat tersebut. Keduanya telah dibawa ke unit isolasi di Emory University Hospital di Atlanta, Georgia. Di sana, mereka menerima perawatan secara berkelanjutan. Pendeta Spanyol yang tertular ebola juga telah diberikan obat yang sama. (Baca: Pengakuan Dokter AS yang Terjangkit Ebola)

    Etika dalam pendistribusian obat eksperimental tentang obat ebola dengan terapi ZMapp menjadi fokus dari pertemuan khusus Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Senin kemarin. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit berulang kali menekankan bahwa efek obat tersebut belum diketahui karena belum melalui proses uji klinis yang ketat. Saat ini tidak ada obat atau vaksin untuk ebola di pasar dunia.

    CHANNEL NEWS ASIA | ROSALINA



    Terpopuler Dunia:
    Suami-Istri Jatuh ke Jurang Saat Berfoto Selfie 
    Rute Pendukung ISIS dari Indonesia Menuju Suriah
    Kekasih Clooney Tolak Gabung dalam Panel Gaza PBB 
    Berkomentar Pedas, Israel Minta Maaf ke Brasil  



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.