5 WNI Tewas Di Tembak Polisi Malaysia

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aktivis Benteng Demokrasi Rakyat (Bendera) berunjukrasa di depan markas Bendera Jakarta Pusat, Minggu (29/04). Bendera mendesak pemerintah Indonesia memberikan protes keras terhadap kematian tiga TKI yang ditembak Polisi Malaysia. TEMPO/Dasril Roszandi

    Aktivis Benteng Demokrasi Rakyat (Bendera) berunjukrasa di depan markas Bendera Jakarta Pusat, Minggu (29/04). Bendera mendesak pemerintah Indonesia memberikan protes keras terhadap kematian tiga TKI yang ditembak Polisi Malaysia. TEMPO/Dasril Roszandi

    TEMPO.CO, Batam - Fitria Susanti menyatakan sebanyak lima Warga Negara Indonesia tewas ditembak Polisi Diraja Malaysia. Kelima orang itu adalah Osnan, Hamid, Diden, Noh, dan Joni.

    Fitria menduga organ tubuh korban telah diambil untuk diperjualbelikan. “Ini bekas sayatan, jadi pasti hati dan paru-paru diambil,” kata Fitria, istri Osnan, yang menjadi korban penembakan tersebut, Rabu, 12 September 2012.

    Osnan bekerja di Malaysia sebagai pemetik buah kelapa sawit. Biasanya Osnan selalu pulang ke Batam setiap hari sebab waktu tempuh Batam-Johor Bahru hanya dua jam.

    Kecurigaan Fitria muncul saat sudah tiga bulan suaminya tak pulang. “Lebaran saja tidak pulang,” katanya. Oleh karena itu ia menghubungi teman di negeri jiran itu dan mendapat kabar bahwa Osnan tewas ditembak polisi.

    Polisi diduga menembak kelima orang WNI karena dituduh melakukan perampokan. Noh dan Joni ditembak mati oleh Polisi Diraja Malaysia karena dituduh merampok di Ipoh Perak, Pulau Pinang, Malaysia. 

    Soal tuduhan ini, Fitria membantah suaminya seorang perampok. “Suami saya orang baik-baik, kok,” ucapnya. Mat dan Endang—kerabat Fitria--yang mengabari Osnan meninggal karena ditembak polisi ini juga tak percaya Noh merampok di Malaysia.

    “Polisi Malaysia biadab,” kata Devi, istri Joni. Ia mengaku awalnya tak menganggap serius saat menerima kabar suaminya dan Osnan meninggal hari Jumat pekan lalu.

    Baik Fitria dan Devi berharap pemerintah Indonesia mencari kejelasan mengapa polisi Diraja Malaysia tega menembak WNI yang bekerja di sana. Sebab ia sendiri tak mungkin pergi ke Malaysia dengan kondisi keuangan yang tak jelas setelah ditinggal mati suami. “Tolong kami, pak!” kata Fitria sambil berurai air mata, dan menggendong anaknya berusia satu setengah tahun.

    Ketika hendak dikonfirmasi, Juru bicara Kementerian Luar Negeri Michael Tene tak mengangkat telepon dan tak membalas pesan pendek yang dikirimkan oleh Tempo. Tempo juga belum berhasil menghubungi petugas komunikasi Kedutaan Besar Republik Indonesia di Malaysia. 

    RUMBADI DALLE | ANANDA BADUDU


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tito Karnavian Anggap OTT Kepala Daerah Bukan Prestasi Hebat

    Tito Karnavian berkata bahwa tak sulit meringkus kepala daerah melalui OTT yang dilakukan Komisi Pemerantasan Korupsi. Wakil Ketua KPK bereaksi.