Situasi Memanas, Pencarian Korban MH17 Dihentikan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas dari Ukrainian Emergencies Ministry di reruntuhan pesawat Malaysia Airlines MH17 yang ditembak jatuh di Donetsk, 20 Juli 2014. Ukraina menuduh pemberontak pro-Rusia berupaya merusak bukti penembakan MH17. REUTERS/Maxim Zmeyev

    Petugas dari Ukrainian Emergencies Ministry di reruntuhan pesawat Malaysia Airlines MH17 yang ditembak jatuh di Donetsk, 20 Juli 2014. Ukraina menuduh pemberontak pro-Rusia berupaya merusak bukti penembakan MH17. REUTERS/Maxim Zmeyev

    TEMPO.CODen Haag – Perdana Menteri Belanda Mart Rutte menyatakan pencarian bagian-bagian tubuh dan barang-barang pribadi milik korban jatuhnya pesawat Malaysia Airlines MH17 di wilayah Donetsk ditangguhkan sementara. Alasannya, keamanan wilayah yang berada di timur Ukraina tersebut memburuk.

    "Tidak mungkin melanjutkan operasi dengan kondisi seperti ini," kata pemimpin Belanda itu dalam konferensi pers di Den Haag, seperti dikutip The Telegraph, Kamis, 7 Agustus 2014. (Baca: Cari Jenazah, Milisi Pro-Rusia, 'Ubah' Puing MH17)

    Menurut Rutte, meningkatnya ketegangan antara Kiev dengan militan separatis pro-Rusia di daerah tersebut telah membuat wilayah ini menjadi sangat tidak aman untuk melanjutkan pencarian sisa-sisa korban. (Baca: Sisa Jenazah Korban MH17 Terus Dicari Tim Forensik)

    "Australia, Malaysia, serta Organisasi untuk Keamanan dan Kerja Sama telah bekerja bersama kami untuk mengatasi masalah ini," kata Rutte. "Kami telah melakukan apa yang kami bisa dalam situasi saat ini."

    Malaysia Airlines MH17 jatuh pada 17 Juli lalu di wilayah Ukraina yang dikuasai separatis pro-Rusia. Sejumlah pihak, termasuk Amerika Serikat, meyakini bahwa separatis telah menembak jatuh pesawat ini dengan misil Buk. Namun, mereka membantah tuduhan ini. Rusia justru balik menuding militer Ukraina-lah yang melakukan serangan.

    Sebanyak 298 penumpang, termasuk awak kapal, tewas dalam kecelakaan ini. Pesawat yang terbang dari Amsterdam menuju Kuala Lumpur itu membawa sejumlah warga negara, di antaranya dari Belanda, Malaysia, Australia, dan Indonesia.

    ANINGTIAS JATMIKA | THE TELEGRAPH


    Terpopuler


    Perusahaan Belanda Menang Tender Cari MH370
    Pria Berjanggut Dilarang Naik Bus di Xinjiang 
    Arab Saudi Biayai Tentara Libanon Rp 14 Triliun

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.