Jelang Piala Dunia, Aksi Demo Belum Juga Usai  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang perwira polisi militer menembakkan granat gas air mata terhadap demonstran saat protes terhadap Piala Dunia FIFA di luar Stadion Nasional di Brasilia, Brasil (27/5). (AP/Eraldo Peres)

    Seorang perwira polisi militer menembakkan granat gas air mata terhadap demonstran saat protes terhadap Piala Dunia FIFA di luar Stadion Nasional di Brasilia, Brasil (27/5). (AP/Eraldo Peres)

    TEMPO.CO, Sao Paulo - Ribuan tunawisma berbaris di depan Stadion Corinthians di Sao Paolo, Brasil. Aksi demo yang berlangsung aman ini dihadiri oleh para aktivis dari Gerakan Pekerja Tunawisma untuk memprotes besarnya anggaran pemerintah untuk persiapan acara ini. (Baca: Warga Brasil Demo Piala Dunia 2014)

    Dikutip dari BBC News, aksi protes dilakukan Jumat malam, 6 Juni 2014, waktu setempat, sehari setelah Presiden Dilma Rousseff melarang aksi protes atau kekerasan apa pun yang mungkin mengganggu Piala Dunia nanti.

    Aksi demo penolakan Piala Dunia juga dilakukan oleh 10 ribu orang yang memblokir jalan raya utama di Sao Paulo sejak Rabu lalu. Demonstran menuntut pemerintah memberikan dana untuk kesehatan, pendidikan, dan transportasi bersubsidi. (Baca: Aksi Mogok Kerja di Brasil Lumpuhkan Transportasi)

    Masyarakat dari berbagai latar belakang, termasuk polisi, guru, dan pekerja tranportasi telah melakukan aksi mogok kerja sejak bulan lalu. Bahkan, aksi ini telah melumpuhkan transportasi kereta api karena operator meminta kenaikan gaji dan kesejahteraan dari pemerintah.

    Polisi lalu lintas di Sao Paulo, kota paling padat di dunia, juga melakukan aksi mogok kerja. Akibatnya, sejumlah ruas jalan di kota-kota Brasil mengalami kemacetan lalu lintas panjang. Mereka juga meminta kenaikan gaji karena tugas mengamankan kota-kota di Brasil, terutama Rio de Janeiro, akan lebih berat selama acara berlangsung. (Baca: Jelang Piala Dunia, Polisi Brasil Minta Naik Gaji)

    Di sisi lain, rencana aksi mogok pekerja pabrik dan industri dibatalkan setelah pemerintah menawarkan kenaikan gaji sebanyak 16 persen.

    RINDU P. HESTYA | BBC NEWS

    Berita Lain:
    Pria Australia Klaim Tiduri Ratusan Gadis di Bali
    Tolak Diperkosa, Wanita India Ditembak Mati
    AS: Belanja Militer Cina Lebih dari US$ 145 Miliar


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Pilkada Langsung, Melalui DPRD, dan Asimetris

    Tito Karnavian tengah mengkaji sejumlah pilihan seperti sistem pilkada asimetris merupakan satu dari tiga opsi yang mungkin diterapkan pada 2020.