Bella Esperanza di Bioskop Saadoon

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Bagdad: Asap rokok menari-nari di kegelapan, berdansa dengan anyir kakus yang menusuk lubang hidung. Batuk dahak dari ujung ruangan bioskop, saling bersahutan. Kaki diangkat ke kursi, dan dagu disangga kuat. Pemandangan ini terlihat di bioskop Sadoon, yang terletak di jalan Sadoon. Sekitar 25 orang mememuhi gedung bioskop yang cukup terkenal di kota Bagdad itu. "Hampir tiap hari, saya nonton disini," kata Jabar, mahasiswa Fakultas Pendidikan Universitas Bagdad. Biasanya, usai kuliah, Jabar dan teman-temannya nontonbareng di bioskop tersebut. "Kalau sehari tidak nonton,rasanya ada yang kurang," ujar Jabar yang nonton dengan dua orang temannya di suatu sore.Bioskop Sadoon memang menawarkan hiburan murah bagipenghobi nonton macam Jabar. Saat TEMPO menyambangibioskop itu, sebuah film latin sedang diputar.Bintangnya secantik Bella Esperanza di telenovela yanglazim diputar di Indonesia. Cuma bedanya, filmtersebut ditayangkan tanpa sensor. Menurut Hamid, manajer bioskop, maraknya film tanpasensor itu baru terjadi setelah perang usai. Tarif masuknya pun tak mahal, hanya 1.000 Dinar Irak (USD 1 setara ID 1500). "Sebelumnya, bioskop seperti itu, dilarang dan ilegal," katanya. "Sehari bisa mencapai 200 penonton," tambahnya. Entah Hamid jujur atau tidak, yang jelas seluruhbioskop di Bagdad tutup saat perang. Bioskop inilahsatu-satunya pusat perfilman di jalan Sadoon yangsudah beroperasi. Empat lainnya masih tutup atau belumdirenovasi. Malah kursi-kursi di Babel Cinemaberantakan tak terurus di depan bangunan. Selain keduabioskop itu, ketiga yang lain adalah Sindbab, Atlas,dan An Nujum. Nonton film di Bagdad, layaknya Indonesia di tahun1970-an. Dalam satu rol film berdurasi kurang lebih120 menit, istirahatnya tak kurang dari dua kali. Adajeda bagi penonton yang ingin beli minuman ataupunmakan kecil, di kantin yang disediakan pihakmanajemen. Sembari mengunyah makanan atau minum, takjarang mereka ngobrol satu sama lain. "Ayo masuk, sebentar lagi filmnya main," kata Khalaf,si penjaga karcis. Orang ini termasuk rajin menanyaipenonton yang berkeliaran di sekitar gedung. Bahkanketika ada yang keluar dan hendak pulang, ia mencegat,"Tunggu, filmnya kan belum habis." Penonton yangdisapa, cuma senyum tanpa menghentikan langkahnya. Tak segan-segan, Khalaf mengantarkan penonton yangmatanya masih kesulitan melihat di kegelapan, setelahberjalan di tempat terang. Ia gandeng tangan penonton,dibawanya ke kursi yang kosong, dan duduklah tamubioskop tersebut. "Itu bagian dari tanggung jawabsaya," ujarnya. Sehari-hari, bioskop ini mempekerjakan empat orangpegawai. Untuk ukuran bisnis hiburan, manajemennyaterhitung mampat dan ekonomis. Dalam sehari,pendapatan mereka berkisar 150-200 ribu Dinar.Padahal, gaji untuk seluruh pegawai saja tak lebihdari 300 ribu Dinar perbulan. Sayang, Hamid engganmenyebutkan untungnya perbulan. Ia berkilah, "Hitungsendiri saja." Yang jelas, menurutnya, pengeluaranperbulan pihak manajemen mencapai 700 ribu Dinar. Mungkin, Bagdad membutuhkan lebih banyak sinema.Apalagi kalau filmnya seperti yang diputar di bioskopSadoon. Orang bisa lupa bahwa dia sedang berada diBagdad, negeri yang sedang terengah-engah mereparasidirinya akibat porak-poranda dihajar misil. Rommy Fibri (Bagdad)

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.